Waspada Hantavirus Masuk Indonesia, Dosen FK Umsida Ungkap Gejala hingga Cara Pencegahan

Dosen FK Umsida, dr Beny Rahman Khomaini MKes. (Foto: Humas)

MAKLUMAT — Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FK Umsida), dr Beny Rahman Khomaini MKes, mengajak masyarakat untuk mewaspadai kasus penyebaran hantavirus, yang dapat menyerang organ vital.

Sebagai informasi, kasus penyebaran hantavirus telah menjadi perhatian masyarakat setelah beberapa kasus yang ditemukan di dunia pada April lalu, bahkan sudah terdeteksi menyebar sampai ke Indonesia. Penyakit ini menular melalui hewan pengerat seperti tikus.

dr Beny menjelaskan, hantavirus merupakan penyakit infeksi yang perlu diwaspadai karena dapat menyerang organ vital tubuh dan berisiko menyebabkan kematian.

Penularan hantavirus, kata dia, berkaitan erat dengan kebersihan lingkungan dan tingginya paparan terhadap habitat tikus.

Gejala Awal Hantavirus Sekilas Mirip Flu

dr Beny menjelaskan bahwa gejala awal hantavirus sekilas menyerupai penyakit infeksi virus pada umumnya.

“Gejala awal hantavirus seperti halnya penyakit infeksi virus pada umumnya, demam atau panas tinggi, nyeri kepala, nyeri otot seperti pegal-pegal, nyeri perut, mual, diare. Kemudian diikuti gejala batuk, mirip seperti sakit flu (flu like syndrome),” jelasnya, Selasa (12/5/2026).

Gejala awal tersebut, lanjutnya, biasanya berlangsung sekitar tiga hingga tujuh hari. Namun apabila tidak sembuh dan sakit berlanjut, gejala pernapasannya akan semakin parah, meningkat menjadi sesak nafas berat.

Baca Juga  Pakar Hukum Soal Putusan MK Pisahkan Pemilu Nasional dan Lokal: Tak Langgar Konstitusi

Pada kondisi ini pula, terjadi gangguan sistem pembuluh darah yg ditandai dengan perdarahan bawah kulit berupa lebam kulit (petekie), serta gangguan fungsi ginjal (gagal ginjal akut) yang ditandai dengan penurunan volume urine atau air kencing.

“Bahkan pada kondisi yang lebih parah, pasien dapat mengalami syok yang ditandai tekanan darah turun dan denyut nadi cepat,” tandas dr Beny.

Ia juga menjelaskan bahwa masa inkubasi hantavirus berkisar antara 7 hingga 32 hari sejak seseorang terpapar virus hingga muncul gejala awal.

Tikus Jadi Penyebar Hantavirus

Lebih lanjut, menurut dr Benny, hewan pengerat seperti tikus mudah menjadi vektor penyakit menular ke manusia karena secara alami mereka terinfeksi virus namun tidak menjadi sakit (tanpa gejala).

“Ini terjadi karena tubuh hewan tersebut telah beradaptasi terhadap infeksi, sehingga akhirnya mereka membawa virus dan menularkannya,” katanya.

Pola hidup hewan pengerat yang memakan segala macam makanan dari alam serta kebiasaan menggigit segala sesuatu dengan gigi seri pengerat mereka, menjadi pintu masuk virus ke tubuh mereka. Selain itu, habitat tikus yang dekat dengan manusia meningkatkan risiko penularan penyakit.

Menurut dia, potensi penularan penyakitnya bisa terjadi melalui paparan sentuhan langsung, gigitan, atau paparan terhadap sisa kotoran, tinja, urine tikus

Baca Juga  Fenomena Inden Sekolah Muhammadiyah, Pakar: Orang Tua Sudah Berpikir Investasi Jangka Panjang

dr Beny menegaskan bahwa sanitasi sanitasi lingkungan tempat tinggal yang buruk dan tidak terpelihara (kotor, jarang dibersihkan, banyak tikus) akan meningkatkan risiko penularan penyakit.

“Penyakit ini berbahaya karena menyerang fungsi vital tubuh secara sistemik,” tandas dokter bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat tersebut.

Hantavirus, imbuh dr Benny, dapat menyebabkan gagal nafas, gagal ginjal, syok, yang berujung kematian.  “Angka kematian atau mortalitasnya cukup tinggi, bisa mencapai 40 persen,” jelasnya.

Kapan Harus ke Dokter?

Lebih jauh, dr Benny menyarankan untuk segera memeriksakan ke dokter bila mengalami gejala awal, terutama dengan riwayat risiko paparan terhadap tikus atau lingkungan yang dekat dengan habitat tikus.

“Segera ke rumah sakit bila didapatkan gejala yang berat. Petugas kesehatan akan melakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut,” pesannya.

Apabila seseorang terpapar dengan tikus, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membersihkan diri menggunakan sabun.  Sedangkan bila mengalami gigitan tikus, penderita dianjurkan segera mendatangi fasilitas kesehatan.

Ia menekankan bahwa pencegahan menjadi langkah paling penting untuk menghindari hantavirus. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain: selalu mencuci tangan sebelum makan; membersihkan tangan setelah terpapar dengan lingkungan kotor; menjaga lingkungan tetap rapi; mencuci alat makan dengan sabun; menggunakan alat pelindung bila melakukan pekerjaan dengan risiko terpapar kotoran; menyimpan makanan dan alat makan di tempat tertutup; pembersihan tempat tinggal secara rutin; menghilangkan potensi tempat bersarang tikus dalam rumah; tutup celah yang bisa menjadi akses tikus masuk rumah; serta membasmi tikus dari lingkungan tempat tinggal, bila perlu pasang perangkap tikus.

Baca Juga  Waspada ISPA: Kenali Gejala, Cara Merawat, dan Langkah Pencegahannya

“Apabila menderita hantavirus sebaiknya dirawat di fasilitas kesehatan agar dapat dipantau atau diobservasi sakitnya, istirahat yang cukup, minum yang cukup. Terapi akan diberikan sesuai berat ringannya penyakit,” pesan dr Benny.