MAKLUMAT — Tiga hari berlalu. Senin tanggal 6 April 2026 kabar duka itu hadir dan menjejali banyak grup WhatsApp yang saya ikuti. Gema takziah dan untaian ucapan innalillahi wa inna ilaihi raji’un masih terngiang di relung hati. Kabar duka itu datang pada sore yang tak biasa sepi: Muhammad Mirdasy, sahabat lama saya, telah berpulang ke rahmatullah di Malang. Ia wafat setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, melawan sakit yang akhirnya memenangkan panggilan keabadian. Ada rasa kosong yang mendalam. Bukan sekadar kehilangan teman berdiskusi atau rekan organisasi, melainkan kehilangan seorang saudara seperjuangan yang rekam jejaknya telah terukir sejak awal 2000-an.
Terakhir kali saya berinteraksi secara langsung dengan Mas Mirdasy adalah pada September 2024. Waktu itu kita bersama dalam satu kegiatan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah di Tangerang. Suasana ruang aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Jakarta (FEB UMJ) yang hangat, gelak tawa di sela-sela sesi, serta cara dia menyelipkan humor khas “Arek-arekan” di tengah pembahasan serius tentang politik dan kebijakan publik, semua itu masih segar di memori. Selepas acara, kami janjian untuk terus berjumpa lagi. Tapi seperti kebanyakan kesibukan, pertemuan fisik itu tak kunjung terulang. Namun, kami tetap sering berinteraksi secara online, saling menyapa, bertukar pikiran, dan kadang hanya sekadar mengirim tautan berita dengan satu kalimat singkat: “ini perlu respons kita, kang!”
Kini, panggilan video yang tak pernah terjawab, pesan suara yang terakhir dibaca beberapa pekan lalu, semuanya menjadi saksi bisu bahwa waktu ternyata tidak selalu berpihak pada rencana pertemuan kembali.
Dari Kader Pemuda hingga Panggung Politik
Saya pertama kali berinteraksi dengan Mas Mirdasy ketika kami sama-sama aktif di Pemuda Muhammadiyah. Zaman itu, awal 2000-an, semangat reformasi masih membara, dan organisasi kepemudaan menjadi ruang paling hidup untuk menggagas perubahan. Waktu itu, saya dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) D.I. Yogyakarta, sementara Mas Mirdasy aktif di Provinsi Jawa Timur. Kami adalah dua kader dari dua wilayah berbeda yang dipertemukan oleh idealism yang sama: menjadikan Muhammadiyah sebagai kekuatan moral sekaligus advokasi bagi kaum muda.
Meskipun secara geografis terpisah, Yogyakarta dan Jawa Timur, kami justru sering berjumpa di forum-forum nasional. Saya ingat bagaimana Mas Mirdasy selalu tampil beda. Di antara puluhan kader yang penuh idealisme membara, ia hadir dengan kepala dingin dan data. Di dalam forum Mas Mirdasy terlihat pendiam dan dingin, meskipun sebenarnya Ia adalah tipe orator yang menggelegar di atas panggung, serta penyusun strategi dan kalkulasi yang jarang membuat kesalahan perhitungan. Sifat itu pula yang kelak membawanya menjadi politisi dan anggota DPRD Jawa Timur.
Bagi sebagian orang, transisi dari aktivis pemuda menjadi politisi sering dianggap sebagai “pengkhianatan idealisme.” Tapi Mas Mirdasy membalik logika itu. Baginya, politik adalah alat advokasi yang paling strategis. Jabatannya sebagai anggota DPRD Jawa Timur bukan sekadar kursi kekuasaan, melainkan ruang untuk memperjuangkan aspirasi warga, khususnya warga Muhammadiyah dan kaum muda di Jawat Timur. Maka ketika ia kemudian dipercaya memimpin LHKP Jawa Timur, saya merasa itu adalah kombinasi yang sempurna: seorang politisi yang paham dinamika DPRD dan politik lokal, sekaligus kader Muhammadiyah yang hafal dengan peta problem umat.
Posisinya sebagai Ketua LHKP Jawa Timur terasa sangat pas dan strategis. Ia mampu mengadvokasi para pemuda dan politisi Muhammadiyah, memberikan pemahaman bahwa politik bukan sekadar meraih kekuasaan, tetapi juga menjaga amanah. Ia kerap mengingatkan bahwa seorang politisi Muhammadiyah harus menjadi uswatun hasanah, teladan yang baik. Lewat LHKP, ia mengawal kebijakan publik, menegakkan suara moral di hadapan negara, dan memastikan bahwa kepentingan warga Muhammadiyah, yang mayoritas adalah warga biasa, tidak tergadai dalam pusaran politik nasional dan lokal.
Spirit dan moralitas seperti itu juga yang dibawanya ketika merintis dan mengembangkan agen berita online, Maklumat.id di jawa Timur. Media ini dikelolanya dengan mengajak dan memberdayakan anak muda Muhammadiyah bertalenta di Jawa Timur. Tangan dinginnya telah membawa media online ini pelan-pelan menaiki tangga menuju puncak perhatian publik.
Kenangan di Rumah Sekum: Menjelang Menteri Baru
Ada satu kenangan yang tidak akan pernah bisa saya lupakan. Beberapa hari sebelum nama Mas Abdul Mu’ti (Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah) diumumkan sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) dalam kabinet baru yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto, kami sempat berkumpul di rumah beliau. Suasana hangat khas pertemuan teman lama sesama mantan aktivis Pemuda Muhammadiyah. Mas Mirdasy hadir dengan caranya yang khas: senyum sumringah, duduk nyaman berdampingan dengan Saya, tetapi tetap menjadi pusat perhatian ketika ia mulai berbicara yang kaya jokes dan nyerempet-nyerempet.
Pagi itu, obrolan kami mengalir dari isu kebijakan pendidikan, dinamika koalisi pemerintahan, hingga candaan-candaan ringan. Mas Mirdasy bercerita tentang pengalamannya di DPRD Jatim, bagaimana ia belajar bahwa politik itu kadang “kotor,” tapi justru di sanalah Muhammadiyah harus hadir sebagai pembersih.
“Kang, kalau kita tidak masuk ke politik, maka politik akan diisi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” katanya sambil menyeduh teh nasgithel (panas, legim kenthel) suguhan keluarga Mas Sekum.
Saya hanya tersenyum. Sebagai mantan sekretaris wilayah Pemuda Muhammadiyah D.I. Yogyakarta dulu, saya sering mendengar narasi serupa darinya. Tapi pagi itu, di rumah Sekum, menjelang pengumuman sebuah kabinet baru terbentuk, kata-katanya terasa lebih berbobot. Ia seolah sedang menuliskan sebuah amanat: bahwa perjuangan melalui pemerintahan dan jalur politik adalah jalan panjang yang harus terus ditempuh, jangan berhenti di tengah jalan.
Ketika beberapa hari kemudian nama Pak Sekum benar-benar diumumkan sebagai menteri, saya langsung mengirim pesan ke Mas Mirdasy. “Mantap, Cak. Doa kita satu langkah lebih dekat.” Balasannya singkat: “Lanjutkan, Kang. Ini baru awal.” Sampai sekarang saya juga masih menunggu ujung kalimat dan makna tersirat dari pesan Mas Mirdasy tersebut.
Kini, pesan itu masih tersimpan di ponsel saya. Saya kadang membukanya, membaca ulang, dan merasakan lagi getar semangat yang dulu ia pancarkan.
Dua Puluh Tahun Kebersamaan: Jejak Kebaikan yang Tak Terputus
Dua puluh tahun lebih perjalanan persahabatan kami. Rasanya seperti baru kemarin kita masih sibuk dengan rapat-rapat Pemuda Muhammadiyah di aula-aula kecil, bahkan di lorong-lorong asrama tempat perhelatan acara, bergulat dengan tata tertib rapat dan penyusunan program kerja yang ambisius. Dua puluh tahun, cukup lama untuk melihat seseorang berubah, dari kader muda yang energik menjadi politisi matang, dari aktivis yang sering gerah dengan birokrasi menjadi anggota DPRD yang justru menguasai alur birokrasi.
Namun, satu hal yang tidak pernah berubah dari Mas Mirdasy adalah integritasnya. Di tengah politik transaksional yang kadang membuat miris, ia tetap berpegang pada prinsip. Ia bisa saja memperkaya diri, melompat dari satu partai ke partai lain demi keuntungan pribadi, tapi ia tidak melakukannya. Ia tetap setia pada jalan perjuangan yang ia yakini: membela kepentingan rakyat, mengadvokasi pemuda, dan menjaga nama baik Muhammadiyah.
Saya ingat bagaimana ia kerap dipanggil untuk memberi pembekalan bagi calon legislatif muda dari Muhammadiyah. Dengan sabar ia menjelaskan tentang etika politik, tentang bagaimana menjadi wakil rakyat yang sesungguhnya, tentang pentingnya menjaga amanah.
“Jangan jadi politisi yang hanya pintar janji, tapi jadi politisi yang pintar kerja,” itu salah satu kalimat favoritnya yang ia ulang di berbagai kesempatan.
Kesan kebaikannya juga terekam dalam banyak interaksi kecil. Pernah suatu kali saya sedang kebingungan mencari data tentang sebuah kebijakan daerah yang diskriminatif terhadap pendidikan swasta. Belum sempat saya meminta tolong, tiba-tiba ponsel berdering. “Kang, saya dengar teman-teman di Yogya lagi butuh data ini. Ini sudah saya kumpulkan, tolong disebarkan.” Begitulah Mas Mirdasy: selalu proaktif, selalu ingin membantu tanpa perlu diminta.
Dalam dunia yang semakin individualistis, sifat seperti itu menjadi langka. Ia tidak pernah menghitung-hitung keuntungan dari sebuah pertolongan. Baginya, membantu sesama kader, sesama aktivis, adalah bagian dari ibadah dan wujud dari Al-Ma’un, menolong orang lain yang membutuhkan.
Kehilangan yang Tak Tergantikan
Tiga hari ini, saya berusaha merangkai kenangan. Namun setiap kali saya membuka file lama, foto-foto rapat, atau membaca chat kami yang terakhir, ada rasa yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar kesedihan karena kehilangan seorang sahabat, melainkan juga kekhawatiran: siapa lagi yang akan sekeras dia mengadvokasi pemuda Muhammadiyah? Siapa lagi yang akan sepandai dia membaca peta politik dan memberi masukan strategis? Siapa lagi yang akan seramah dia dalam menyapa dan sehangat dia dalam berbagi?
Saya tahu, organisasi terus berjalan. Kader-kader baru akan lahir, politisi-politisi muda akan muncul, dan LHKP akan tetap bergerak. Tapi kehadiran Mas Mirdasy memberikan warna yang khas. Ia adalah kombinasi langka antara ketegasan seorang advokat dan keramahan seorang kawan seperjuangan. Ia bisa berbicara dengan gubernur atau menteri dengan santai, tapi juga bisa duduk berjam-jam mendengarkan keluhan warga kecil di pinggiran kota.
Kepergiannya meninggalkan ruang yang hampa. Di setiap diskusi tentang politik dan kebijakan publik, saya akan merindukan analisis tajamnya. Di setiap pertemuan LHKP, saya akan merindukan canda tawanya. Di setiap kali saya membuka ponsel, saya akan merindukan notifikasi pesan darinya yang dimulai dengan “Romo, piye kabare?”
Selamat Jalan, Cak . . .
Kepada-Mu ya Allah, kami serahkan segala urusan. Engkaulah Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Mu. Muhammad Mirdasy telah selesai mengemban amanah di dunia. Ia telah berjuang, ia telah mengabdi, ia telah menjadi sahabat, guru, dan saudara bagi banyak orang.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu. Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia, dan maafkanlah segala kesalahannya. Terimalah segala amal ibadahnya, lapangkanlah kuburnya, dan tempatkanlah ia di sisi-Mu sebaik-baik tempat kembali.
Selamat jalan, Mas Mirdasy. Selamat jalan, Cak… Terima kasih untuk 20 tahun lebih persahabatan yang penuh makna. Terima kasih untuk semua kebaikan yang engkau tinggalkan. Kami yang masih tinggal di dunia ini hanya bisa melanjutkan perjuangan yang telah kau rintis. Semoga Allah mempertemukan kita kembali di surga-Nya kelak, dalam keadaan yang lebih baik, tanpa batas ruang dan waktu.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Sungguh, semua yang bernyawa akan kembali kepada-Nya. Dan sungguh, setiap kepergian menyisakan luka. Tapi luka ini akan kami rawat menjadi semangat: untuk terus berbuat baik, untuk terus mengadvokasi kebenaran, dan untuk terus menjadi seperti Mas Mirdasy—sahabat yang selalu hadir, bahkan ketika raga telah tiada.
Selamat jalan, sahabatku. Kami sangat menyayangimu karena Allah. Dan kepada Allah-lah kita semua akan kembali.













