MAKLUMAT — Konflik geopolitik di berbagai kawasan dunia, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, kembali mengingatkan bahwa dunia modern masih jauh dari cita-cita perdamaian yang berkelanjutan. Dalam banyak diskursus publik, pertanyaan yang sering muncul adalah: siapa yang benar dan siapa yang salah? Namun, pertanyaan ini sering kali terlalu sederhana untuk menjelaskan kompleksitas konflik global yang sarat kepentingan, sejarah, dan dinamika kekuasaan.
“Dalam kerangka ini, penggunaan kekuatan militer, intervensi, bahkan pelanggaran terhadap kedaulatan negara lain hingga pelanggaran terhadap hukum internasional sering kali dianggap sebagai hal yang dapat dibenarkan selama itu melayani kepentingan nasional.“
Dalam kajian hubungan internasional, pendekatan realisme telah lama mendominasi cara pandang terhadap konflik. Realisme berangkat dari asumsi bahwa negara adalah aktor rasional yang mengejar kepentingan nasionalnya dalam sistem internasional yang anarkis. Dalam kerangka ini, penggunaan kekuatan militer, intervensi, bahkan pelanggaran terhadap kedaulatan negara lain hingga pelanggaran terhadap hukum internasional sering kali dianggap sebagai hal yang dapat dibenarkan selama itu melayani kepentingan nasional. Namun, pendekatan ini memiliki keterbatasan mendasar: ia menjelaskan bagaimana negara bertindak, tetapi tidak selalu memberikan panduan tentang bagaimana seharusnya negara bertindak.
Di sinilah perspektif Islam Berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah menawarkan pendekatan alternatif. Islam Berkemajuan tidak menolak realitas politik global yang kompleks, tetapi menempatkan nilai-nilai etis sebagai fondasi dalam menilai dan merespons konflik. Dalam perspektif ini, pertanyaan utama bukan sekadar siapa yang benar atau salah, melainkan apakah tindakan yang dilakukan mencerminkan keadilan, kemanusiaan, dan upaya menuju perdamaian.
“Islam Berkemajuan tidak menolak realitas politik global yang kompleks, tetapi menempatkan nilai-nilai etis sebagai fondasi dalam menilai dan merespons konflik.“
Al-Qur’an menegaskan pentingnya keadilan bahkan dalam situasi konflik, termaktub dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 8, yang artinya: “Dan janganlah kebencian terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” Ayat ini memberikan prinsip fundamental bahwa keadilan tidak boleh dikorbankan atas nama kepentingan, bahkan dalam menghadapi pihak yang dianggap sebagai lawan. Dalam konteks konflik global, ini berarti tindakan militer, kebijakan luar negeri, maupun intervensi harus dinilai berdasarkan standar keadilan, bukan semata-mata kepentingan strategis.
Selain keadilan, Al-Qur’an juga memberikan peringatan keras terhadap tindakan yang menimbulkan kerusakan di muka bumi yang termaktub dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 11 yang menegaskan: “Apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi”.” Dalam konteks perang modern, kondisi ini tidak hanya berdampak pada kerusakan aktor negara semata, tetapi juga membawa konsekuensi luas bagi warga sipil, lingkungan, dan stabilitas global. Eskalasi konflik yang berkepanjangan sering kali menghasilkan penderitaan kemanusiaan yang masif, mulai dari korban jiwa, krisis pengungsi, hingga naiknya harga energi serta rantai pasokan ekonomi dunia yang terhambat karena globalisasi yang tak terelakkan mendorong saling ketergantungan antarnegara. Dalam perspektif Islam, tindakan yang menimbulkan kerusakan seperti ini tidak dapat dibenarkan sebagai solusi jangka panjang.
“Dalam konteks perang modern, kondisi ini tidak hanya berdampak pada kerusakan aktor negara semata, tetapi juga membawa konsekuensi luas bagi warga sipil, lingkungan, dan stabilitas global.“
Lebih jauh, Al-Qur’an menegaskan bahwa perdamaian harus menjadi orientasi utama dalam hubungan antar manusia atau negara yang termaktub dalam Surah Al-Anfal (8) ayat 61, yang memesankan: “Jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya.” Ayat ini memberikan arahan yang jelas bahwa setiap peluang untuk mencapai perdamaian harus diutamakan. Dalam konteks konflik seperti antara Amerika Serikat dan Iran, pendekatan de-eskalasi, dialog, dan diplomasi menjadi jauh lebih relevan dibandingkan dengan penggunaan kekuatan militer.
Pendekatan ini berbeda secara mendasar dari logika realisme. Jika realisme menempatkan kepentingan nasional sebagai orientasi utama, maka Islam Berkemajuan menempatkan kemaslahatan global sebagai tujuan yang lebih tinggi. Kepentingan nasional tetap diakui, tetapi tidak boleh dijalankan dengan cara yang merusak keadilan dan kemanusiaan. Dengan kata lain, kepentingan harus dijalankan secara bermartabat.
“Dalam berbagai peristiwa, Rasulullah menunjukkan bahwa konflik bukanlah tujuan, melainkan kondisi yang harus dikelola dengan bijak.“
Nilai-nilai ini bukan hanya bersifat normatif, tetapi juga memiliki dasar dalam praktik kehidupan Nabi Muhammad Saw. Dalam berbagai peristiwa, Rasulullah menunjukkan bahwa konflik bukanlah tujuan, melainkan kondisi yang harus dikelola dengan bijak. Perjanjian Hudaibiyah, misalnya, menunjukkan bagaimana Rasulullah memilih jalan damai meskipun secara jangka pendek tampak tidak menguntungkan. Namun dalam jangka panjang, pendekatan tersebut justru membuka ruang bagi stabilitas dan perkembangan masyarakat yang lebih luas.
Selain itu, Rasulullah juga membangun masyarakat Madinah yang plural melalui Piagam Madinah yang menjamin kebebasan beragama dan kerja sama antarkomunitas. Ini menunjukkan bahwa hubungan antarkelompok yang berbeda dapat dibangun di atas prinsip keadilan dan kesepakatan bersama, bukan dominasi satu pihak atas yang lain.
Dalam konteks kontemporer, nilai-nilai ini menemukan relevansinya dalam konsep Muhammadiyah Diplomacy. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam Berkemajuan Sebagian besar tidak terlibat secara langsung dalam politik global, tetapi memainkan peran penting sebagai aktor non-negara dalam diplomasi kemanusiaan, pendidikan, dialog lintas budaya, hingga normative actor. Pendekatan ini menunjukkan bahwa hubungan internasional tidak harus selalu didominasi oleh negara dan kekuatan militer, tetapi juga dapat dibangun melalui interaksi masyarakat sipil yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui berbagai kegiatan kemanusiaan lintas negara, Muhammadiyah menunjukkan bahwa solidaritas global dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat di tengah konflik. Bantuan kemanusiaan, kerja sama pendidikan, dialog antaragama serta dalam membumikan prinsip amar makruf (promoting global good) dan nahi munkar (preventing global injustice) menjadi bentuk konkret dari upaya membangun perdamaian yang berkelanjutan. Inilah yang membedakan Muhammadiyah Diplomacy dari pendekatan konvensional: ia tidak berbasis pada kekuasaan, tetapi pada nilai.
“Melalui berbagai kegiatan kemanusiaan lintas negara, Muhammadiyah menunjukkan bahwa solidaritas global dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat di tengah konflik.“
Islam Berkemajuan menawarkan perspektif tersebut dengan menempatkan keadilan, perdamaian, dan kemaslahatan sebagai orientasi utama. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, pendekatan ini menjadi semakin relevan. Pertanyaan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah mungkin tidak selalu memiliki jawaban yang sederhana. Namun, yang jelas, setiap tindakan yang mengabaikan keadilan, memperbesar kerusakan, dan menjauhkan perdamaian harus dikritisi. Sebaliknya, setiap upaya yang mengedepankan dialog, keadilan, dan kemanusiaan adalah langkah menuju tata dunia yang lebih berkeadaban.
Sehingga penilaian terhadap konflik tidak dilakukan berdasarkan identitas aktor, tetapi berdasarkan tindakan yang dilakukan. Siapa pun yang melampaui batas, melakukan agresi, atau mengabaikan keadilan berada dalam posisi yang harus dikritisi. Sebaliknya, pihak yang berupaya menjaga keadilan, menghindari eskalasi, dan membuka ruang dialog berada dalam posisi yang lebih mendekati nilai-nilai etis yang diajarkan Islam.
“Lalu bagaimana seharusnya konflik global seperti ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran diakhiri?“
Lalu bagaimana seharusnya konflik global seperti ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran diakhiri? Dalam perspektif Islam Berkemajuan, ada beberapa prinsip yang dapat dijadikan acuan. Pertama, de-eskalasi konflik harus menjadi prioritas. Penggunaan kekuatan militer hanya akan memperpanjang siklus kekerasan dan memperbesar dampak kemanusiaan. Kedua, dialog dan diplomasi harus diutamakan sebagai sarana penyelesaian konflik. Ketiga, pendekatan kemanusiaan harus diperkuat untuk melindungi masyarakat sipil yang menjadi korban utama dalam konflik. Keempat, peran aktor non-negara seperti organisasi masyarakat sipil perlu diperkuat untuk membangun jembatan komunikasi dan kepercayaan.
“Di tengah kerasnya politik global, masih ada ruang bagi nilai untuk berbicara dan bagi kemanusiaan untuk menjadi dasar dalam membangun masa depan dunia.”
Pada akhirnya, konflik global tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan kekuasaan. Dunia membutuhkan fondasi moral yang mampu menyeimbangkan kepentingan dengan kemanusiaan. Di sinilah Islam Berkemajuan dan Muhammadiyah Diplomacy menawarkan harapan: bahwa di tengah kerasnya politik global, masih ada ruang bagi nilai untuk berbicara dan bagi kemanusiaan untuk menjadi dasar dalam membangun masa depan dunia.














