Buntu! Iran Tolak 15 Poin AS, Balas 5 Tuntutan

Iran-tolak-15-poin-As

MAKLUMAT — Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel belum menunjukkan tanda-tanda gencatan senjata. Kabar terbaru, Presiden AS, Donald J. Trump, menyodorkan 15 syarat untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama empat pekan. Proposal damai tersebut diserahkan melalui Pakistan. Sebaliknya, Iran menolak tegas rencana perdamaian tersebut. Negeri para mullah itu mengajukan lima syarat untuk mengakhiri perang.

“Iran akan mengakhiri perang ketika memutuskan untuk melakukannya dan ketika syarat-syaratnya terpenuhi,” ujar pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya kepada Press TV, Rabu (25/3/2026).

Pernyataan ini mempertegas sikap Iran yang menolak proposal damai yang diajukan pemerintahan Donald Trump, sekaligus menunjukkan bahwa eskalasi konflik belum mendekati titik akhir.

Lima Syarat Iran Akhiri Perang

Dalam penjelasannya, pejabat tersebut mengungkapkan lima syarat utama yang harus dipenuhi sebelum Iran bersedia menghentikan perang:

  • Penghentian total agresi dan serangan terhadap Iran
  • Jaminan konkret agar perang tidak terulang
  • Pembayaran ganti rugi dan kompensasi perang
  • Penghentian konflik di seluruh front, termasuk kelompok sekutu Iran
  • Pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz

Iran menegaskan, tanpa pemenuhan seluruh syarat tersebut, tidak akan ada negosiasi lanjutan.

Baca Juga  Anies Baswedan Soroti Keterlibatan Indonesia di Board of Peace Setelah Serangan AS-Israel ke Iran

Teheran Curiga Diplomasi AS

Iran juga memandang proposal terbaru AS sebagai taktik politik, bukan upaya damai yang tulus. Pengalaman negosiasi sebelumnya pada 2025 disebut sebagai “menipu” karena berujung pada serangan militer.

Ketidakpercayaan ini semakin dalam setelah serangan pada 28 Februari yang, menurut Iran, terjadi di tengah proses diplomasi. Bagi Teheran, setiap tawaran tanpa jaminan konkret hanya akan memperpanjang konflik, bukan menyelesaikannya.

Untuk diketahui, di tengah eskalasi serangan udara antara Israel dan Iran pada Rabu (25/3/2026), upaya diplomasi Amerika Serikat menemui jalan buntu setelah Teheran menolak klaim negosiasi yang disampaikan Presiden Donald Trump.

Seperti dilaporkan Reuters, Donald Trump mengajukan 15 poin gencatan senjata yang disampaikan AS melalui perantara Pakistan.

Sumber yang mengetahui isi proposal menyebutkan rencana tersebut telah dikirim ke Teheran dan pertama kali dilaporkan oleh The New York Times. Namun, respons Iran menunjukkan kecilnya peluang keberhasilan inisiatif tersebut.

AS Tambah Kekuatan Militer

Di sisi lain, ABC melaporkan bahwa Amerika Serikat justru meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Sekitar 1.000 pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 akan segera dikerahkan, menambah sekitar 50.000 personel yang telah berada di Timur Tengah.

Baca Juga  Israel Resmi Masuk Board of Peace, Prabowo Berpotensi Semeja dengan Buronan ICC

Pentagon juga mengirim dua unit marinir tambahan yang diperkirakan membawa sekitar 5.000 marinir dan ribuan pelaut. Langkah ini disebut sebagai strategi Presiden Trump untuk menjaga “fleksibilitas maksimal” dalam menentukan arah kebijakan selanjutnya.

Namun, keputusan mengajukan proposal gencatan senjata justru mengejutkan pejabat Israel yang sebelumnya mendorong AS melanjutkan tekanan militer terhadap Iran.

Dampak Global Kian Terasa

Sementara diplomasi mandek, serangan terus berlangsung. Rudal dan drone Iran menargetkan wilayah Israel dan sejumlah titik strategis di kawasan, sementara serangan udara juga menghantam wilayah Iran.

Ketegangan ini berdampak langsung pada jalur pelayaran internasional, terutama di kawasan strategis yang dikuasai Iran. Gangguan distribusi energi menyebabkan harga bahan bakar melonjak dan menambah tekanan pada ekonomi global.

Di tengah situasi ini, ketidakjelasan pihak yang memiliki otoritas negosiasi di internal Iran semakin memperumit peluang perdamaian. Konflik pun masih jauh dari mereda. ***