Ketua PWM Jatim Dorong Kader Perempuan Berani Masuk Ranah Politik

Ketua PWM Jatim Prof Dr Dr Sukadiono MM (dua dari kiri) saat menyampaikan sambutan sekaligus membuka Sekolah Politik Perempuan di Amaris Hotel, Surabaya, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Ubay NA/ IST)

MAKLUMAT — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Prof Dr dr Sukadiono MM mengajak para kader perempuan Persyarikatan Muhammadiyah untuk berani masuk ke ranah politik, baik di ranah eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.

Hal itu ia sampaikan ketika memberikan sambutan sekaligus membuka forum Sekolah Politik Perempuan yang diselenggarakan oleh Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PWM Jawa Timur, di Amaris Hotel, Kota Surabaya, Sabtu (26/9/2026).

Sukadiono—yang kini juga menjabat sebagai Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK RI—mengungkapkan bahwa belum ada regulasi di ranah eksekutif yang mengatur keterwakilan perempuan minimal 30 persen, layaknya di legislatif.

Namun, dalam praktiknya, ia menyebut cukup banyak posisi di dalam birokrasi yang diisi oleh perempuan. “Jadi misalnya di bawah kedeputian kesehatan ini ada 50 pegawai, nah itu 40 adalah perempuan semua. Baru yang 10 itu laki-laki,” ungkapnya.

“Jadi di birokrasi meskipun tidak ada ketentuan 30 persen perempuan seperti di legislatif, tapi praktiknya ternyata sudah banyak perempuan di lembaga-lembaga negara,” sambung sosok yang pernah menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya itu.

Muhammadiyah Masih Minim Kader di Birokrasi

Menurut Sukadiono, kader-kader di lingkungan Muhammadyah dan Aisyiyah saat ini masih sangat jarang yang berani terjun di ranah politik dan ruang publik, baik di legislatif, eksekutif, amupun yudikatif.

Baca Juga  Muhammadiyah Perlu Memperkuat Dakwah di Jalur Politik

“Kita di Muhammadiyah dan Aisyiyah masih sangat minim yang perempuan-perempuan ini di legislatif, maupun di birokrasi pemerintahan, masih jarang,” sorotnya.

Ia mengajak kader-kader perempuan Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk mengimplementasikan hasil dari Sekolah Politik Perempuan serta berbagai pelatihan dan pembekalan yang pernah mereka ikuti.

“Jangan hanya berhenti di tataran wacana, hanya pengetahuan saja, tapi tidak berani mengimplementasikan,” tegas Sukadiono.

Ia menyoroti mentalitas sejumlah kader Persyarikatan yang menurutnya sering minder. Padahal secara kompetensi mampu bersaing dengan orang-orang lainnya.

“Kader Muhammadiyah itu kadang wedi dhisik, padahal secara kemampuan, kompetensi kader-kader kita itu tidak kalah dengan yang lainnya. Harus berani. Jadilah orang yang kompetitif,” tandas Sukadiono.