MAKLUMAT —Pemerintah Desa Pucangro, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, berharap mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 61 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mampu memberikan kontribusi nyata bagi desa, terutama dalam merumuskan solusi terhadap persoalan banjir yang hingga kini masih menjadi tantangan tahunan.
Harapan tersebut disampaikan Kepala Desa Pucangro, H Zuli Kasmawanto saat membuka kegiatan KKN 61 UINSA di Balai Desa Pucangro, Ahad (28/6/2026). Ia menilai keberagaman program studi yang dimiliki para mahasiswa menjadi modal untuk menyusun gagasan sesuai disiplin ilmu masing-masing.
“Untuk mengusulkan bagaimana Desa Pucangro ini ke depannya tidak banjir lagi. Sehingga nanti bukan sekadar berkolaborasi dalam mengimplementasikan ilmu yang sudah mahasiswa KKN dapatkan. Karena UINSA bukan sekolah tinggi agama saja hari ini, tetapi sudah menjadi universitas sehingga semua jurusan dan fakultas sudah ada,” katanya.
Zuli meminta setiap mahasiswa memanfaatkan keahlian sesuai bidang studinya saat menyusun program kerja. Pemerintah desa berharap berbagai disiplin ilmu yang dimiliki mahasiswa dapat menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pengembangan potensi desa.
Selain itu, ia mengingatkan mahasiswa agar mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat Pucangro yang dikenal memiliki kultur religius dan budaya gotong royong yang masih terjaga.
“Desa Pucangro ini secara kultur dan budaya sangat agamis dan religius. Bagaimana adik-adik KKN ini bisa membersamai, ikut serta, dan mengikuti budaya yang ada di Desa Pucangro,” ujarnya.
Pada pelaksanaan KKN tahun ini, pemerintah desa menempatkan posko mahasiswa di wilayah utara desa. Lokasi tersebut berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang selalu berada di sekitar Balai Desa. Penempatan itu diharapkan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk lebih dekat dengan para tokoh agama dan masyarakat setempat.
Ia meyakini masyarakat Pucangro akan menerima mahasiswa dengan baik selama mereka aktif berbaur dan menghargai budaya yang telah berkembang di lingkungan desa.
“Saya yakin nanti adik-adik akan kerasan atau nyaman di Desa Pucangro. Tinggal sering bersilaturahmi dan berkoordinasi dengan para ustaz serta tokoh agama yang ada di sini,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Desa KKN 61 UINSA Surabaya, Muhammad Bimo Wijoyo, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Pucangro dan masyarakat yang telah menerima kehadiran mahasiswa KKN. Sambutan tersebut, kata dia, menjadi penyemangat bagi seluruh anggota untuk menjalankan pengabdian selama kurang lebih satu bulan.
Bimo menjelaskan, mahasiswa KKN tidak datang dengan anggapan membawa seluruh solusi bagi desa. Sebaliknya, mereka ingin belajar bersama masyarakat, memahami potensi yang telah dimiliki Desa Pucangro, sekaligus mengembangkan potensi tersebut melalui pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) atau pemberdayaan berbasis aset.
“Kami datang bukan dengan anggapan bahwa kami membawa semua jawaban. Sebaliknya, kami datang dengan semangat untuk mendengarkan, memahami, dan berkolaborasi. Kami percaya Desa Pucangro telah memiliki banyak potensi dan kekuatan. Tugas kami adalah ikut membersamai, mengembangkan, dan menguatkan potensi tersebut,” kata Bimo.
Ia menambahkan, kelompok KKN 61 telah menyiapkan sejumlah program yang berfokus pada bidang pendidikan, lingkungan, dan pengembangan potensi desa. Program tersebut disusun berdasarkan hasil observasi awal dan diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat.
Bimo juga berharap seluruh warga dapat memberikan arahan, kritik, serta masukan selama pelaksanaan KKN agar setiap program dapat berjalan sesuai kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat yang berkelanjutan.
“Kami memohon izin untuk menjadi bagian dari keluarga besar Desa Pucangro selama masa pengabdian ini. Kami juga berharap seluruh program yang telah kami rancang dapat berjalan lancar serta memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Pucangro,” katanya.
*) Penulis: M Habib Muzaki














