HUT ke-81 RI: Iman, Ilmu, Amal Saleh, dan 4 Syarat Menjadi Bangsa Merdeka

Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Dr M Sholihin Fanani MPSDM. (Foto: Ubay NA/ IST)

MAKLUMAT — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr Muhammad Sholihin Fanani MPSDM mengajak seluruh elemen bangsa untuk mensyukuri kemerdekaan Bangsa Indonesia, sekaligus menjadikan momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 RI sebagai sarana refleksi dan evaluasi untuk perbaikan ke depan menuju Indonesia Emas 2045.

“Kemerdekaan harus disyukuri, bahwa ini adalah nikmat Allah yang sangat besar nilainya bagi bangsa dan negara kita. Oleh karena kita harus menjaga, merawat dan mengisinya dengan hal-hal yang baik untuk kemaslahatan umat dan bangsa,” pesannya kepada Maklumat.id, Ahad (16/8/2026).

“Untuk itu nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan harus diwariskan kepada generasi muda,” sambungnya.

Menurut Sholihin, menyiapkan generasi emas Indonesia harus beriringan antara penguatan keimanan, ilmu pengetahuan, serta amal saleh.

Iman, kata dia, merupakan fondasi bagi generasi muda. “Bila imannya kuat, maka akan menjadi orang yang beriman dan bertakwa. Ini adalah modal utama,” tandasnya.

Kemudian, penguasaan ilmu pengetahuan dinilai menjadi tolok ukur keberhasilan suatu negara. Bila keilmuannya kuat, Sholihin yakin pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA), serta segala potensi bangsa akan mampu dijalankan dengan baik.

Baca Juga  Ketua DPRD Se-Indonesia Digembleng 5 Hari di Akmil Magelang, Prabowo: Penentu Arah Daerah

“Amal saleh adalah hasil atau buah dari keimanan dan ilmu pengetahuan,” terang sosok yang pernah menjabat Kepala SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Surabaya itu.

Momentum Perbaikan

Sholihin berharap, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia dapat menjadi momentum kebangkitan bangsa, melalui refleksi dan berbagai perbaikan dalam tata kelola berbangsa dan bernegara.

“Bangsa Indonesia harus mampu bangkit untuk mengatasi segala macam problem kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” serunya.

Ia menyoroti sejumlah persoalan yang masih terjadi, seperti maraknya kasus korupsi, penegakan hukum, hingga ketimpangan sosial dan ekonomi. Sebab itu, ia mendorong supaya generasi masa depan betul-betul disiapkan dan dididik secara holistik dengan sebaik-baiknya, tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki fondasi spiritual dan akhlak yang bagus.

“Dorong anak-anak muda untuk menuntut ilmu yang disiapkan untuk kebutuhan masa depan bangsa,” tegasnya.

4 Syarat Bangsa Merdeka

Lebih lanjut, mengutip Ibnu ‘Asyur, Sholihin menjelaskan empat syarat bagi suatu bangsa untuk bisa disebut merdeka. Pertama, hurriyah al-i’tiqadiyah, yakni adanya kebebasan untuk memiliki keyakinan. “Sebab Allah sndiri mengatakan tidak ada paksaan dalam agama,” jelasnya.

Kedua, hurriyah al-aqwal, yaitu kebebasan dalam menyampaikan pendapat atau berbicara. Ia menegaskan, bahkan kebebasan berbicara atau berpendapat merupakan bagian dari hak asasi manusia (HAM).

Baca Juga  Mahasiswa UMM Raih Penghargaan Nasional dengan Esai tentang Keterkaitan Fisik dan Mental

Ketiga, hurriyah al-ilmi wat ta’lim, yakni kebebasan menuntut ilmu pengetahuan atau pengalaman.

Keempat, hurriyah al-‘amal, yaitu kebebasan bekerja atau berusaha.

“Kemerdekaan hakikatnya adalah terbebasnya sebuah bangsa dari tekanan lihak-pihak luar untuk menentukan nasibnya sendiri, terjadinya keadilan sosial, dan keterjaminan kehidupan yang makmur,” tegasnya.

Menurut Sholihin, jika hal-hal tersebut belum terpenuhi, maka kemerdekaan yang sesungguhnya belum benar-benar terwujud.

“Oleh karena itu tugas pemimpin adalah mencapai kemakmuran yang dapat dirasakan oleh masyarakat secara merata,” pungkasnya.***