MAKLUMAT – Nilai tukar rupiah kembali mencetak rekor terburuk. Pada perdagangan Senin pagi (18/5/2026), rupiah sempat menyentuh Rp17.658 per dolar AS atau melemah 61 poin dibanding penutupan sebelumnya. Tekanan ini langsung memukul dunia usaha, terutama sektor manufaktur yang masih bergantung besar pada bahan baku impor.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai pelemahan rupiah saat ini bukan lagi gejolak biasa, melainkan tekanan berat yang bisa mengganggu stabilitas industri nasional.
Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani mengatakan sekitar 70 persen bahan baku manufaktur Indonesia masih berasal dari impor. Akibatnya, setiap depresiasi rupiah langsung menaikkan biaya produksi perusahaan.
“Saat ini sekitar 70 persen bahan baku manufaktur berasal dari impor. Industri petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, hingga sektor berbasis energi menjadi yang paling rentan terdampak,” ungkap Shinta.
Ia mengatakan kenaikan harga bahan baku seperti nafta bahkan sudah mendorong harga resin melonjak hingga puluhan persen. Efeknya merambat ke industri kemasan dan rantai pasok lainnya.
Di sisi lain, lanjut Shinta, penguatan dolar AS ikut memperbesar beban utang perusahaan yang menggunakan valuta asing. Banyak pelaku usaha kini mulai menahan ekspansi karena kondisi ekonomi global dianggap semakin tidak menentu.
Apindo menyebut dunia usaha mulai menerapkan strategi “selective growth”, yakni tetap melakukan ekspansi tetapi dengan langkah yang jauh lebih hati-hati. Perusahaan juga mulai memperkuat lindung nilai atau hedging untuk mengurangi risiko fluktuasi kurs.
Tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor global, mulai dari lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah hingga arus modal yang bergerak ke aset dolar AS.
Pelemahan rupiah ke level Rp17.658 menjadi alarm serius bagi ekonomi nasional. Dampaknya tidak hanya terasa di pasar keuangan, tetapi mulai menekan sektor riil seperti manufaktur, investasi, hingga potensi penyerapan tenaga kerja.
Jika kondisi ini berlangsung lama, industri akan menghadapi dua tekanan sekaligus: biaya produksi melonjak dan daya beli masyarakat melemah. Situasi itu bisa memicu perlambatan ekonomi yang lebih dalam dan membuka risiko gelombang PHK baru.
Pemerintah dan Bank Indonesia kini diuji untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus memastikan sektor industri tidak kehilangan daya tahan di tengah tekanan global yang makin berat.












