PP Muhammadiyah Serukan Efisiensi, Seluruh Kantor Persyarikatan Wajib Hemat Listrik dan Air

PP Muhammadiyah gaya hidup hemat

MAKLUMAT — PP Muhammadiyah  menyerukan budaya hidup hemat kepada seluruh elemen Persyarikatan. Seruan itu tertuang dalam Surat Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 5/EDR/I.0/B/2026 tentang Imbauan Efisiensi dan Budaya Hidup Hemat, yang diterbitkan di Yogyakarta pada 21 April 2026 dan ditandatangani Ketua Umum Haedar Nashir bersama Sekretaris Muhammad Sayuti.

Dalam edaran tersebut, PP Muhammadiyah menilai situasi ekonomi nasional dan global perlu disikapi dengan kebijaksanaan bersama. Karena itu, seluruh pimpinan Persyarikatan di setiap tingkatan diminta menerapkan prinsip kehati-hatian dan efisiensi, baik dalam pengelolaan anggaran, pelaksanaan program, maupun pola hidup sehari-hari.

Edaran itu ditembuskan kepada Kantor PP Muhammadiyah Jakarta, seluruh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, unsur pembantu pimpinan, organisasi otonom tingkat pusat, Amal Usaha Muhammadiyah, hingga badan usaha milik Muhammadiyah.

Organisasi Besar, Gerak Harus Terukur

Langkah efisiensi ini datang ketika Muhammadiyah telah tumbuh menjadi salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia dan dunia. Persyarikatan Muhammadiyah berdasarkan data 2023 lalu, memiliki 35 Pimpinan Wilayah, 475 Pimpinan Daerah, 3.947 Pimpinan Cabang, 14.670 Pimpinan Ranting, serta 30 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di berbagai negara.

Muhammadiyah juga menaungi 172 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah, 122 rumah sakit, 231 klinik, 5.345 sekolah dan madrasah, 1.012 amal usaha sosial, serta 440 pesantren Muhammadiyah.

Baca Juga  Tiga Pesan Penting Haedar Nashir pada Apel Akbar KOKAM di Yogyakarta

Jejak global Muhammadiyah juga terus berkembang, mulai dari Universiti Muhammadiyah Malaysia, Muhammadiyah Australia College, hingga TK ABA di Kairo dan sekolah darurat bagi pengungsi Palestina di Lebanon.

Dengan jaringan sebesar itu, efisiensi bukan semata penghematan, tetapi strategi menjaga keberlanjutan gerakan.

Pangkas Seremonial, Batasi Agenda Mahal

Salah satu poin utama dalam edaran ialah dorongan agar Persyarikatan memprioritaskan program strategis yang berdampak langsung, sambil mengurangi kegiatan seremonial yang dinilai kurang mendesak.

Muhammadiyah juga meminta acara regional maupun nasional berbiaya tinggi mulai dibatasi, termasuk kunjungan langsung yang dapat diganti dengan koordinasi daring.

Frekuensi perjalanan luar negeri untuk agenda non-prioritas pun diminta dikurangi, terutama jika melibatkan pihak yang tidak memiliki kepentingan langsung.

Arah kebijakan ini menandai perubahan: dari mobilitas tinggi menuju efisiensi berbasis kebutuhan nyata.

Hemat Energi, Bangun Budaya Hidup Cukup

Tak berhenti pada agenda organisasi, seruan efisiensi juga menyentuh praktik keseharian.

Muhammadiyah mendorong penghematan air, listrik, dan energi di kantor, gedung, serta ruang kerja. Penggunaan panel surya disebut sebagai salah satu alternatif yang dapat mulai diadopsi.

Lebih jauh, Persyarikatan menguatkan budaya hidup cukup, sehat, bersih, dan produktif—selaras dengan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah dan Risalah Islam Berkemajuan.

Baca Juga  Muhammadiyah Desak PBB Akhiri Ketegangan Palestina-Israel, Siap Kirim Relawan dan Bantuan

Bagi Muhammadiyah, hidup hemat bukan sekadar menekan pengeluaran. Ia adalah disiplin moral organisasi: menjaga kemandirian, memperkuat ketahanan gerakan, dan memastikan ikhtiar menyelamatkan semesta tetap berjalan dalam langkah yang terukur.***