MAKLUMAT — Di usia yang ke-81 tahun ini, Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak lagi hanya dikenal sebagai garda terdepan pertahanan negara di medan perang. Ada wajah baru yang semakin akrab di mata rakyat: TNI yang hadir di sawah, di sekolah, di puskesmas, bahkan di tengah dinamika ekonomi desa. Inilah yang disebut dengan TNI PRIMA—sebuah visi besar yang bukan sekadar slogan, melainkan budaya pengabdian yang dampaknya terasa nyata dan berkelanjutan di seluruh penjuru Nusantara.
Lalu apa Itu TNI PRIMA?
PRIMA adalah akronim dari Profesional, Responsif, Integratif, Modern, dan Adaptif. Lima kata ini menjadi kompas baru bagi prajurit TNI dalam menjalankan tugasnya, tidak hanya di bidang pertahanan dan keamanan, tetapi juga dalam mendukung pembangunan nasional secara menyeluruh. Panglima TNI sendiri menekankan bahwa PRIMA harus menjadi arah pengembangan kemampuan TNI dalam berpikir, bersikap, dan bertindak, baik saat ini maupun di masa depan.
Visi ini muncul sebagai respons terhadap perubahan zaman. Ancaman terhadap kedaulatan negara kini tidak lagi hanya berbentuk invasi militer, tetapi juga ancaman multidimensional seperti krisis pangan, bencana alam, disrupsi teknologi, hingga ketidakstabilan sosial. Dalam konteks inilah, TNI dituntut untuk bertransformasi menjadi kekuatan yang tidak hanya tangguh di medan tempur, tetapi juga sigap dan relevan dalam menjawab kebutuhan rakyat sehari-hari.
Dari Medan Tempur ke Sawah Rakyat
Salah satu wujud paling nyata dari TNI PRIMA adalah keterlibatan aktif dalam program ketahanan pangan. Sejak 2024 hingga 2025, TNI Angkatan Darat telah membentuk 100 Batalyon Teritorial Pembangunan (BTP) yang tersebar di berbagai daerah. Tugas mereka bukan hanya menjaga keamanan wilayah, tetapi juga mengelola lahan tidur menjadi sawah dan perkebunan produktif, sekaligus memberikan pelatihan kepada masyarakat sekitar tentang tata cara pengelolaan lahan yang baik.
Di Kalimantan Timur, misalnya, Korem 091/Aji Surya Natakesuma berhasil mencetak 5.000 hektare sawah baru dengan menggandeng petani lokal. Yang menarik, program ini tidak berhenti pada bantuan sesaat. Setiap satuan membentuk klaster pertanian, peternakan, hingga perikanan yang bermitra dengan pelaku usaha tani setempat, membangun sistem dari hulu hingga hilir agar program berjalan berkelanjutan. Dengan kata lain, TNI tidak hanya memberi ikan, tetapi juga mengajarkan cara memancing, bahkan membangun kolam ikannya bersama-sama.
Pendekatan serupa juga terlihat di Sulawesi Tengah, di mana TNI turut membina generasi muda melalui kegiatan yang menanamkan semangat kebangsaan, sekaligus berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan daerah. Kolaborasi antara TNI dan pemerintah daerah ini berupaya memperluas pembangunan hingga ke pelosok, memperkuat infrastruktur, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menjaga stabilitas daerah guna mendukung investasi dan pertumbuhan ekonomi.
TNI di Tengah Kebutuhan Rakyat
Selain di sektor pangan, TNI PRIMA juga merambah ke bidang pendidikan dan kesehatan. Kompi-kompi kesehatan yang dikelola oleh BTP menyediakan fasilitas kesehatan bagi masyarakat di wilayah terpencil, sementara prajurit TNI juga terlibat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digaungkan pemerintah. Kehadiran mereka di lini ini bukan sekadar tugas tambahan, melainkan bagian dari komitmen untuk menjadi kekuatan yang integratif—terhubung dengan kebutuhan riil rakyat.
Di bidang pendidikan, TNI turut serta dalam pembinaan karakter generasi muda. Melalui kegiatan yang melibatkan ratusan siswa sekolah menengah atas, prajurit TNI menanamkan nilai-nilai kebangsaan, disiplin, dan cinta tanah air. Ini adalah bentuk investasi jangka panjang, karena ketahanan negara tidak hanya dibangun dari alutsista yang modern, tetapi juga dari generasi yang sadar akan identitas dan tanggung jawabnya sebagai warga negara.
Modernisasi yang Tidak Melupakan Akar
Tentu saja, visi PRIMA tidak mengabaikan tugas utama TNI sebagai kekuatan pertahanan. Modernisasi alutsista melalui program Minimum Essential Force (MEF) tetap menjadi tulang punggung upaya ini. Namun, yang membedakan era ini adalah mindset yang menyertainya. Prajurit TNI kini dituntut untuk tidak hanya menguasai senjata dan taktik perang, tetapi juga peka terhadap perubahan di lingkungan tugas, mengenali potensi ancaman sejak dini, serta bertindak cepat, tepat, dan terukur ketika negara dan rakyat membutuhkan.
Inilah yang dimaksud dengan adaptif. TNI tidak lagi kaku dalam definisi tugasnya. Ketika bencana alam melanda, mereka menjadi tim evakuasi pertama. Ketika krisis pangan mengancam, mereka turun ke sawah. Ketika pandemi menyerang, mereka membantu distribusi logistik dan vaksinasi. Fleksibilitas ini membuat TNI semakin dicintai rakyat, karena kehadirannya selalu relevan dengan konteks zaman.
Dampak yang Terus Mengalir
Yang paling menggembirakan dari semua ini adalah dampak yang tidak berhenti pada seremoni atau berita sesaat. Program-program TNI PRIMA dirancang untuk berkelanjutan. Lahan yang dibuka tidak ditinggalkan begitu saja, tetapi dikelola bersama masyarakat hingga menghasilkan panen yang bisa dinikmati bertahun-tahun. Pelatihan yang diberikan bukan sekadar teori, tetapi pendampingan intensif yang memastikan masyarakat mampu mandiri.
Di tingkat kebijakan, Gugus Tugas Kedaulatan Pangan TNI terus melaksanakan percepatan, pengawasan, dan pendampingan program ketahanan pangan secara menyeluruh di seluruh wilayah Indonesia. Ini menunjukkan bahwa keterlibatan TNI bukan insidental, melainkan terstruktur dan terintegrasi dengan strategi nasional. Dengan potensi sumber daya manusia yang besar, jaringan satuan yang tersebar hingga pelosok, serta kemampuan logistik dan teknologi yang dimiliki, TNI menjadi kekuatan strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Refleksi di Usia 81 Tahun
Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi TNI, yang genap berusia 80 tahun, dan kini di 2025-2026, usia itu bertambah menjadi 81 tahun. Refleksi ini bukan hanya tentang berapa banyak tank atau pesawat yang dimiliki, tetapi tentang seberapa besar dampak kehadiran TNI bagi kehidupan rakyat sehari-hari. Ungkapan “TNI PRIMA” bukan sekadar slogan. Ia menandakan komitmen institusional TNI untuk menjadi kekuatan yang profesional, modern, dan adaptif, dengan kualitas sumber daya manusia, kesiapan operasional, dan modernisasi alutsista yang terus ditingkatkan.
Di tangan prajurit yang menjadikan PRIMA sebagai budaya pengabdian, TNI bukan lagi menara gading yang hanya terlihat saat upacara atau latihan perang. Mereka adalah tetangga yang membantu panen, guru yang mengajarkan nilai kebangsaan, tenaga kesehatan yang datang ke desa terpencil, dan mitra petani yang membangun lumbung pangan bersama.
TNI yang Kita Butuhkan
Di tengah dinamika global yang penuh tekanan geopolitik dan gangguan rantai pasok, peran TNI semakin relevan. TNI PRIMA adalah jawaban atas kebutuhan zaman: kekuatan pertahanan yang juga menjadi kekuatan pembangunan. Mereka tidak hanya menjaga kedaulatan di perbatasan, tetapi juga memastikan bahwa setiap rakyat Indonesia bisa makan dengan cukup, belajar dengan layak, dan hidup dengan tenang.
Inilah wajah TNI yang kita butuhkan: yang dampaknya nyata, yang kehadirannya terasa, dan yang kontribusinya terus mengalir dari generasi ke generasi. Bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka memilih untuk selalu hadir, selalu belajar, dan selalu beradaptasi demi Indonesia yang lebih baik.***
*) Penulis: Hery Purnobasuki
Guru Besar FST Universitas Airlangga; Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga











