Lansia Tak Wajib Bangun Pagi? Tidur Berkualitas Lebih Penting

lansia tidur

MAKLUMAT – Banyak orang lanjut usia (lansia) merasa harus bangun pagi demi menjaga kesehatan. Padahal, pakar kesehatan tidur justru menilai kualitas tidur jauh lebih penting dibanding memaksakan diri bangun lebih awal, kecuali  untuk ibadah (salat). Setelah beribadah, disarankan tidur kembali.

Dokter spesialis kesehatan tidur Dr. Christopher Winter menegaskan tubuh membutuhkan ritme tidur yang stabil, bukan jadwal tidur yang berubah-ubah setiap hari.

Ia mendorong lansia, terutama yang sudah pensiun, memiliki waktu bangun yang konsisten agar ritme biologis tubuh tetap terjaga.

“Tubuh lebih membutuhkan pola tidur yang teratur dibanding sekadar bangun lebih pagi,” ujarnya seperti dikutip dari Prevention.

Seiring bertambahnya usia, pola tidur memang mengalami perubahan. Banyak lansia lebih mudah terbangun saat dini hari, sulit tidur kembali, hingga merasa durasi tidurnya semakin pendek.

Namun kondisi tersebut tidak berarti lansia harus memaksa diri bangun lebih pagi, kecuali untuk beribadah dan setelah itu lebih baik tidur kembali. Winter menilai yang paling penting adalah menjaga kestabilan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh.

Ritme sirkadian berfungsi mengatur kapan tubuh merasa lelah dan kapan kembali segar. Jika jadwal tidur terus berubah, tubuh akan kesulitan beradaptasi. Dampaknya bisa memicu tubuh mudah lelah, sulit fokus, hingga menurunkan kualitas kesehatan secara umum.

Baca Juga  Kualitas Tidur Orang Indonesia Paling Buruk di Asia, Apa Penyebab dan Dampaknya?

Pendapat serupa disampaikan dokter spesialis behavioral sleep medicine Dr. Jade Wu. Ia menyebut kebutuhan tidur setiap lansia berbeda-beda tergantung aktivitas, kondisi kesehatan, tingkat stres, dan kebiasaan sehari-hari.

“Kadang bangun terlalu pagi justru membuat seseorang kurang tidur,” katanya.

Menurut Wu, kebutuhan tidur lansia umumnya tetap berada pada kisaran tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Lansia yang aktif bergerak atau rutin berolahraga bahkan bisa membutuhkan waktu istirahat lebih panjang untuk pemulihan tubuh.

Karena itu, anggapan bahwa bangun pagi selalu lebih sehat tidak bisa diterapkan secara mutlak. Jika tubuh masih membutuhkan istirahat, tidur lebih lama justru dapat membantu menjaga daya tahan dan fungsi otak tetap optimal.

Selain menjaga jam tidur tetap konsisten, para ahli juga menyarankan lansia mengurangi konsumsi kafein pada malam hari, membatasi penggunaan gawai sebelum tidur, dan menciptakan suasana kamar yang nyaman agar kualitas tidur tetap terjaga.

Masyarakat masih sering mengukur gaya hidup sehat dari kebiasaan bangun pagi. Padahal dalam ilmu kesehatan modern, kualitas tidur dan kestabilan ritme biologis justru menjadi faktor utama.

Bagi lansia, tidur bukan sekadar melepas lelah. Tidur berkualitas berperan penting menjaga fungsi otak, memperbaiki sel tubuh, dan mempertahankan kondisi mental tetap stabil. Karena itu, edukasi soal pola tidur sehat perlu terus diperkuat agar lansia tidak merasa bersalah ketika tubuh membutuhkan waktu istirahat lebih panjang.

Baca Juga  Kebiasaan Pagi Hari yang Merusak Ginjal, Ini 5 Rutinitas yang Harus Dihindari