Sosiolog UNESA Soroti Mitos Kendali Manusia atas AI

MAKLUMAT — Pakar Sosiologi dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Moh Mudzakkir, PhD menegaskan bahwa Akal Imitasi (AI) telah bertransformasi dari sekadar alat bantu menjadi bagian dari aktor yang ikut memengaruhi cara manusia berperilaku.

Menurutnya, selama ini masih terdapat anggapan umum bahwa AI sepenuhnya berada di bawah kendali manusia. Namun dalam kajian-kajian mutakhir, pandangan tersebut perlu diperluas, karena entitas nonmanusia seperti teknologi juga memiliki peran signifikan dalam jaringan kehidupan sosial.

“Maka dalam kajian-kajian mutakhir, aktor sosial itu bukan hanya manusia sebagai individu, tetapi juga non-human. Non-human itu bisa jadi teknologi, virus, hewan, alam, dan sebagainya,” ujar Mudzakkir kepada wartawan Maklumat.id saat ditemui di Kantor PWM Jatim, Surabaya, Rabu (11/2/2026).

Mudzakkir menjelaskan bahwa pemikiran semacam ini telah lama dipopulerkan melalui Actor-Network Theory (ANT), sebuah pendekatan teoretis yang dikembangkan oleh sosiolog Prancis, Bruno Latour. Teori ini memandang realitas sosial sebagai hasil jaringan hubungan antara berbagai aktor, baik manusia maupun nonmanusia.

Dalam ANT, sebuah benda atau entitas nonmanusia tidak lagi dipandang sebagai objek pasif semata, melainkan memiliki agensi. Artinya, mereka memiliki kemampuan untuk memengaruhi dinamika dan keputusan manusia dalam suatu kehidupan sosial tertentu.

Baca Juga  Menyiapkan Generasi Masa Depan: dari "Safe AI" Menuju "Developmental AI"

“ANT adalah teori tentang jaringan aktor. Aktor itu tidak semuanya manusia, karena teknologi bisa juga menjadi aktor. Virus juga bisa. Hewan juga bisa,” jelas pria yang juga adalah Wakil Sekretaris PWM Jatim tersebut.

Ia mencontohkan pandemi Covid-19 yang telah menunjukkan bagaimana virus —entitas nonmanusia— mampu mengubah tatanan kehidupan di berbagai sektor. Termasuk dalam aspek pendidikan, ekonomi, hingga pola interaksi sosial manusia.

“Virus itu apa? Non-human juga. Bagaimana virus yang menyebar itu kemudian memengaruhi dimensi kehidupan dalam berbagai macam bidang dan berdampak bagi manusia,” ungkapnya.

Dalam konteks AI, Mudzakkir mengingatkan pentingnya kesadaran dan sikap kritis masyarakat dalam berinteraksi dengan teknologi ini. AI bukan sekadar alat yang netral, karena cara teknologi tersebut dirancang, diterapkan, dan diprogram untuk dapat memengaruhi perilaku serta keputusan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menegaskan, pemahaman bahwa AI menjadi bagian dari jaringan aktor sosial akan membawa kesadaran penting, yakni manusia perlu mengembangkan literasi digital dan etika teknologi. Hal ini bertujuan agar penggunaan AI dapat membawa manfaat nyata tanpa mengabaikan dampaknya terhadap struktur sosial.​