Pada pukul 09.00 WIB, IHSG melemah 49,17 poin atau 0,47 persen ke level 7.890,15. Tekanan terjadi di tengah sentimen negatif global dan kekhawatiran investor terhadap kebijakan indeks MSCI yang berdampak pada arus dana asing.
Data perdagangan menunjukkan 210 saham melemah, 258 saham menguat, dan 178 saham bergerak stagnan. Meski secara jumlah saham penguat masih lebih banyak, tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar membuat IHSG tetap bergerak di zona merah.
Dari sisi sektoral, hanya empat indeks sektor yang mampu bertahan di zona hijau. Sektor barang baku mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 2,87 persen, disusul sektor kesehatan naik 0,65 persen dan teknologi menguat 0,30 persen.
Sebaliknya, tekanan terdalam terjadi pada sektor barang konsumen siklikal yang ambles 3,84 persen, diikuti sektor transportasi turun 1,50 persen dan infrastruktur melemah 1,11 persen.
Di jajaran saham unggulan LQ45, pelemahan dipimpin oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun 1,82 persen, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) melemah 1,79 persen dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) terkoreksi 1,55 persen. Sedangkan total volume perdagangan pagi ini mencapai 2,09 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp1,47 triliun.
DPR: Koreksi Pasar Bersifat Sentimen, Bukan Fundamental
Menanggapi pelemahan IHSG, Anggota DPR RI Komisi XI dari Fraksi Partai Demokrat, Marwan Cik Asan menilai pelemahan pasar saham lebih dipicu oleh sentimen jangka pendek, bukan karena memburuknya kondisi ekonomi nasional.
Menurut Marwan, tekanan terhadap IHSG berkaitan erat dengan respons investor atas pengumuman MSCI terkait transparansi data kepemilikan saham dan kebijakan free float di pasar modal Indonesia.
“Isu MSCI ini sering ditafsirkan berlebihan. Padahal sifatnya teknis dan administratif. MSCI tidak menjatuhkan vonis, tetapi memberi peringatan agar ada pembenahan tata kelola,” ujar Marwan, Selasa (3/2/2026).
Ia menegaskan indikator makroekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi solid. Pertumbuhan ekonomi tetap di kisaran 5 persen, inflasi terkendali, cadangan devisa memadai, serta rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) relatif rendah.
“Tidak ada guncangan fundamental yang cukup kuat untuk menjelaskan koreksi IHSG sedalam ini. Situasi ini lebih tepat dibaca sebagai ujian ketahanan pasar, bukan sinyal rapuhnya ekonomi nasional,” tegasnya.
Marwan juga mengapresiasi langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berkomitmen menindaklanjuti rekomendasi MSCI, khususnya dalam penguatan transparansi dan tata kelola pasar.
Ia mengimbau investor agar tidak terjebak kepanikan dan tetap menjaga perspektif jangka menengah hingga panjang. Pasar tidak membutuhkan kepanikan, tetapi keyakinan yang rasional. Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan komitmen reformasi berkelanjutan, pasar modal Indonesia akan semakin matang dan kredibel.***












