Liburan Sekolah Jangan Hanya ke Mal, Museum Muhammadiyah Sajikan 2.812 Artefak dan Teknologi AR

Museum Muhammadiyah

MAKLUMAT — Liburan sekolah tak selalu harus dihabiskan di pusat perbelanjaan atau tempat hiburan. Bagi keluarga yang ingin mengajak anak belajar sambil berwisata, Museum Muhammadiyah di Yogyakarta menawarkan pengalaman berbeda: menyusuri sejarah melalui 2.812 artefak bersejarah yang dipadukan dengan teknologi digital modern.

Saat banyak museum masih identik dengan ruang pajang yang sunyi dan membosankan, Museum Muhammadiyah justru tampil dengan pendekatan interaktif. Pengunjung tidak hanya melihat koleksi sejarah, tetapi juga dapat menikmati teknologi Augmented Reality (AR), peta digital interaktif, ruang audiovisual, hingga visual tiga dimensi yang membuat sejarah terasa lebih hidup.

Momentum ini relevan dengan masa libur sekolah yang berlangsung hingga 11 Juli 2026. Sebelum siswa kembali masuk sekolah pada 13 Juli mendatang, museum dapat menjadi alternatif wisata edukatif yang memperkaya wawasan anak di luar ruang kelas.

Museum Muhammadiyah yang berada di Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta menyimpan ribuan artefak yang merekam perjalanan Muhammadiyah sejak berdiri pada 1912 hingga menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Koleksi tersebut tersebar di delapan zona pameran dalam bangunan empat lantai. Mulai dari manuskrip dan mushaf kuno, mimbar tablig berusia hampir satu abad, mesin cetak bersejarah Suara Muhammadiyah, hingga dokumentasi kiprah Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan.

Baca Juga  Wakil Ketua PDM Bojonegoro: Politik Bukan Soal Halal atau Haram

Transformasi digital yang dilakukan museum ini mendapat pengakuan nasional. Pada 2025, Museum Muhammadiyah meraih penghargaan Indonesia Museum Awards (IMA) kategori Museum Cerdas.

Penghargaan tersebut diberikan karena keberhasilan museum menghadirkan ruang belajar sejarah yang interaktif, inklusif, dan ramah bagi anak-anak, perempuan, maupun penyandang disabilitas.

Namun kekuatan Museum Muhammadiyah bukan hanya pada teknologi. Yang lebih penting, museum ini menghadirkan narasi sejarah yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Di lantai kedua, misalnya, pengunjung dapat melihat langsung jejak kontribusi Muhammadiyah untuk Indonesia melalui koleksi pelayanan kesehatan, pendidikan, penerbitan, hingga gerakan kemanusiaan.

Sementara lantai ketiga memperlihatkan besarnya jaringan amal usaha Muhammadiyah melalui peta digital yang menampilkan persebaran sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, hingga cabang Muhammadiyah di berbagai negara.

Museum Muhammadiyah juga aktif mengangkat tema-tema sejarah yang jarang dibahas publik. Salah satunya melalui pameran “Moehammadijah dan Inoeman Keras” yang mengulas perjuangan sosial dan dakwah Muhammadiyah pada masa awal berdirinya organisasi.

Bagi orang tua yang masih mencari tujuan wisata selama liburan sekolah, Museum Muhammadiyah menawarkan sesuatu yang tidak selalu ditemukan di tempat rekreasi lain: pengalaman belajar sejarah yang dikemas modern, interaktif, dan relevan dengan generasi digital.***

Baca Juga  Berbeda Awal Puasa, Ketua PWM Jatim: Hindari Perdebatan dan Jadikan Ramadhan Oase yang Sejuk