Pengamat UGM Sindir Prabowo soal MSCI: Berani Menantang, Ujungnya Bisa Minta Maaf

josua sinambela

MAKLUMAT– Pengamat teknologi informasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Josua Sinambela, menyindir sikap Presiden Prabowo Subianto yang menantang Morgan Stanley Capital International (MSCI) di tengah ancaman perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia.

Sementara Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi meluruskan pernyataan Prabowo soal MSCI bukan untuk menantang, tapi mendorong reformasi pasar modal.

Terkait sindiran terhadap Prabowo, Josua membandingkan gaya Prabowo dengan Rismon Sianipar yang pernah vokal dalam polemik ijazah Joko Widodo dan Gibran Rakabuming Raka, tetapi kemudian menyampaikan permintaan maaf.

Ia menyampaikan sindiran tersebut setelah Prabowo menegaskan Indonesia tidak takut menghadapi MSCI. Pernyataan Presiden itu muncul ketika penyedia indeks global tersebut mengonsultasikan usulan perubahan status pasar modal Indonesia dari kategori pasar negara berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).

“Lama-lama mirip si Momon (Rismon Sianipar) kutengok, semua ditantangin, bahkan si Momon bersumpah juga. Ujung-ujungnya minta maaf,” ujar Josua dikutip, Kamis (22/10/2026).

Sindiran itu menyoroti perbedaan antara sikap konfrontatif dalam pernyataan publik dan kebutuhan menyelesaikan persoalan secara konkret. Dalam kasus MSCI, pemerintah tidak hanya menghadapi persoalan komunikasi, tetapi juga tuntutan pembenahan transparansi dan tata kelola pasar modal.

Baca Juga  Tepis Kekhawatiran soal Demokrasi, Prabowo Ceritakan Pengalaman Empat Kali Ikut Pemilu

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut MSCI

Sebelumnya, Prabowo menyampaikan sikap keras terhadap MSCI dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Ia menegaskan Indonesia tidak akan tunduk pada tekanan pihak luar.

“MSCI, dia mau takut-takuti kita. Saya hanya katakan kepada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut siapa pun dan tidak akan gentar,” kata Prabowo.

Presiden juga mengakui pemerintah masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Meski demikian, ia menyatakan Indonesia memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghadapi tantangan.

“Kita punya kekuatan, kita punya keberanian dan kita rela berkorban dan kita tidak mengenal menyerah,” ujarnya.

Prabowo bahkan membuka kemungkinan melakukan penghematan besar-besaran jika kondisi mengharuskannya.

“Kalau perlu kita adakan penghematan besar-besaran, kalau lebih hemat lagi nanti,” kata Prabowo.

MSCI Soroti Transparansi Pasar Modal Indonesia

MSCI pada 16 Oktober 2026 mengumumkan konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia. Lembaga penyedia indeks global itu menyoroti kekhawatiran pelaku pasar terhadap transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi.

MSCI menilai reformasi yang diumumkan otoritas Indonesia belum memperlihatkan kemajuan yang konsisten dan berdampak signifikan. Keputusan final mengenai usulan perubahan klasifikasi tersebut dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.

Baca Juga  Upaya Memutus Rantai Kemiskinan, Prabowo Umumkan Bangun 200 Sekolah Rakyat

Perubahan status menjadi standalone market berpotensi memengaruhi posisi saham Indonesia dalam indeks global dan keputusan investasi yang mengacu pada indeks tersebut. Namun, dampak aktualnya akan bergantung pada keputusan MSCI serta respons investor dan pengelola dana.

Karena itu, persoalan ini tidak cukup dijawab dengan menyatakan Indonesia tidak takut. Pemerintah bersama otoritas pasar modal perlu menjelaskan langkah perbaikan yang terukur, terutama dalam transparansi kepemilikan saham, kualitas data, pengawasan transaksi, dan penegakan aturan.

OJK Luruskan Pernyataan Prabowo soal MSCI: Bukan untuk Menantang

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut Indonesia tidak takut terhadap Morgan Stanley Capital International (MSCI) bukan dimaksudkan untuk menantang penyedia indeks pasar saham asal Amerika Serikat tersebut.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan penjelasan itu di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026. Menurut dia, pemerintah justru mendorong reformasi pasar modal agar semakin kredibel, transparan, dan menarik bagi investor jangka panjang.

“Enggak lah, enggak ada,” kata Friderica saat menanggapi anggapan bahwa pernyataan Prabowo merupakan tantangan terhadap MSCI.

Friderica menjelaska, pembenahan pasar modal Indonesia tidak semata-mata dilakukan untuk merespons penilaian satu penyedia indeks global. OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mendorong perbaikan integritas, transparansi, dan likuiditas pasar.

Baca Juga  Wakil Ketua MPR Dukung Prabowo Ambil Kendali Nasional Atasi Krisis Sampah

“Makanya reformasi terus kita lakukan. Semakin kredibel, semakin likuid, semakin transparan, dan menjadi rumah untuk long-term investment buat masyarakat Indonesia,” ujarnya.

OJK Sebut Reformasi Bukan karena MSCI

Friderica menegaskan agenda pembenahan pasar modal telah berjalan sejak Januari 2026 sesuai arahan Presiden Prabowo. Karena itu, reformasi tersebut merupakan bagian dari upaya memperbaiki berbagai kekurangan dalam struktur pasar modal nasional, bukan semata-mata untuk memenuhi tuntutan MSCI.

“Intinya gini, kita tuh melakukan perbaikan, bukan karena satu global index provider tertentu,” kata Friderica.

Ia juga menyampaikan bahwa BEI telah membangun komunikasi dengan MSCI. Komunikasi itu berlangsung di tengah upaya Indonesia memperkuat kualitas pasar modal dan meningkatkan kepercayaan investor.