Sumpah Pemuda dan Generasi Pragmatis: Masih Adakah Ruang Idealisme?

Penulis: Akhmad Hasbul Wafi. *)

MAKLUMAT — Bayangkan jika para pemuda yang berkumpul pada 28 Oktober 1928 lebih dahulu bertanya, “Apa keuntungan yang akan saya dapatkan jika ikut memperjuangkan persatuan Indonesia?”

Mungkin pertanyaan tersebut terdengar menggelitik. Namun, jika dikaitkan dengan kehidupan generasi muda hari ini, pertanyaan serupa justru terasa semakin dekat.

Kita hidup pada masa ketika hampir setiap aktivitas memiliki ukuran keberhasilan yang jelas. Belajar untuk mendapatkan nilai, mengikuti organisasi untuk memperoleh sertifikat, dan membangun relasi untuk memperluas peluang karier.

Semua itu tentu tidak salah. Namun, ketika segala sesuatu hanya dinilai berdasarkan keuntungan pribadi, kita perlu bertanya kembali: masih adakah ruang untuk idealisme?

Ketika Perjuangan Menjadi Transaksi

Sumpah Pemuda merupakan salah satu tonggak penting perjalanan bangsa Indonesia.

Pada 1928, para pemuda dari berbagai organisasi dan latar belakang berhasil membangun kesadaran tentang pentingnya persatuan.

Mereka memahami bahwa masa depan bangsa tidak dapat diperjuangkan apabila setiap kelompok hanya memikirkan kepentingannya sendiri.

Hampir satu abad kemudian, tantangan pemuda telah berubah.

Generasi muda tidak lagi menghadapi situasi penjajahan kolonial seperti pada masa itu. Namun, mereka berhadapan dengan persaingan pendidikan, tekanan ekonomi, perkembangan teknologi, dan tuntutan untuk mencapai keberhasilan.

Baca Juga  Menyelamatkan Raja Ampat

Dalam situasi tersebut, cara berpikir pragmatis menjadi sesuatu yang mudah dipahami.

Persoalannya bukan ketika pemuda ingin memperoleh manfaat dari aktivitasnya, melainkan ketika manfaat pribadi menjadi satu-satunya alasan untuk bertindak.

Kegiatan sosial dianggap kurang menarik jika tidak memberikan penghargaan. Organisasi dinilai berdasarkan jabatan yang dapat diperoleh. Bahkan, proses pendidikan terkadang lebih diarahkan untuk mengejar angka daripada membangun pemahaman.

Apabila kecenderungan tersebut terus dibiarkan, kita berisiko melahirkan generasi yang memiliki banyak pencapaian, tetapi semakin jauh dari persoalan masyarakat.

Tidak Boleh Kehilangan Kepekaan

Kritik terhadap pragmatisme tidak seharusnya hanya diarahkan kepada mahasiswa. Pelajar juga merupakan bagian dari pemuda yang memiliki tanggung jawab dalam membangun kehidupan sosial.

Sekolah bukan sekadar tempat memperoleh nilai akademik, sebagaimana kampus bukan hanya tempat mendapatkan gelar.

Keduanya merupakan ruang untuk membentuk manusia yang mampu berpikir, memahami persoalan, dan mengambil tanggung jawab.

Pelajar yang memilih bersikap jujur ketika memiliki kesempatan menyontek sedang mempertahankan nilai.

Mahasiswa yang berani menyampaikan kritik berdasarkan pengetahuan dan tanggung jawab juga sedang menjaga idealisme.

Begitu pula anak muda yang bersedia membantu masyarakat tanpa mengharapkan imbalan.

Tindakan tersebut mungkin tidak menghasilkan sertifikat atau penghargaan, tetapi memiliki makna sosial yang tidak kalah penting.

Baca Juga  Demokrasi, Janji Manis, dan Realita yang Pahit

Sayangnya, ukuran keberhasilan yang terlalu menekankan pencapaian individu dapat membuat kontribusi semacam ini kurang mendapatkan perhatian.

Jangan Hanya Menyalahkan Pemuda

Meski demikian, munculnya sikap pragmatis tidak dapat dilepaskan dari lingkungan yang membentuk generasi muda.

Ketika pendidikan lebih sering menonjolkan peringkat, dunia kerja menuntut pengalaman sejak dini, dan media sosial mempertontonkan keberhasilan material, tidak mengherankan jika sebagian pemuda semakin berorientasi pada hasil.

Karena itu, kritik terhadap pragmatisme juga perlu diarahkan kepada sistem pendidikan dan lingkungan sosial.

Apakah sekolah telah memberikan ruang yang cukup bagi pelajar untuk berpikir kritis?

Apakah organisasi kepemudaan benar-benar menjadi tempat pembentukan karakter, atau justru terjebak dalam perebutan jabatan?

Apakah masyarakat menghargai anak muda yang memiliki kepedulian sosial, meskipun belum mempunyai pencapaian yang terlihat?

Pertanyaan tersebut penting karena idealisme tidak tumbuh hanya melalui nasihat. Ia membutuhkan lingkungan yang memberikan teladan dan kesempatan untuk dipraktikkan.

Menghidupkan Kembali Semangat Sumpah Pemuda

Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 seharusnya tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Kita perlu menghadirkan kembali nilai perjuangan dalam kehidupan yang lebih nyata.

Pemuda tidak harus meninggalkan cita-cita pribadinya untuk menjadi idealis. Mereka tetap boleh mengejar pendidikan tinggi, membangun karier, dan memperjuangkan kesejahteraan.

Baca Juga  RAPBN 2026: Antara Asta Cita dan Tantangan Tata Kelola

Namun, semua pencapaian tersebut seharusnya tidak membuat mereka kehilangan kepedulian terhadap sesama.

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perubahan besar dapat dimulai ketika seseorang bersedia melihat kepentingan yang lebih luas daripada dirinya sendiri.

Jangan sampai kita menjadi generasi yang berhasil membangun masa depan pribadi, tetapi kehilangan keberanian untuk ikut memperjuangkan masa depan bangsa.

Sebab, idealisme bukan tentang menolak kenyataan, melainkan tentang tetap mempertahankan nilai ketika kehidupan menawarkan banyak alasan untuk mengabaikannya.***

*) Penulis: Akhmad Hasbul Wafi
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Anggota Bidang KDI PW IPM Jawa Timur