Media Sosial dan Hustle Culture: Tekanan Baru untuk Generasi Z

Penulis: Nurudin. *)

MAKLUMAT — Harus diakui, media sosial (medsos) sekarang seperti ruang tamu kedua bagi banyak orang. Misalnya, bangun tidur buka TikTok. Mau tidur cek Instagram. Lagi makan lihat X. Lagi bosan scroll ke sana kemari, ketemu YouTube. Semua itu seperti terasa normal. Padahal, tanpa sadar, media sosial pelan-pelan ikut menentukan cara kita memandang hidup.

Masalahnya bukan sekadar soal waktu layar. Masalahnya adalah standar hidup yang diam-diam berubah. Kita mulai merasa hidup orang lain selalu lebih keren, lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih mapan. Sementara hidup sendiri terasa biasa saja.

Padahal yang kita lihat di media sosial belum tentu realita utuh, bukan?

Media sosial bekerja dengan sudut pandang. Dalam ilmu komunikasi ada framing dan cutting. Ada bagian yang dipilih untuk ditampilkan dan ada bagian yang sengaja disembunyikan. Seseorang bisa terlihat selalu liburan padahal sedang di rumah. Bisa terlihat selalu produktif padahal sedang burnout (kelelahan fisik dan mental). Bisa terlihat bahagia padahal sebenarnya kesepian. Sayangnya, otak manusia sering lupa soal itu.

Contohnya, cuma lima menit scrolling kadang sudah cukup membuat mood berubah seharian. Kita mulai bertanya, “Kenapa hidup orang lain lebih baik?” Lalu tanpa sadar mulai membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain yang sudah diedit sedemikian rupa.

Baca Juga  Gus Miftah, Karomah, dan Kesalahan Berpikir

Sukses Diukur dari Likes dan Story?

Generasi muda adalah kelompok yang paling dekat dengan media sosial. Rata-rata penggunaan media sosial mencapai 2-3 jam per hari. Bahkan generasi z (Gen Z) bisa menghabiskan waktu sampai 4–7 jam sehari di depan layar. Bayangkan berapa banyak informasi yang didapat? Saat itu standar hidup orang lain menghantuinya dan mulai muncul tekanan sosial.

Dari situlah muncul standar baru tentang sukses. Sukses dianggap harus cepat. Umur masih muda. Mungkin juga ada desakan harus kaya sebelum usia tertentu. Lebih pelik lagi harus punya kerja keren. Dalam keseharian harus sering nongkrong yang “wah”. Juga harus traveling ke sana kemari. Yang bahaya seolah harus produktif terus menerus.

Saat itulah muncul hustle culture. Budaya yang menganggap sibuk adalah tanda keberhasilan. Tidur sedikit dianggap keren. Kerja tanpa henti dianggap pencapaian. Istirahat malah terasa seperti dosa. Padahal tidak semua orang punya garis hidup yang sama.

Memang ada yang sukses umur 20 tahun. Tapi ada yang baru menemukan jalannya di umur 30 bahkan 40 tahun. Artinya, tidak ada deadline untuk berhasil. Masalahnya, media sosial sering membuat orang lupa pada proses. Kita melihat pencapaian orang lain tanpa melihat perjuangan panjang di belakang layar. Akhirnya banyak orang merasa tertinggal padahal sebenarnya mereka sedang berjalan di jalurnya sendiri.

Kita melihat pencapaian orang lain tanpa melihat perjuangan panjang di belakang layar.

Fenomena ini makin kuat karena sebagian besar konten media sosial hanya menampilkan highlight kehidupan dan yang baik. Misalnya, tidak ada yang mengunggah saat gagal interview. Tidak ada yang update ketika menangis semalaman karena tekanan hidup. Yang muncul biasanya hanya pencapaian.

Lalu kita membandingkan hidup nyata dengan versi editan hidup orang lain. Itu jelas tidak adil, bukan?

Kelelahan Mental

Dampak media sosial ternyata bukan cuma soal iri atau minder. Efeknya bisa masuk ke kesehatan mental dan perilaku sehari-hari. Penggunaan media sosial yang terlalu tinggi meningkatkan risiko depresi dan kecemasan.

Baca Juga  Ketika Mikrofon Menjadi Cermin Kepemimpinan

Tidak sedikit yang akhirnya mengalami overthinking. Ada mahasiswa yang menghabiskan lima jam sehari scrolling TikTok, lalu mulai membandingkan dirinya dengan content creator sukses. Ini perbandingan yang terlalu simpel dan gegabah. Ada juga fresh graduate yang merasa gagal hanya karena melihat teman-temannya sudah pamer karier dan gaji tinggi. Padahal mereka sendiri baru mulai bekerja.

Fenomena di atas dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out). Takut tertinggal tren, tidak update, atau kalah cepat. Juga takut jika hidupnya tidak sehebat orang lain. Akibatnya orang jadi lelah mental karena merasa kurang. Selalu ingin mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan.

Selain mental, fisik juga kena dampaknya. Kurang tidur karena scrolling malam-malam membuat badan cepat lelah dan konsentrasi menurun. Otak juga jadi terbiasa menerima konten cepat sehingga fokus.

Lalu apa solusinya? Bukan berarti kita harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Media sosial tetap bisa jadi tempat belajar, membangun relasi, bahkan mencari peluang kerja. Yang penting adalah cara menggunakannya.

Media sosial tetap bisa jadi tempat belajar, membangun relasi, bahkan mencari peluang kerja.

Mungkin sekarang saatnya berpindah dari FOMO ke JOMO (Joy of Missing Out). Menikmati hidup tanpa tekanan untuk selalu ikut tren. Menikmati momen tanpa harus selalu divalidasi internet. Intinya mulailah lebih realistis. Beri waktu untuk hidup tanpa media sosial.

Baca Juga  Demokrasi, Janji Manis, dan Realita yang Pahit

Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Bukan standar hidup. Juga bukan penentu nilai diri. Apa yang tampil di layar tidak selalu menggambarkan kenyataan sepenuhnya. Karena itu, generasi muda perlu lebih bijak menggunakan media sosial agar tidak terjebak dalam tekanan untuk selalu terlihat sempurna.

Hidup nyata tetap lebih penting dibanding validasi digital.