AI Percepat Pekerjaan Guru, tetapi Guru Tetap Jadi Aktor Utama

guru

MAKLUMAT — Dosen FISIPOL Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Putri Dwi Permata Indah mengatakan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran sosiologi tidak cukup dilihat sebagai tren teknologi. Menurutnya, AI perlu ditempatkan sebagai alat yang membantu guru dalam menjalankan tugas pembelajaran dan pekerjaan profesional.

“AI itu jangan hanya dibahas sebagai tren teknologi. Tapi bagaimana AI ini bisa membantu kita dalam pembelajaran dan profesionalitas kita,” katanya

Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Magister Sosiologi UNESA bersama MGMP Sosiologi Sidoarjo bertema Optimalisasi AI untuk Pembelajaran Sosiologi dan Kinerja Profesional Guru di FISIPOL UNESA, Senin (28/9/2026).

Salah satu hal yang dibahas ialah pengalaman guru dalam menyiapkan perangkat pembelajaran. Putri mencontohkan pembuatan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang sebelumnya dapat menghabiskan waktu berhari-hari.

Dengan bantuan AI, proses tersebut dapat dipersingkat sehingga pekerjaan yang semula berlangsung berjam-jam bisa diselesaikan dalam hitungan puluhan menit. “AI hanya menjadikan pekerjaan kita lebih cepat. Dari berjam-jam menjadi puluhan menit,” ujarnya.

Dalam praktiknya, AI dapat digunakan untuk membuat rancangan awal, membantu pencarian pola informasi, dan mendukung penyusunan berbagai kebutuhan pembelajaran. Putri juga memperkenalkan sejumlah perangkat dalam ekosistem AI yang dapat digunakan untuk pembelajaran ilmu sosial, seperti NotebookLM, Perplexity, hingga Napkin. Masing-masing perangkat memiliki fungsi dan keterbatasan yang perlu dipahami guru.

Baca Juga  AI dan Krisis Kejujuran Intelektual: Menuju Asesmen Pendidikan yang Berkemajuan

Para peserta kemudian diajak menyusun prompt dengan format KTKF, yaitu konteks, tugas, kriteria, dan format. Konteks menjelaskan posisi pengguna dan karakter siswa yang diajar. Tugas menentukan pekerjaan yang ingin dilakukan AI, sedangkan kriteria berisi persyaratan yang harus dipenuhi. Format menentukan bentuk hasil yang diharapkan.

“AI hanya sebagai asisten. Bukan penentu, guru tetap menjadi aktor utama,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menerima materi. Mereka juga mempraktikkan penggunaan AI mulai dari mencari fenomena, menyusun LKPD, hingga membuat soal dengan tingkat berpikir tingkat tinggi atau HOTS. Penggunaan AI diarahkan untuk membantu proses kerja guru tanpa mengambil alih keputusan dalam pembelajaran.

Menurut Putri, AI memiliki kemampuan untuk mempercepat eksekusi pekerjaan, tetapi tidak dapat menggantikan pemahaman guru terhadap konteks sosiologis, nilai etika, dan penilaian akhir. Karena itu, pemanfaatan teknologi tetap membutuhkan keputusan dan tanggung jawab dari guru.

“AI mempercepat proses kerja. Tetapi kualitas dan jiwa pembelajaran tetap berada di tangan profesionalitas seorang guru,” katanya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki