Mahasiswa KKN 201 UINSA Edukasi PHBS dan Anti-Perundungan di SDN Maskuning Wetan I Bondowoso

UINSA

MAKLUMAT — Mahasiswa KKN Kelompok 201 UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta Anti-Perundungan di SDN Maskuning Wetan I, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso, Rabu (15/7/2026).

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berupaya menanamkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan dan membangun karakter sejak usia sekolah dasar.

“Ya, dengan ini kami harap program kerja ini menyasar semua kalangan baik kaum tua ataupun muda. Edukasi kesehatan lingkungan sejak usia dini sangat penting untuk memutus rantai permasalahan lingkungan,” kata Ketua KKN 201 UINSA, Achmad Al Afa Labib.

Afa menilai pengenalan PHBS menjadi bekal penting bagi anak-anak karena lingkungan sekolah dasar merupakan fondasi awal dalam membentuk kebiasaan hidup sehari-hari. Pada usia tersebut, anak juga lebih rentan terhadap berbagai penyakit seperti diare dan cacingan.

Karena itu, ia berharap materi yang diberikan dapat mendorong lahirnya kebiasaan hidup bersih sebagai langkah pencegahan. Selain membahas PHBS, mahasiswa KKN juga mengangkat materi Anti-Perundungan.

Mereka mengenalkan pentingnya menghargai sesama dan membangun hubungan pertemanan yang sehat agar lingkungan sekolah menjadi tempat belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa.

Baca Juga  ​Waspada Hantavirus! Arzeti Bilbina: Jaga Kebersihan, Jangan Panik Berlebihan

“Jadi kami harap kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang menyeluruh bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Afa, edukasi di SDN Maskuning Wetan I menjadi rangkaian terakhir dari program kerja kesehatan lingkungan yang dijalankan kelompok KKN 201 UINSA. Sebelumnya, mereka telah mengadakan sosialisasi dengan tema serupa kepada warga Desa Maskuning Wetan di masjid setempat.

Dengan melibatkan anak-anak dan masyarakat, mereka berharap pesan tentang kesehatan lingkungan dapat menjangkau lebih banyak kalangan.

Pelaksanaan edukasi dibagi menjadi dua kelompok dalam waktu yang sama. Materi PHBS diikuti siswa kelas 3 dan 4 dengan jumlah 20 peserta, sedangkan materi Anti-Perundungan diikuti 20 siswa kelas 5 dan 6. Pembagian tersebut disesuaikan dengan tahap perkembangan psikologis anak sehingga materi yang disampaikan lebih mudah dipahami.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mengenalkan cara mencuci tangan yang benar, membiasakan membuang sampah pada tempatnya, serta menanamkan sikap saling menghormati dalam pergaulan. Penyampaian materi dikemas melalui permainan dan nyanyian agar anak-anak tetap antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

“Anak-anak biasanya gampang bosan jika kebanyakan materi. Karena itu, kami konsep dengan permainan dan nyanyian. Tentu tanpa mengabaikan esensi dari kegiatannya,” tandasnya.

 

Baca Juga  Risma Dorong Gen Z Bondowoso Jadi Desainer Batik, Perluas Lapangan Kerja

*) Penulis: M Habib Muzaki