Wujudkan MPLS Ramah 2026, Mendikdasmen Terbitkan Aturan Penggunaan Gawai

penggunaan gawai

MAKLUMAT — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menerbitkan surat edaran terkait pembatasan penggunaan gawai bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun sebagai bentuk komitmen perlindungan anak di ruang digital.

Hal ini ia sampaikan dalam peluncuran resmi Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (RANA) yang diterapkan melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah pada Senin (13/7/2026) di Aula Gedung BBPPMPV BOE Malang.

“Kami juga baru menerbitkan surat edaran menteri tentang pembatasan penggunaan gawai untuk anak-anak yang berusia di bawah 16 tahun,” ujarnya.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa aturan tersebut bukanlah bentuk larangan, melainkan pengawasan terhadap penggunaan teknologi dengan bijak dan untuk kepentingan edukatif. Ia menyadari bahwa menciptakan ruang aman bagi anak tidak hanya pada lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Karena ancaman kekerasan bisa datang dari ruang digital yang mengintai kesehatan fisik dan mental anak, dimana digital civility index masyarakat Indonesia masih ternilai rendah berdasarkan data survei global.

“Melalui MPLS Ramah dan gerakan RANA, kami tidak hanya mengajak anak-anak supaya menguasai tekologi digital, tetapi juga memiliki keadaban digital. Selain memiliki kompetensi digital, penting kita tanamkan pada anak-anak untuk memiliki digital civility,” jelasnya.

Baca Juga  Komitmen Pendidikan Bermutu, Merata, dan Inklusif, DPR Setujui Usulan Pagu Anggaran Kemendikdasmen Tahun 2026

Ia juga menjelaskan bahwa Gerakan Nasional RANA merupakan bentuk arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun gerakan budaya ASRI dalam lingkungan pendidikan, yaitu budaya untuk menciptakan lingkungan fisik, sosial, spiritual, dan intelektual menjadi aman, sehat, dan indah. Kebijakan tersebut kemudian sesuai dengan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026.

“Melalui MPLS Ramah dan budaya yang aman dan nyaman, kami ingin menjadikan sekolah sebagai tempat terjadinya meeting point dan melting point bagi seluruh anak Indonesia. Berusaha bagaimana lingkungan sekolah itu lebih humanis dan inklusif,” ucap Abdul Mu’ti.

Di akhir sambutannya, Abdul Mu’ti menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bersinergi membangun generasi Indonesia yang sehat dan kuat. “Saya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak untuk bersama-sama kita bersinergi membangun generasi Indonesia yang sehat, generasi Indonesia yang kuat,” tandasnya.

Sejumlah pemimpin tinggi negara turut hadir menyampaikan sambutannya dalam agenda peluncuran ini. Di antaranya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Turut hadir juga Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, dan Bupati Malang, Hj Muhammad Sanusi. Hadir juga Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Dr Aries Agung Paewai, serta masih banyak lagi.

Baca Juga  Banyak yang Belum Aktivasi Rekening PIP, Kemendikdasmen Perpanjang Batas Waktu Hingga 28 Februari 2026

 

*) Penulis: Fatin Azmi Fauziyah