MAKLUMAT — Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI–DPD RI Tahun 2026 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026) tidak hanya menghadirkan suasana kenegaraan melalui pidato Presiden Prabowo Subianto. Nuansa kebinekaan Indonesia juga begitu terasa melalui beragam busana adat yang dikenakan para anggota MPR RI dan tamu undangan.
Momen ini juga menjadi wadah unjuk kebudayaan Nusantara bagi para wakil rakyat. Salah satu figur yang menyedot perhatian publik lewat penampilannya yang anggun adalah Anggota DPD RI / MPR RI asal Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, M.E.I.
Berdiri megah di bawah lambang Negara Garuda Pancasila di Gedung Nusantara, keponakan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa yang akrab disapa Ning Lia ini tampil memikat dengan konsep Islamic Ethno-Chic—sebuah perpaduan busana Muslimah kontemporer yang menyatukan kebaya modern, jarik tradisional, dan sentuhan aksesori modern secara harmonis.
Perkawinan Kebaya Modern dan Sentuhan Etnik
Secara visual dari atas hingga bawah, penampilan Ning Lia menggambarkan struktur busana formal modern yang berakar kuat pada tradisi Jawa:
1.Atasan Kebaya Brokat Putih
Ning Lia mengenakan atasan kebaya brokat/renda berwarna putih bersih (off-white) bersiluet tunik panjang. Warna putih mengekspresikan kesan suci, tenang, dan penuh integritas, sementara tekstur rendanya memberikan dimensi estetika feminin yang tetap santun untuk wakil rakyat.
2.Jarik Batik Parang (Bawahan)
Untuk bagian bawahan, ia mengenakan kain jarik batik panjang dengan siluet lurus (pencil skirt style). Potongan ini memberikan kesan jenjang, rapi, dan formal, namun tetap memudahkan mobilitas saat menghadiri agenda kenegaraan.
3.Selendang Batik Senada
Aksen utama terletak pada selendang batik Parang berwarna sogan (cokelat keemasan) yang diselempangkan secara miring dari bahu melintasi dada. Penggunaan selendang ini memperkuat kesan berwibawa (regal) khas wanita keraton.
4.Filosfi Batik Parang
Motif Parang—salah satu motif tertua Keraton Jawa—memiliki pola garis diagonal jalin-menjalin seperti gelombang laut. Motif ini melambangkan kekuasaan, kepemimpinan, jalinan yang tidak pernah putus, serta semangat pantang menyerah.
Aksesori: Perpaduan Kepraktisan dan Keanggunan Modern
Melengkapi penampilan etniknya, Ning Lia memadukannya dengan aksesori modern yang fungsional:
-Tas (Handbag)
Membawa top-handle bag berstruktur tegas (structured bag) dengan perpaduan warna cokelat tan dan kanvas monogram gelap. Tas ini memberikan sentuhan luxury-casual yang profesional.
-Sepatu (Pump Shoes)
Menggunakan sepatu pantofel mid-heel berwarna hitam polos. Pilihan sepatu ini sangat klasik, formal, dan mengutamakan kenyamanan (comfort-chic) untuk bergerak aktif di area gedung parlemen.
-Hijab Maroon
Pilihan jilbab berwarna maroon memberikan aksen warna yang hangat dan padu (matching) dengan tone warna cokelat keemasan pada kain batiknya.
Kecintaan pada Batik dan Dorongan Industri Tekstil Nasional
Dibalik penampilannya yang memukau, Ning Lia mengaku bahwa pilihan busananya berawal dari rasa cinta pribadi yang mendalam terhadap wastra Nusantara. Bagi Senator asal Jawa Timur ini, mengenakan batik bukan sekadar urusan estetika, melainkan wujud rasa bangga dan tanggung jawab moral untuk melestarikan budaya bangsa.
“Intinya memang saya itu termasuk pecinta batik. Jadi, banyak baju-baju yang bercorak batik. Karena apa ya? Ya pertama kita harus ikut melestarikan kekayaan bangsa dan negara kita. Kalau dari kitanya tidak ada passion dengan batik, nanti seperti apa? Padahal batik ini kan bagus ya, coraknya macam-macam dan setiap daerah punya kekhasan masing-masing,” ungkap Ning Lia kepada maklumat.id, Sabtu (15/8/2026).
-
Tak hanya menyoal keindahan motif, Ning Lia juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap ekosistem industri batik dan perajin lokal di tanah air. Menurutnya, kualitas bahan dasar menjadi kunci agar batik Indonesia mampu bersaing hingga tingkat internasional.
“Saya harapkan perajin batik itu juga mendapatkan bahan yang bagus. Jadi kain itu memang harus bagus, sehingga batik yang sudah susah-susah dijahit harus ditunjang dengan bahan kain yang berkualitas,” jelasnya.
Ning Lia juga menyampaikan harapannya agar Indonesia tak sekadar menjadi konsumen, melainkan pemain utama tekstil global. Karena itu, ia juga mendorong Indonesia bisa menjadi pusat kain dunia ke depan.
“Potensi kita itu bagus, kemampuan mencanting batik itu kan skill khusus. Tinggal penyediaan kainnya ini yang jadi tantangan buat kita untuk memenuhi aspek internasional,”tuturnya.
Simbol Kebhinekaan dan Identitas Bangsa
Penampilan utuh Lia Istifhama di gedung parlemen memberikan gambaran luas mengenai gaya hidup (lifestyle) pejabat publik masa kini yang sadar akan identitas budaya:
-Nasionalisme Berbasis Wastra Nusantara
Pilihan mengenakan full-set batik tradisional di acara kenegaraan adalah bentuk nyata lokal pride dan diplomasi budaya. Pakaian dijadikan media untuk mempromosikan kekayaan tekstil Indonesia.
-Modernitas Muslimah yang Adaptif
Lia membuktikan busana tertutup dapat dikemas secara modis, anggun, dan kontekstual dengan lingkungan kerja tingkat tinggi (high-level formal wear).
-Citra Perempuan Berdaya dan Dinamis
Kombinasi kebaya tradisional, tas modern, dan sepatu formal yang praktis mencerminkan gaya hidup perempuan Indonesia modern yang cerdas, berbudaya, namun tetap siap bekerja cepat menjalankan amanat rakyat.












