KKN 61 UINSA Sambangi Green House Petik Melon Pucangro Lamongan, Pelajari Aset Desa dan Wisata Edukasi

KKN 61 UINSA

MAKLUMAT — Green House Petik Melon di Desa Pucangro, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, menjadi salah satu aset desa yang dikembangkan untuk mendukung sektor pertanian sekaligus membuka peluang wisata edukasi. Melalui agenda Belajar Dengan Masyarakat, mahasiswa KKN 61 UINSA (UIN Sunan Ampel Surabaya) mempelajari secara langsung pengelolaan budidaya melon yang telah memasuki musim tanam kedua.

Penanggung Jawab Green House Petik Melon Desa Pucangro, Subakir, menjelaskan budidaya melon dilakukan melalui tahapan perawatan yang terjadwal sejak awal tanam hingga panen. Setiap tahapan memiliki perlakuan berbeda agar tanaman dapat tumbuh optimal dan menghasilkan buah dengan kualitas baik.

“Mulai tanam sampai panen itu ada tahapannya. Minggu pertama menyulam tanaman yang mati, minggu kedua pemupukan, lalu peruningan sampai ke atas. Setelah itu masuk tahap polinasi yang harus dilakukan saat cuaca panas. Kalau mendung atau sore, tidak bakal jadi,” ujar Subakir saat menerima kunjungan mahasiswa KKN 61 UINSA, Selasa (30/6/2026).

Ia menjelaskan proses pembentukan buah juga mengikuti perhitungan tertentu. Buah dipilih tumbuh pada ruas daun kedelapan hingga kesepuluh. Dari tiga bakal buah yang muncul, pengelola hanya mempertahankan satu buah terbaik agar ukuran dan kualitasnya lebih maksimal.

Baca Juga  Minyak Jelantah Tak Harus Berakhir di Tempat Sampah, Bisa Diolah Jadi Lilin Aromaterapi

Cuaca menjadi faktor penting dalam proses budidaya. Polinasi harus dilakukan saat matahari bersinar karena cuaca mendung dapat menghambat pembentukan buah. Kondisi tersebut membuat posisi buah bergeser ke ruas daun berikutnya sehingga masa panen ikut mundur.

“Kalau normal, buah di daun delapan, sembilan, sepuluh itu sekitar 70 hari sudah panen. Kemarin telat karena mendung, jadi buahnya naik lagi dan waktu panennya ikut mundur,” katanya.

Selain mengatur posisi buah, pengelola juga memantau tingkat kematangan melalui kondisi daun penanda dan pembentukan jaring pada kulit melon. Daun penanda yang mulai mengering menjadi ciri buah siap dipanen, sedangkan jaring yang tidak terbentuk sesuai umur tanaman menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan ataupun kebutuhan nutrisi yang belum terpenuhi.

Greenhouse tersebut saat ini membudidayakan varietas Sweet Lavender dan Sweet Blue. Varietas Sweet Blue menjadi jenis yang baru dikembangkan pada musim tanam kedua setelah panen sebelumnya berhasil dilakukan.

“Kalau net-nya tidak keluar sampai waktunya, berarti ada masalah. Bisa nutrisinya atau yang lain. Kalau normal, semua jaringnya sudah keluar,” jelasnya.

Dalam pengelolaannya, greenhouse menggunakan media tanam campuran sekam dan tanah merah yang telah difermentasi. Nutrisi diberikan setiap hari melalui sistem hidroponik selama lima menit dan dipantau menggunakan alat ukur.

Baca Juga  KKN 61 UINSA Surabaya Ditantang Cari Solusi Banjir Desa Pucangro Lamongan

Hasil pengukuran kemudian dilaporkan kepada pendamping teknis untuk menentukan penyesuaian kebutuhan nutrisi tanaman apabila ditemukan perubahan pada kondisi daun maupun buah.

Mahasiswa Manfaatkan Kesempatan Belajar di Lapangan

Melalui kegiatan belajar bersama tersebut, mahasiswa KKN 61 UINSA turut mempelajari pengelolaan greenhouse sebagai salah satu aset unggulan Desa Pucangro. Kegiatan itu menjadi bagian dari pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) yang menekankan pengembangan potensi yang telah dimiliki masyarakat.

“Greenhouse merupakan salah satu aset yang dimiliki Desa Pucangro dan memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan serta edukasi pertanian. Sebagai mahasiswa yang melaksanakan KKN, kami ingin mengenal bagaimana greenhouse ini dikelola, jenis tanaman yang dibudidayakan, serta manfaatnya bagi masyarakat,” ujar mahasiswa KKN 61 UINSA, Nuris Shabrina.

Mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai budidaya melon mulai dari teknik penanaman, perawatan tanaman, hingga pemanfaatan hasil panen. Pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa pemanfaatan lahan secara optimal dapat menjadi salah satu upaya menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pada musim panen sebelumnya, Green House Petik Melon Desa Pucangro menghasilkan lebih dari tujuh kuintal melon. Sebagian hasil panen dipasarkan ke Rumah Sakit Muhammadiyah, sedangkan sisanya dijual kepada pengepul serta dibuka melalui program petik melon dengan harga khusus bagi masyarakat.

Baca Juga  KKN UINSA Gelar Eco Kreatif, Anak-anak Desa Pucangro Lamongan Belajar Daur Ulang

Meski demikian, banjir masih menjadi tantangan terbesar dalam budidaya melon di kawasan tersebut. Genangan air yang berlangsung lama membuat kadar air pada buah meningkat sehingga rasa manis berkurang dan batang tanaman berisiko membusuk. Pengelola pun berencana meninggikan area greenhouse agar lebih aman ketika musim hujan tiba.

“Pengetahuan yang kami peroleh menjadi bekal yang bermanfaat sekaligus membuka wawasan bahwa pemanfaatan lahan secara optimal dapat mendukung keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tutup Nuris Shabrina.

 

*) Penulis: Muhammad Bimo Wijoyo