MAKLUMAT – Mayoritas negara menetapkan Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026. Negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, hingga Kuwait memastikan keputusan ini setelah hilal Syawal tidak terlihat pada malam ke-29 Ramadan.
Selain kawasan Timur Tengah, sejumlah negara lain seperti Turki, bahkan hingga Australia juga menetapkan Lebaran pada tanggal yang sama. Namun, kedua negara ini lebih banyak menggunakan pendekatan hisab atau perhitungan astronomi yang sudah dapat diprediksi sejak awal.
Di Afrika dan sebagian Asia Barat, keputusan serupa juga diambil. Negara-negara seperti Sudan, Nigeria, Senegal, hingga Yaman dan Irak mengikuti pola yang sama, menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari sebelum menetapkan Idul Fitri.
Arab Saudi melalui Mahkamah Agung menetapkan Kamis (19/3/2026) sebagai hari terakhir Ramadhan dan Jumat sebagai hari pertama Idul Fitri. Keputusan ini diumumkan melalui otoritas resmi dan dilaporkan oleh Saudi Press Agency.
Sejalan dengan itu, Qatar juga menetapkan Idul Fitri jatuh pada tanggal yang sama. Komite Pengamatan Bulan Sabit Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Qatar menyatakan bahwa hilal Syawal tidak terlihat pada malam ke-29 Ramadhan, sehingga bulan puasa digenapkan menjadi 30 hari.
Pengumuman tersebut disampaikan setelah sidang resmi yang digelar di Doha. Komite juga menyampaikan ucapan selamat kepada Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, serta seluruh umat Islam atas datangnya hari kemenangan.
Selain Arab Saudi dan Qatar, negara-negara Teluk lain seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain juga menetapkan Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026. Keseragaman ini mencerminkan metode rukyat yang menghasilkan kesimpulan serupa di kawasan tersebut.
Pada tahun ini, Arab Saudi memulai Ramadhan lebih awal, yakni pada 18 Februari 2026, sehingga penetapan 1 Syawal mengikuti hasil pengamatan hilal di akhir bulan.
Namun, tidak semua negara seragam. Beberapa negara justru merayakan Idul Fitri lebih awal, yakni Kamis, 19 Maret 2026. Negara seperti Afghanistan, Niger, dan Mali menetapkan Lebaran lebih cepat setelah mengklaim berhasil melihat hilal.
Sedangkan Singapura justru menetapkan Idul Fitri pada Sabtu, 21 Maret 2026. Otoritas setempat menyatakan hilal tidak mungkin terlihat pada waktu pengamatan, sehingga Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari penuh.
Di sisi lain, sejumlah negara masih menunggu keputusan resmi. Negara seperti Indonesia, Malaysia, India, hingga Pakistan menunggu hasil rukyat dan sidang resmi otoritas keagamaan masing-masing.
Situasi di Indonesia
Berbeda dengan negara-negara Teluk, Indonesia belum menetapkan secara resmi 1 Syawal 1447 Hijriah. Pemerintah melalui Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat pada Kamis (19/3/2026) malam untuk menentukan awal Idul Fitri.
Penetapan di Indonesia mengacu pada kombinasi metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal). Karena itu, potensi perbedaan dengan negara lain tetap terbuka, tergantung hasil pemantauan di berbagai titik di Tanah Air.
Mengapa Negara Bisa Berbeda?
Penetapan Idul Fitri yang berbeda antarnegara bukan fenomena baru. Ada beberapa faktor utama yang memengaruhi:
1. Metode penentuan hilal
Sebagian negara mengandalkan rukyat lokal, sementara yang lain menggabungkan dengan hisab global. Perbedaan kriteria ini bisa menghasilkan keputusan berbeda.
2. Posisi geografis
Letak geografis memengaruhi visibilitas hilal. Apa yang tidak terlihat di satu wilayah, bisa saja terlihat di wilayah lain.
3. Otoritas keagamaan
Setiap negara memiliki otoritas sendiri dalam menetapkan kalender hijriyah, sehingga keputusan tidak selalu seragam.
Sementara itu, Keputusan Arab Saudi dan Qatar yang seragam memperkuat kecenderungan bahwa kawasan Timur Tengah mengakhiri Ramadhan dalam 30 hari tahun ini.
Namun bagi Indonesia, penentuan tetap bergantung pada sidang isbat. Di sinilah dinamika penetapan Idul Fitri selalu menarik, yakni bukan hanya soal astronomi, tetapi juga otoritas, metode, dan konteks lokal.
Pada akhirnya, perbedaan bukan soal benar atau salah, melainkan konsekuensi dari pendekatan yang berbeda dalam membaca tanda-tanda alam.***













