Kemendikdasmen Kebut Revitalisasi dan Rehabilitasi Ribuan Sekolah Terdampak Bencana di Aceh

Mendikdasmen RI Abdul Mu'ti saat meresmikan revitalisasi sekolah di Banda Aceh. (Foto: tangkapan layar)

MAKLUMAT — Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mempercepat revitalisasi sekolah-sekolah terdampak bencana di Aceh. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 3.120 sekolah di berbagai wilayah mengalami dampak akibat banjir dan bencana lain yang merusak fasilitas pendidikan.

Kerusakan yang terjadi cukup beragam, mulai dari atap bocor, plafon rusak, lantai retak, hingga fasilitas sanitasi yang tidak lagi memadai. Kondisi tersebut mengganggu kenyamanan proses belajar mengajar para siswa.

Kerusakan Infrastruktur dan Fasilitas

Tazkiya Zahurah, siswa SD Negeri 3 Teupin Raya, mengaku kondisi sekolah sebelumnya membuat proses belajar menjadi kurang nyaman.

“Dulu plafonnya rusak, banyak kotoran kelelawar yang berbau, jendela pecah, lantai retak, dan toiletnya terbatas. Kami kurang nyaman belajar,” kenangnya.

Hal serupa juga dirasakan Khayla Syakira, murid SMP Negeri 1 Mila, yang menyebut bahwa kerusakan bangunan menjadi kendala tersendiri terutama ketika hujan turun.

“Sebelumnya atap bocor, jendela pecah, dinding dan lantai retak, serta kamar mandi kurang memadai,” ungkap Khayla.

Kebut Revitalisasi Ribuan Sekolah

Menanggapi kondisi tersebut, Kemendikdasmen bersama Pemerintah Aceh serta TNI melakukan percepatan revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi sekolah terdampak.

Dari total 3.120 sekolah yang terdampak, sebanyak 2.920 sekolah telah masuk penanganan. Sementara 188 sekolah mengalami kerusakan berat dan 63 sekolah harus direlokasi.

Baca Juga  Groundbreaking SD Aisyiyah Pertama di Brebes, Wamendikdasmen: Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan, pembangunan dipercepat agar siswa dapat segera kembali belajar di ruang kelas yang layak. Ia menargetkan pada tahun ajaran baru 2026/2027 nanti pembangunan sudah rampung.

“Kami menargetkan pada tahun ajaran baru 2026/2027 sebagian besar sekolah sudah selesai dibangun. Untuk sekolah yang lokasinya masih dapat digunakan, sebagian besar sudah dibangun dan bahkan ada yang telah selesai dikerjakan,” tandasnya.

“Proses revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi harus diselesaikan secepatnya sehingga anak-anak Aceh dapat kembali belajar sebagaimana mestinya di sekolah,” lanjut Mu’ti.

Selama proses pembangunan berlangsung, ia menyebut bahwa pemerintah juga menyiapkan ruang kelas darurat agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menekankan bahwa penggunaan kelas darurat hanya sebagai langkah sementara supaya pembelajaran tetap berlangsung.

“Supaya proses pembelajaran tetap terjadi, kami melakukan langkah-langkah darurat bagi sekolah yang bangunannya tidak dapat digunakan. Jadi, bukan berarti tidak ada intervensi pemerintah,” katanya.

Revitalisasi Berdampak Nyata

Hasil revitalisasi mulai dirasakan sejumlah sekolah. Salah satunya di SMKN 3 Sigli yang memperoleh bantuan revitalisasi sebesar Rp2,6 miliar pada 2025 dan kembali menerima bantuan Rp1,6 miliar pada 2026.

Baca Juga  Kemenag Siapkan Materi Pencegahan LGBTQ Masuk Kurikulum Mulai Kelas IV SD

Kepala SMKN 3 Sigli, Iskandar, mengaku bersyukur dan mengatakan bahwa bantuan tersebut berdampak positif terhadap kegiatan belajar siswa.

“Kami sangat bersyukur atas program revitalisasi ini. Sarana dan prasarana yang dibangun sangat mendukung proses pembelajaran sehingga murid lebih nyaman belajar,” ucapnya.

Salah satu fasilitas yang dibangun adalah Ruang Praktik Siswa (RPS) untuk mendukung Jurusan Teknika Kapal Penangkap Ikan (TKPI), program keahlian yang mempersiapkan siswa di bidang mesin kapal perikanan dan teknologi perikanan.

Ketua Jurusan TKPI, Safrina, menyebut bahwa fasilitas praktik membantu siswa mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.

“Keberadaan fasilitas praktik sangat membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan di bidang permesinan kapal, sehingga mereka memiliki bekal yang lebih baik untuk memasuki dunia kerja,” ujarnya.

“Alhamdulillah, pada tahun 2025 kami mendapatkan bantuan berupa trainer praktik. Nah, itu bisa mempercepat proses belajar mengajar karena kami dapat langsung menunjukkan kepada siswa bagaimana peralatan yang digunakan di industri dan perkapalan,” imbuhnya.

Dampak positif revitalisasi juga dirasakan siswa. Fairuz, siswa kelas XI TKPI SMKN 3 Sigli mengaku lebih nyaman dan bersemangat dalam belajar. “Adanya gedung baru, kami jadi lebih enak belajar karena tidak banyak debu lagi dan ruangannya lebih luas,” kelakarnya.

Baca Juga  Bupati Malang Batasi Study Tour Sekolah: Kalau Keluar Kota Tidak Boleh!

Sementara Cut Indah Sari menilai fasilitas baru memberikan motivasi belajar lebih besar. “Pembangunan gedung ini membuat kami memiliki harapan dan peluang yang lebih besar untuk masa depan. Dengan fasilitas yang lebih baik, kami semakin semangat belajar dan meningkatkan keterampilan,” sebutnya.

Di SMP Negeri 1 Mila, Khayla kini merasakan perubahan kondisi belajar yang lebih baik setelah renovasi selesai dilakukan. “Setelah direnovasi, ruang belajar kami jauh lebih baik. Kami juga sudah memiliki musala dan dapat melaksanakan salat Zuhur berjamaah setiap hari,” katanya.

Program revitalisasi sekolah di Aceh diharapkan dapat mempercepat pemulihan layanan pendidikan pascabencana sekaligus memastikan siswa tetap mendapatkan akses belajar yang aman, nyaman, dan layak.