Matana Umsura Dikirim ke NTT, Bawa Misi Pulihkan Penyintas Gempa

Matana Umsura

MALUMAT – Sebanyak 11 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) berangkat ke Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk menjalankan misi kemanusiaan. Melalui Matana Umsura (Mahasiswa Tanggap Bencana), mereka akan terlibat langsung dalam proses pemulihan masyarakat terdampak gempa bumi.

Tim Matana Umsura dilepas pada Rabu (30/9) di Gedung At Tauhid Tower Dasar Umsura. Mereka akan menjalankan misi selama sekitar satu bulan, termasuk perjalanan pulang-pergi.

Menariknya, para relawan tidak datang dari satu bidang keilmuan. Tim tersebut terdiri atas mahasiswa kedokteran, keperawatan, kebidanan, pendidikan, studi agama-agama, hingga perbankan syariah.

Keragaman kompetensi itu menjadi modal Matana Umsura dalam menjalankan program di lokasi bencana. Mereka tidak hanya diarahkan untuk membantu kegiatan sosial, tetapi juga mendukung pemulihan fasilitas pendidikan, penguatan literasi, serta pendampingan psikologis bagi anak-anak terdampak.

Pengalaman Tangani Bencana

Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Digitalisasi Umsura Radius Setiyawan mengatakan, para mahasiswa telah melalui proses seleksi, pembekalan, dan pelatihan sebelum diterjunkan ke lapangan.

“Ini bukan kali pertama Umsura menerjunkan mahasiswa ke lokasi bencana. Mahasiswa yang telah lolos seleksi program ini akan dikonversikan SKS-nya sehingga mereka tidak perlu mengikuti KKN lagi,” kata Radius.

Baca Juga  Dua Dosen UMSURA Lulus Sertifikasi Penceramah BPIP RI

Menurut dia, kondisi pascabencana membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan kegiatan pengabdian masyarakat pada umumnya. Karena itu, mahasiswa Matana Umsura dibekali kemampuan untuk menghadapi kondisi di lapangan.

“Kami melepas relawan untuk melakukan pengabdian masyarakat di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Ende. Ada 11 mahasiswa yang kami berangkatkan dengan total waktu satu bulan, termasuk perjalanan pulang dan pergi,” ujarnya.

Radius menyebut keberagaman latar belakang mahasiswa diharapkan membuat kontribusi tim lebih luas. Pendampingan juga diperkuat empat dosen dan tenaga kependidikan yang memiliki kompetensi di bidang kesehatan dan penanganan bencana.

“Mahasiswa yang kami kirim dari berbagai jurusan, mulai kedokteran, pendidikan, bidan, keperawatan hingga studi agama-agama. Mereka juga didampingi dosen-dosen yang memiliki kepakaran di bidang penanganan bencana,” imbuhnya.

Selain mengirim Matana Umsura, kampus sebelumnya juga menyalurkan bantuan bagi perempuan dan anak terdampak bencana. Bantuan berupa boneka, pembalut, dan popok dikumpulkan oleh lebih dari 3.000 mahasiswa baru dalam rangkaian kegiatan MOX 2026.

Lazismu Umsura juga menyerahkan bantuan dana sebesar Rp49.592.971 untuk korban bencana di NTT.

Pentingnya Bantuan Psikis

Radius menegaskan, pemulihan pascabencana tidak berhenti pada bantuan material. Pendampingan psikologis, pendidikan, literasi, dan keterlibatan langsung bersama masyarakat juga dibutuhkan agar proses pemulihan berjalan lebih menyeluruh.

Baca Juga  KKN Mahasiswa Umsura Didorong Penguatan SDGs

Pelaksanaan program Matana Umsura di Ende telah dikoordinasikan dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Koordinasi tersebut dilakukan agar kegiatan relawan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.

Salah seorang relawan, Junaidi Mustafa, mahasiswa S1 Pendidikan Matematika asal NTT, mengaku senang dapat terlibat dalam program tersebut.

Bagi Junaidi, kesempatan menjadi bagian dari Matana Umsura memiliki makna khusus karena ia bisa kembali ke tanah kelahirannya sekaligus membantu masyarakat yang sedang menjalani pemulihan.

“Saya senang bisa lolos dalam program ini. Bisa terlibat langsung dalam aksi kemanusiaan di tanah kelahiran tentu menjadi pengalaman yang berarti bagi saya,” ujar Junaidi.

Mahasiswa penerima KIP-K itu berharap kehadiran Matana Umsura dapat memberi manfaat bagi masyarakat Ende. Bukan hanya melalui bantuan, tetapi juga lewat pengetahuan, pendampingan, dan keahlian yang dibawa para mahasiswa dari berbagai bidang.