Saya Memanggilnya Sinyo Mirdasy

Penulis: Dr. Moh. Sulthon Amien, M.M. *)

MAKLUMAT — Muhammad Mirdasy. Saya memanggilnya Sinyo Mirdasy. Ketika itu, anak-anak Panti Asuhan Nurul Azhar berkumpul di masjid. Saya melihat gesturnya, senyumannya yang khas—lebar, memperhatikan sebelum berbicara—ditambah kulitnya yang putih bersih. Saya langsung menebak, itu putra Ustaz Abdurrahim Nur. Seorang teman yang tahu persis keluarga besar Ustaz mengiyakan tebakan saya.

Setelah saya pindah ke Surabaya dan tidak rutin lagi mengikuti pengajian tafsir Ustaz, kami tak pernah bertemu. Saya mendengar ia kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Baru setelah aktif di Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Jawa Timur, sekitar tahun 1995, saya sering berdiskusi dengannya. Apalagi kami sama-sama berasal dari Sidoarjo, dan ia tahu saya adalah murid kalong ayahnya.

M Sulthon Amien
Foto kenangan Dr. M Sulthon Amien bersama almarhum M Mirdasy semasa hidup (kiri). (Foto: Dok PWMU)

Interaksi kami makin intens ketika beberapa fungsionaris PWPM rutin menggelar diskusi kecil, sering kali di rumah. Sederet nama ikut dalam forum itu: Mas Yoto, Mas Tamhid, Mas Mirdasy, Mas Nidlom, Mas Hamam, dan lainnya. Obrolan anak muda yang gayeng melebar ke mana-mana—penuh gagasan, penuh semangat, banyak maunya. Fokus diskusi sebenarnya menunggu detik-detik kejatuhan Orde Baru.

Dari lingkaran itu, tersisa tiga nama—Mas Yoto, Tamhid, dan Mirdasy—ditambah beberapa orang di luar Pemuda Muhammadiyah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya sekolah inovatif berbasis alam, Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya.

Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) pernah menyelenggarakan Gebyar Apel Akbar Jawa Timur, dan dampaknya luar biasa. Pemuda Muhammadiyah sebagai barisan AMM mampu unjuk gigi di Lapangan Gelora 10 November, Tambaksari, Surabaya.

Saya ikut larut, bukan semata karena masih muda. Sosok yang dijadikan ikon acara saat itu adalah Amien Rais, figur yang tak pernah lelah menggempur kemapanan Soeharto, presiden yang berkuasa selama tujuh periode.

Saya kebagian tugas mengawal Amien Rais, menjemput beliau, transit di rumah, lalu bersama menuju Kantor Gubernur di Jalan Pemuda. Di gubernuran telah menunggu rombongan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman, Kapolda, Pangdam, Pangartim, serta Ketua PWM Jawa Timur Ustaz Abdurrahim Nur beserta jajaran.

Baca Juga  Silaturahmi ke Kantor PWM Jatim, Risma Mengaku Dekat dengan Muhammadiyah

Momen itu menjadi panggung bagi M. Mirdasy untuk naik tangga. Kiprahnya makin moncer. Sosok leadership, vokal, berintegritas, tetapi tetap tawaduk mulai tampak. Jati dirinya memiliki fondasi kuat sebagai representasi kaum muda persyarikatan yang melesat ke dunia politik.

Partisan

Menjadi fungsionaris Partai Persatuan Pembangunan (PPP) adalah harga mati baginya. Dari PPP itulah ia meraih kursi di DPRD Tingkat I Jawa Timur (kini DPRD Provinsi Jawa Timur).

Para kader senior yang berdiaspora di partai berlambang kakbah menempa dirinya sedemikian rupa. Ia tetap menggandoli kapalnya, meski kapal itu mulai oleng dihantam ombak reformasi.

Saya pernah merayunya—tentu atas izin ayahandanya—agar ikut berlayar ke partai baru besutan Amien Rais. Jawa Timur membutuhkannya. Belum banyak kader yang se-humble dirinya, berpengalaman menahkodai kendaraan politik umat.

Namun akhirnya ia kandas juga. Ia tak mampu bertahan di posisi minoritas berhadapan dengan kubu yang mengandalkan jumlah. Ia tersingkir, membawa beban sejarah perjalanan perjuangan—seagama, tetapi berbeda visi.

Syahwat politiknya rupanya tak mudah luntur. Ia tak kapok. Ia kemudian berlabuh di partai Surya Paloh, NasDem, dan menjabat Wakil Sekretaris DPW NasDem Jawa Timur. Namun rumah kedua itu hanya bertahan dua tahun. Penyebab utamanya tak pernah bocor ke telinga kuli tinta.

Mungkin ia belum terbiasa dengan kultur partai terbuka. Padahal, perbedaan di PPP juga cukup tajam antar faksi.

Namun rasanya bukan itu persoalannya. Sebab kemudian ia bergeser ke partai yang lebih terbuka lagi, yang diinisiasi Hary Tanoesoedibjo. Ia tampak lebih kerasan di Perindo, mungkin karena banyak kader AMM berdiaspora di partai berlambang Garuda itu.

“Kutu Loncat”?

Sebutan ini lazim disematkan kepada orang yang gemar berpindah tempat dalam mengais rezeki—tak kerasan di satu tempat, lalu hengkang ke tempat yang dianggap lebih menjanjikan.

Julukan itu juga kerap diberikan kepada aktivis partai yang dianggap mencari kepuasan politik tanpa ujung.

Demikian pula Mas Mirdasy mendapat label “kutu loncat”.

Bagi yang tak suka melihat kiprahnya berganti-ganti partai, ia dianggap tak punya pendirian. Visinya dinilai mudah berubah. Atau sekadar ingin selamat, menumpang pada sandaran hidup baru.

Baca Juga  Mendikdasmen Belajar Tafsir Anggaran Gaya Kecap

Saya melihat karakternya tidak setragis itu.

Perjalanan politiknya yang berliku sering ia diskusikan dengan saya. Karier sebagai politisi bukan pilihan sembarang orang—menggiurkan sekaligus memprihatinkan. Dunia abu-abu ini penuh intrik, sarat kompetisi tak sehat. Istilah ngepop-nya: rebutan balung tanpa isi.

Insya Allah, kader yang satu ini jauh dari gambaran itu.

Pernah suatu kali kami semobil dari Surabaya menuju Pandaan. Setelah melewati Tol Porong menuju Tol Pandaan, kami melintasi jalan dengan bukit-bukit yang dikepras demi proyek tol. Jalanan becek, ada genangan air, dan dinding penahan kerap ambrol meski sudah berkali-kali diperbaiki.

Dengan mimik serius ia berkata:

“Kalau saya masih menjadi anggota dewan, situasi seperti ini tidak akan terjadi. Saya akan teriak lantang dan tidak akan tanda tangan pembangunan jalan tol yang potretnya seperti ini. Bagaimana amdalnya dulu? Seperti apa hasilnya?”

Meniti Karier

Karier Mas Mirdasy terus berkembang.

Selain di dunia politik, ia tetap konsisten di dunia kampus. Tempaan organisasi sejak muda—dari pelajar hingga aktif di Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah—membentuk kedewasaan berpikir dan bertindak. Tak heran ia dipercaya memegang jabatan Pembantu Rektor III Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Saya ikut senang ketika ia ingin melanjutkan kuliah S2 di FISIP Universitas Airlangga, bahkan meminta dipertemukan dengan Prof. Fasichul Lisan. Pilihan jurusannya linier dengan pendidikan S1 dan sesuai pula dengan karier yang ditekuninya.

Saya membaca hasrat itu bukan sekadar mengejar gelar. Ketika itu, masih jarang politisi mau kembali kuliah demi memperdalam landasan teoritis bagi praktik politiknya.

Dan ia membuktikannya: serius berkuliah, menjalani beberapa semester. Namun di tengah jalan, ia terkendala kewajiban hadir minimal 80 persen. Saat itu belum ada kuliah daring, hybrid, apalagi RPL.

Ketika mulai vakum dari politik, ia mencoba menjadi profesional di dunia usaha. Kebetulan kantor kami, Laboratorium Parahita Bandung, membutuhkan pimpinan cabang. Selama dua tahun ia mampu menjalani bisnis kesehatan—dunia baru baginya.

Namun hidup sendiri di luar kota membuatnya kurang nyaman. Akhirnya ia ditarik ke kantor pusat di Surabaya sebagai staf ahli HRD.

Baca Juga  Kabar Duka, dr. Mutadi Sang Pejuang Persyarikatan itu Telang Berpulang

Mas Mirdasy bukan tipe orang yang bisa duduk manis di belakang meja. Aktivitas luar yang seabrek membuatnya sulit fokus pada rutinitas kantor. Ia selalu mencari keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan ruhani.

Yang menjadi beban adalah kondisi fisiknya yang kian menurun. Saya merasakannya, tetapi tak menyangka ia akan pergi secepat itu.

Padahal intelektualnya masih prima. Daya kritisnya selalu tajam. Bahkan ada ketua partai di Jakarta yang ingin merekrutnya menjadi fungsionaris partai dan mempersiapkannya sebagai calon legislatif DPR RI dengan dukungan penuh.

Saya mendorongnya. Di Senayan, kader persyarikatan memang belum banyak.

Namun ia memilih jalan lain: tetap berkhidmat di persyarikatan.

Buku Tafsir

Menjelang akhir 2025, saya mengajaknya mengumpulkan kembali murid-murid yang pernah mengaji tafsir kepada ayahnya, untuk merajut ulang penafsiran yang telah berserakan.

Ia menyambut antusias. Itu memang cita-citanya sejak lama.

Diselenggarakanlah reuni sekaligus pengajian Ahad pagi. Saya ikut menjadi pemateri, memantik gerakan melestarikan buah tafsir sang ayah.

Dirumuskan penulisan buku berisi kenangan, kesan, dan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an. Pengalaman para murid yang mendapat pencerahan dari satu dua ayat ditulis kembali sebagai bagian dari buku itu.

Saya terus menagih realisasinya.

Kini saya baru paham, mengapa ada ganjalan yang membuat langkah itu tak kunjung cepat.

Saya pernah berkata, “nanti akan saya usulkan di rapat PWM Jawa Timur, meminta dukungan Prof. Sukadiono.”

Saya juga mengajaknya bertemu Prof. Biyanto, yang menyambut ide itu dengan hangat.

“Saya dulu di IAIN pernah mendapat kuliah dari beliau. Menarik. Kelasnya tidak muat karena mahasiswa lain ikut masuk. Malah yang punya jadwal resmi tidak kebagian tempat.”

Diskusi itu akhirnya terjadi.

Ketika saya datang, saya bertanya, “Bagaimana, Dik?”

Ia menjawab singkat:

“Ini ada Prof. Bi. Saya tidak meneruskan karena sudah paham, dan sebelumnya sudah diskusi lama.”

Kini saya menangkap makna lain dari kalimat itu.

Seakan ia sedang berkata dalam bahasa bawah sadar:

Bapak sudah punya teman. Saya tidak bisa membersamai lagi.

Masya Allah.

Ia seperti mengamanahkan pekerjaan itu kepada saya—bersama Prof. Biyanto, lalu kami perluas lagi dengan Prof. Jainuri, KH Syamsuddin, dan Mas Masrukh.

Semoga proses ini lancar.***