MAKLUMAT — Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Kabupaten Banyuwangi dirayakan bukan sekadar dengan melakukan upacara di halaman kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi pada Kamis pagi (1/10/2026). Melainkan juga diperingati dengan pawai, napak tilas, refleksi, serta tabur bunga di Taman Pahlawan Lubang Buaya di Dusun Cemetuk, Cluring, pada Kamis sore.
Pawai dan napak tilas diikuti oleh pengurus dan anggota Pemuda Ansor se Kabupaten Banyuwangi saat menuju lokasi Taman Pahlawan Lubang Buaya Dusun Cemetuk, Desa Cluring mulai pukul 14.30 WIB.
Tiba di lokasi acara pada pukul 16.00, peserta napak tilas bersama Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan Forkopimka) Cluring, Kepala Desa Cluring, tokoh agama dan masyarakat Desa Cluring melakukan upacara penghormatan, refleksi, dan tabur bunga. Rangkaian kegiatan itu sebagai momentum mengenang peristiwa sejarah lokal yang tragis, karena menewaskan puluhan anggota Ansor pada tahun 1965.
“Kegiatan di Lubang Buaya Dusun Cemetuk ini dalam rangka mengenang peristiwa sejarah kelam yang menewaskan puluhan anggota Ansor akibat diracun lalu dibantai oleh anggota PKI dan Gerwani,” tutur Arfi Rizaldi, Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Banyuwangi dalam siaran persnya pada Jumat (2/10/2026).
Sementara itu, upacara memperingati Hari Kesaktian Pancasila diikuti para ASN di lingkungan Pemkab Banyuwangi, para pelajar dan pengurus ormas, seperti Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan (DHC BPK) 45 Kabupaten Banyuwangi, Legiun Veteran Republik Indonesia, hingga Pepabri.
Mahasiswa Gelar Refleksi 30 September
Sebelumnya, Refleksi 30 September diiikuti oleh puluhan mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Banyuwangi (Uniba) di aula Sekretariat Gedung Juang 45 pada Rabu (30/9/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh pengurus DHC BPK 45 Kabupaten Banyuwangi berkolaborasi dengan Prodi Pendidikan Sejarah Uniba itu menghadirkan empat narasumber, yakni Kepala Bidang Ideologi Bakesbangpol Kabupaten Banyuwangi Anas Sugiarto; Tokoh Agama Drs H Bambang Lukito SH MM; Soekri, purnawirawan RPKAD yang terlibat penumpasan PKI di Blitar Selatan; serta Dr (Can) Miskawi SPd MPd, yang merupakan dosen Prodi Pendidikan Sejarah Uniba.
Miskawi mengatakan, Refleksi 30 September bertujuan agar mahasiswa tahu peristiwa sejarahnya. Namun, ia menegaskan jangan sampai nuansa kebencian menjadi berulang. Peristiwa tragis itu, kata dia, tidak boleh terjadi lagi di kemudian hari.
“Apalagi sejarah lokal menyebutkan bahwa sebanyak 62 orang Pemuda Ansor tewas dalam peristiwa di Cemetuk,” tandasnya.
Menurutnya, perbedaan adalah hal yang lumrah, termasuk dalam konteks politik. Ia mengajak semua pihak untuk menyikapi perbedaan secara bijaksana dan mengedepankan toleransi. “Sebab, perbedaan politik adalah hal yang biasa,” imbuh Miskawi.
Ketua DHC BPK 45 Kabupaten Banyuwangi Akhmad Touwil Firdaus SE MSi mengakui, kegiatan refleksi itu sebagai upaya tidak melupakan sejarah. Dengan menghadirkan para mahasiswa diharapkan bisa menanamkan jiwa, semangat, dan nilai-nilai kejuangan 45. Termasuk mengenang sejarah kelam G30S/PKI yang terjadi pada tahun 1965.
“Seperti pesan Sukarno, jangan sekali-kali melupakan sejarah atau Jas Merah,” Akhmad Touwil Firdaus.***
*) Penulis: Irwan Suryanto













