575 Hotspot Karhutla Terdeteksi, PM2.5 Palangkaraya Masuk Kategori Berbahaya

Hotspot karhutla meningkat menjadi 575 titik, PM2.5 Palangkaraya masuk kategori berbahaya

MAKLUMAT — Jumlah hotspot karhutla di Indonesia terpantau meningkat menjadi 575 titik pada Kamis (24/9/2026) malam. Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi provinsi dengan hotspot terbanyak, yakni 261 titik. Data Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui sistem pemantauan SiPongi yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 menunjukkan jumlah hotspot tersebut meningkat 231 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 344 titik.

Kondisi kualitas udara juga memburuk di sejumlah wilayah. Sementara berdasar pantauan BMKG, Jumat (25/9) pukul 09.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Palangkaraya mencapai 657,7 dan masuk kategori berbahaya. Di Samarinda, PM2.5 tercatat 196,2 dan berada pada kategori sangat tidak sehat.

Sementara itu, PM2.5 di Musi 2 Palembang mencapai 162,4 dan di Talang Betutu Palembang tercatat 151,3 pada waktu pemantauan yang sama.

Kalteng Jadi Prioritas

Kalteng menjadi wilayah dengan hotspot tertinggi, yakni 261 titik, naik dari 156 titik pada hari sebelumnya. Sumatera Selatan (Sumsel) berada di urutan berikutnya dengan 25 titik, naik dari 4 titik.

Sementara itu, Kalimantan Barat tercatat 26 hotspot, turun dari 33 titik. Kalimantan Selatan juga turun dari 11 menjadi 9 titik. Jambi tercatat nihil hotspot, turun dari 2 titik, sedangkan Riau tetap nihil.

Baca Juga  Kisah El Nino Menggulingkan Raja, Jangan Sampai Terjadi di Indonesia

Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas tersebut mencatat 321 hotspot pada Kamis (24/9), meningkat dari 206 titik pada hari sebelumnya.

Kemenhut menegaskan hotspot merupakan anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak secara langsung menunjukkan jumlah kebakaran maupun luas area terbakar. Satu kejadian kebakaran juga dapat menghasilkan lebih dari satu hotspot sehingga temuan satelit tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan lapangan.

61 Unit Udara Dikerahkan

Penanganan karhutla dilakukan melalui operasi udara dan darat. Sebanyak 61 unit udara disiapkan, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan operasi modifikasi cuaca (OMC) serta 44 unit untuk water bombing.

Penggunaan armada udara disesuaikan dengan kondisi kebakaran, tutupan awan, arah angin, sebaran asap, jarak pandang, serta faktor keselamatan penerbangan.

Di darat, penanganan melibatkan Manggala Agni bersama BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dan pihak usaha. Kegiatan mencakup patroli, groundcheck, pemadaman langsung, pembuatan sekat bakar, pembasahan, mopping up, hingga pendinginan.

Kalteng menjadi salah satu fokus utama karena memiliki jumlah hotspot tertinggi. Pada wilayah gambut, proses pemadaman membutuhkan pembasahan dan pendinginan secara berkelanjutan karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan.

Baca Juga  BMKG: Potensi La Nina di Indonesia Capai 70 Persen, Tapi Dampaknya Diprediksi Tak Ekstrem

Satwa Terancam

Karhutla juga berisiko terhadap satwa liar karena kebakaran dapat menghilangkan tutupan habitat dan sumber makanan. Kondisi tersebut dapat mendorong satwa berpindah ke area perkebunan maupun permukiman.

Kemenhut mengimbau masyarakat tidak menangani satwa liar yang ditemukan terdampak kebakaran secara langsung. Masyarakat diminta menjaga jarak, mencatat lokasi penemuan, dan melaporkannya kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat.

Pemerintah Perkuat Pencegahan

Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (24/9) memimpin pembahasan mengenai gambut dan karhutla bersama sejumlah akademisi di Istana Merdeka. Dalam pembahasan tersebut diputuskan pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) untuk memperkuat pencegahan serta pengelolaan gambut dan mangrove.

Pemerintah juga akan memperkuat peran Masyarakat Peduli Api di tingkat desa. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan pemadaman, tetapi juga pencegahan berbasis ilmu pengetahuan dan keterlibatan masyarakat lokal.

Upaya tersebut dilakukan bersamaan dengan penguatan deteksi dini, patroli, pemadaman, operasi modifikasi cuaca, serta penegakan hukum.

Asap Ganggu Jarak Pandang

Dampak asap juga terlihat pada kondisi jarak pandang di sejumlah wilayah. Berdasarkan informasi BMKG untuk penerbangan pada Jumat (25/9) dini hari, jarak pandang di Palangkaraya tercatat 2 kilometer akibat asap dan Pontianak 1,5 kilometer.

Baca Juga  Bromo Terbakar 60 Hektare, DPR Desak Kemenhut Perkuat Deteksi Dini

Jarak pandang di Palembang tercatat 5 kilometer dengan kondisi asap, Jambi 5 kilometer dengan kondisi asap, Pekanbaru 7 kilometer dalam kondisi berawan, dan Banjarmasin 8 kilometer dengan kondisi sebagian berawan.

Di wilayah Kalimantan Tengah lainnya, jarak pandang di Buntok tercatat 800 meter dan Muara Teweh 1 kilometer, keduanya dalam kondisi asap.

Kemenhut mengingatkan kondisi asap tidak selalu bergerak sejalan dengan jumlah hotspot. Asap dapat bertahan dan berpindah mengikuti kondisi atmosfer, sementara kebakaran di lahan gambut dapat menyisakan bara di bawah permukaan.

Masyarakat diminta memantau kualitas udara, mengikuti informasi pemerintah daerah, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila kualitas udara memburuk. Anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih.

Kemenhut juga mengingatkan masyarakat tidak melakukan pembakaran untuk membuka atau membersihkan lahan. Setiap kejadian asap, kebakaran, pembakaran lahan, maupun temuan satwa terdampak karhutla diminta segera dilaporkan kepada pihak berwenang.***