Bukan Kebetulan, Ini Alasan Ekonomi Indonesia Tumbuh Lampaui China dan Korea Selatan

Menko Perekonomian Arilangga Hartarto menjelaskan pertumbuhan ekonomi

MAKLUMATEkonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen (year on year) pada triwulan I-2026  bukan sekadar angka statistik. Capaian ini menempatkan Indonesia melampaui laju pertumbuhan sejumlah negara anggota G20, termasuk China dan Korea Selatan, sekaligus berada di atas proyeksi berbagai lembaga internasional.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, kinerja tersebut menunjukkan fundamental ekonomi nasional tetap solid. Pemerintah menilai capaian ini bukan kebetulan, melainkan hasil kombinasi konsumsi domestik yang kuat, belanja negara yang agresif, serta serangkaian stimulus ekonomi yang tepat sasaran.

Pendorong utama pertumbuhan datang dari konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen, ditopang momentum Ramadan dan Idulfitri yang mendongkrak daya beli sekaligus mobilitas masyarakat. Aktivitas ekonomi juga diperkuat realisasi belanja negara yang mencapai Rp815 triliun atau 21,2 persen dari APBN, termasuk percepatan belanja kementerian/lembaga dan implementasi program Makan Bergizi Gratis yang telah menyerap anggaran Rp51 triliun hingga Maret 2026.

Tak hanya itu, berbagai stimulus pemerintah ikut memberi dorongan tambahan, mulai dari diskon tarif transportasi, penyaluran THR ASN, hingga insentif yang memicu perputaran ekonomi di sektor riil.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut indikator ekonomi terkini juga memperlihatkan prospek yang tetap positif.

Baca Juga  Leaders Declaration di KTT BRICS, Indonesia Dorong Arah Baru Kerja Sama Global

“Inflasi April sebesar 2,42 persen, kembali berada dalam target. Kemudian Indeks Keyakinan Konsumen di level 122,9, neraca dagang surplus USD3,32 miliar, dan ini sudah 71 bulan berturut-turut surplus. Dana pihak ketiga tumbuh 13,55 persen, sementara kredit tumbuh 9,49 persen secara tahunan,” ujar Airlangga dalam keterangan tertulis, Selasa (5/5).

Di sektor sosial, kualitas pertumbuhan juga menunjukkan perbaikan. Dalam setahun terakhir, Indonesia mencatat tambahan 1,89 juta tenaga kerja, sehingga total penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka turun dari 4,76 persen menjadi 4,68 persen.

Pada saat yang sama, tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen, sementara Rasio Gini membaik ke level 0,363, menandakan distribusi kesejahteraan yang semakin merata.

Berbagai program pembiayaan pemerintah juga menjadi mesin penggerak ekonomi. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sudah mencapai Rp96,18 triliun, disusul kredit alsintan, kredit industri padat karya, dan kredit perumahan yang menopang aktivitas produktif di berbagai sektor.

Ke depan, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah lanjutan untuk menjaga momentum pertumbuhan menuju target 5,4 persen sepanjang 2026, antara lain penyaluran gaji ke-13 ASN, bantuan pangan bagi 33,2 juta keluarga penerima manfaat, subsidi energi sebesar Rp356,8 triliun, program 3 juta rumah, hingga implementasi mandatori B50 dan percepatan energi baru terbarukan.***

Baca Juga  Keputusan Rapimnas 2, Golkar Usulkan Gibran Dampingi Prabowo Subianto