Gempa Palu M6,7 Tewaskan 1 Orang, 312 Warga Terdampak dan Puluhan Bangunan Rusak

Gempa Palu

MAKLUMAT – Dampak Gempa Palu berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan satu warga meninggal dunia, 38 orang mengalami luka-luka, dan sedikitnya 312 jiwa terdampak hingga Selasa malam (16/6).

Korban meninggal dunia dilaporkan berasal dari Kabupaten Sigi, wilayah yang mengalami dampak paling parah akibat gempa. Selain itu, sebanyak 25 warga mengalami luka ringan dan 13 lainnya luka berat.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan jumlah korban dan kerusakan masih berpotensi bertambah seiring proses pendataan yang terus berlangsung.

“Hingga pukul 19.00 WIB tercatat sekitar 110 kepala keluarga atau 312 jiwa terdampak akibat gempa bumi,” ujarnya.

Sigi Jadi Wilayah Terdampak Terparah

Kabupaten Sigi menjadi daerah dengan dampak terbesar. BNPB mencatat sebanyak 89 kepala keluarga atau 272 jiwa terdampak di wilayah tersebut. Selain itu, 22 warga mengalami luka ringan dan 13 warga mengalami luka berat.

Sementara itu, Kabupaten Parigi Moutong mencatat 21 kepala keluarga atau 40 jiwa terdampak. Di Kota Palu, dua warga mengalami luka ringan, sedangkan satu warga di Kabupaten Poso mengalami luka dan masih dalam pendataan lanjutan.

Baca Juga  Tinjau Ponpes Al-Khoziny, Kepala BNPB: Prioritas Pertama adalah Pencarian dan Pertolongan

Wilayah terdampak Gempa Palu meliputi Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, Parigi Moutong, dan Poso.

Puluhan Rumah dan Infrastruktur Rusak

Seiring masuknya laporan dari lapangan, jumlah kerusakan bangunan juga terus bertambah. BNPB mencatat sedikitnya 67 unit rumah terdampak. Dari jumlah tersebut, 26 rumah mengalami rusak ringan, enam rusak sedang, dan 12 rumah rusak berat.

Kerusakan juga terjadi pada enam fasilitas ibadah, dua jembatan, satu fasilitas umum, dua gedung perkantoran, tiga tempat usaha, serta satu ruas jalan provinsi yang menghubungkan Palu-Sigi-Poso.

Di Kabupaten Sigi, tercatat 47 rumah terdampak, 23 rumah rusak ringan, enam rumah rusak sedang, dan 12 rumah rusak berat. Selain itu, enam fasilitas ibadah, dua gedung perkantoran, satu jembatan, dan satu unit usaha mikro turut mengalami kerusakan.

Di Kota Palu, keretakan dilaporkan terjadi pada Jembatan III Palu. Kerusakan juga ditemukan pada sebuah hotel, satu fasilitas umum, dan satu tempat usaha.

Sementara di Kabupaten Poso terdapat lima rumah terdampak dan tiga rumah mengalami kerusakan ringan. Adapun Kabupaten Parigi Moutong melaporkan sedikitnya 15 rumah terdampak.

BMKG: Gempa Palu Dipicu Aktivitas Sesar Sausu

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Gempa Palu terjadi pada Selasa (16/6) pukul 10.27.44 WIB atau 11.27.44 WITA.

Baca Juga  Sehari Indonesia Diguncang Tiga Gempa Kuat, Apakah Saling Terkait?

Gempa berpusat di darat pada koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan dan 120,24 derajat Bujur Timur atau sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu. Episenter berada di kawasan Torue, Kabupaten Parigi Moutong.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menjelaskan gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Sausu dengan mekanisme pergerakan patahan turun (normal fault).

“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” kata Nelly.

Guncangan terkuat dirasakan di wilayah Palolo, Kabupaten Sigi, dengan intensitas VII MMI. Sementara Torue dan Parigi Selatan mengalami guncangan pada skala VI-VII MMI. Kota Palu dan Sigi Biromaru merasakan getaran pada skala V-VI MMI.

Gempa Susulan Masih Terjadi

BMKG mencatat aktivitas gempa susulan masih terus berlangsung setelah gempa utama. Hingga Selasa sore, puluhan gempa susulan terdeteksi dengan kekuatan terbesar mencapai magnitudo 5,2.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan aktivitas seismik di wilayah tersebut.

BMKG juga memastikan kondisi perairan di sekitar pusat gempa tetap aman. Pemantauan di sejumlah stasiun pasang surut tidak menunjukkan adanya potensi tsunami maupun kenaikan muka air laut yang membahayakan masyarakat.

Baca Juga  Anggota Komisi VIII DPR RI Minta BNPB Perkuat Mitigasi Bencana Hadapi Cuaca Ekstrem

Status Darurat Mulai Disiapkan

Untuk mempercepat penanganan, BPBD bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) melakukan kaji cepat dan pendataan di wilayah terdampak. Pemerintah Kabupaten Sigi juga tengah memproses penetapan status tanggap darurat selama 14 hari.

Posko lapangan telah dipusatkan di Kantor Camat Nokilalaki guna mempercepat koordinasi penanganan dan pelayanan kepada warga terdampak.

BNPB dan BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, serta menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa. Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan.***