Puluhan Siswa dan Guru SLB Ikuti Sosialisasi Penguatan Satuan Pendidikan Aman Bencana di Banyuwangi

Siswa SLB PGRI Banyuwangi melakukan simulasi bencana gempa bumi di kelas saat sosialisasi SPAB, pada Sabtu pagi (8/8/2026). (Foto: Dok. FPRB Banyuwangi)

MAKLUMAT — Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Banyuwangi melakukan sosialisasi dan penguatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Inklusif di Sekolah Luar Biasa (SLB) PGRI Banyuwangi, Sabtu (8/8/2026).

Kegiatan tersebut tidak hanya diisi dengan pemaparan materi kebencanaan, tetapi juga praktik simulasi bencana dan evakuasi yang melibatkan puluhan siswa serta guru SLB PGRI Banyuwangi.

Dalam kegiatan ini, FPRB Banyuwangi berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi, Gerkatin, Rumah Zakat, dan Aura Lentera.

Para peserta mendapatkan materi mengenai tanda-tanda bahaya, jalur evakuasi, serta prosedur penyelamatan dari narasumber BPBD. Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik menghadapi situasi bencana.

Salah satu simulasi yang dilakukan adalah “Drop, Cover, and Hold”. Siswa dan guru berlatih mengambil posisi aman untuk melindungi diri ketika terjadi gempa.

Peserta juga mengikuti simulasi evakuasi mandiri dengan berlatih keluar dari ruangan secara tertib. Selain itu, dilakukan praktik evakuasi korban menggunakan tandu dan pemindahan korban dengan brankar.

Karena kegiatan berlangsung di SLB, simulasi juga memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan siswa berkebutuhan khusus. Salah satunya melalui praktik pendampingan siswa pengguna kursi roda ketika melakukan evakuasi.

Baca Juga  Dekat Tambang Tumpang Pitu, FPRB Banyuwangi Dampingi Madrasah Bentuk Satuan Pendidikan Aman Bencana

“Setiap anak punya hak yang sama untuk aman dan selamat dari bencana,” kata Abi Rizal, salah satu instruktur FPRB.

Ketua FPRB Kabupaten Banyuwangi Mahbub Junaidi mengatakan, pembentukan dan penguatan SPAB di SLB PGRI Banyuwangi menjadi bagian dari upaya bersama untuk membangun lingkungan sekolah yang aman, inklusif, siap, dan tangguh menghadapi bencana.

Menurutnya, penguatan SPAB dilakukan dengan meningkatkan pemahaman dan keterampilan warga sekolah, mulai dari evakuasi mandiri, mengenali potensi bahaya, memahami jalur evakuasi dan titik kumpul, hingga membangun budaya kesiapsiagaan yang dapat diterapkan seluruh siswa sesuai kebutuhan dan kemampuannya.

Ia menekankan bahwa konsep inklusivitas dalam kesiapsiagaan bencana berarti seluruh warga sekolah harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk memahami risiko dan menyelamatkan diri.

“Karena kesiapsiagaan bukan tentang siapa yang paling cepat berlari, tetapi tentang bagaimana setiap orang dapat memahami risiko, mengambil tindakan yang tepat, dan mencapai tempat aman,” jelasnya.

Kegiatan sosialisasi SPAB kemudian ditutup dengan evaluasi dan motivasi kepada seluruh warga sekolah. Dari kegiatan tersebut, siswa dan guru diharapkan semakin memahami langkah-langkah penyelamatan diri serta pentingnya kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah.

Mahbub menilai sekolah memiliki peran penting dalam membangun budaya kesiapsiagaan sejak dini karena menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya generasi penerus.

Baca Juga  Pelatihan BHD Sekolah Muhammadiyah Se-Sidoarjo Batch 2: Membangun Pendidik Tanggap Darurat

“Karena itu, membangun budaya aman bencana harus dimulai sejak dini melalui satuan pendidikan,” tegasnya.

Pendampingan SPAB tersebut menjadi bagian dari komitmen FPRB Banyuwangi dalam mendukung sekolah agar lebih siap dan mampu melindungi seluruh warga sekolah dari berbagai potensi bencana.

“Kami berharap, SLB PGRI Banyuwangi menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk bersama-sama membangun budaya sadar bencana demi masa depan yang lebih aman,” pungkas Mahbub.***

*) Penulis: Irwan Suryanto