Rekam Jejak Perry Warjiyo, Lulusan UGM yang Dua Kali Pimpin Bank Indonesia

Perry Warjiyo mundur dari Gubernur Bank Indonesia.

MAKLUMAT – Rekam jejak Perry Warjiyo menjadi perhatian publik usai  pemerintah resmi menerima pengunduran dirinya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI), Senin (27/7/2026). Presiden Prabowo Subianto menerima pengunduran diri tersebut sekaligus menyampaikan apresiasi atas dedikasi Perry Warjiyo selama hampir tujuh tahun memimpin bank sentral.

Pengunduran diri itu menutup perjalanan panjang Perry Warjiyo sebagai salah satu tokoh penting di bidang kebijakan moneter Indonesia. Ekonom kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, tahun 1959 tersebut mengabdikan lebih dari empat dekade kariernya di Bank Indonesia dan dua kali dipercaya menjabat sebagai Gubernur BI.

Perry pertama kali dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk periode 2018–2023. Pada 2023, ia kembali mendapat kepercayaan memimpin BI untuk periode 2023–2028 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 38/P Tahun 2023 yang ditetapkan pada 5 Mei 2023. Ia mengucapkan sumpah jabatan pada 24 Mei 2023.

Lulusan UGM yang Meraih Gelar Doktor di Amerika Serikat

Perjalanan akademik Perry Warjiyo dimulai di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1982 sebelum melanjutkan studi ke Iowa State University, Amerika Serikat.

Di kampus tersebut, Perry meraih gelar Master pada 1989 dan menyelesaikan program doktor (Ph.D.) bidang ekonomi pada 1991. Bekal akademik itu menjadi fondasi dalam membangun karier sebagai ekonom dan bankir sentral.

Baca Juga  Isi Lengkap Pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI 2025

Berkarier di Bank Indonesia Sejak 1984

Karier Perry Warjiyo di Bank Indonesia dimulai pada 1984. Selama lebih dari 40 tahun, ia menempati berbagai jabatan strategis yang berkaitan dengan kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, riset ekonomi, hingga kerja sama internasional.

Sebelum menjadi Gubernur BI, Perry menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia pada periode 2013–2018.

Sebelumnya lagi, pada 2009–2013, ia dipercaya sebagai Asisten Gubernur yang membidangi kebijakan moneter, makroprudensial, dan internasional. Dalam periode yang sama, ia juga menjabat Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia.

Pernah Menjadi Direktur Eksekutif IMF

Sebelum kembali bertugas di Bank Indonesia pada 2009, Perry Warjiyo lebih dulu berkiprah di tingkat internasional.

Ia menjabat Direktur Eksekutif International Monetary Fund (IMF) pada 2007–2009 dengan mewakili 13 negara anggota yang tergabung dalam South-East Asia Voting Group.

Pengalaman tersebut memperkuat kapasitas Perry dalam merumuskan kebijakan ekonomi Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.

Deretan Penghargaan Bergengsi

Selama berkarier, Perry Warjiyo menerima berbagai penghargaan nasional maupun internasional.

Beberapa penghargaan yang pernah diraihnya antara lain Governor of the Year Asia Pacific 2019 dari Global Markets, Anugerah Hamengku Buwono IX dari Universitas Gadjah Mada pada 2022, Pemimpin Terpopuler di Media Arus Utama 2022 dari Serikat Perusahaan Pers, Pemimpin Terpopuler di Media Pemberitaan Online 2023 dari Indonesia Government Awards, serta Tokoh Syariah ASR 2019 dari Republika.

Baca Juga  Ketua Umum DPD IMM NTB Nilai Pelaku Korupsi MBG Layak Diberi Penjara Seumur Hidup atau Hukuman Mati

Tak hanya itu, di bawah kepemimpinannya Bank Indonesia juga meraih berbagai penghargaan internasional, seperti The Best Central Bank of the Year dari Global Islamic Finance Awards (GIFA) pada 2018 dan 2022, Best Asset Owner in Southeast Asia dari Asian Investor 2022, Global Top Ranking Performers dari Central Banking Publications 2021, serta The Best Macroeconomic Regulator in Asia Pacific dan The Best Systemic and Prudential Regulator in Asia Pacific dari The Asian Banker.

Produktif Menulis Buku Ekonomi

Di luar aktivitas sebagai bankir sentral, Perry Warjiyo dikenal aktif menulis buku, jurnal ilmiah, dan makalah tentang ekonomi, moneter, serta isu-isu internasional.

Sejumlah buku yang ditulisnya menjadi referensi bagi akademisi maupun praktisi ekonomi, antara lain Kebijakan Moneter di Indonesia (2003), Kebijakan Bank Sentral: Teori dan Praktik (2016), serta Central Bank Policy Mix: Issues, Challenges, and Policy Responses (2020).

Karya-karya tersebut memperlihatkan kontribusi Perry tidak hanya dalam praktik kebijakan, tetapi juga dalam pengembangan ilmu ekonomi dan kebanksentralan di Indonesia.***