Belum 24 Jam Gencatan Senjata, Drone Israel Dijatuhkan IRGC di Atas Wilayah Iran

UAV / drone. (Ilustrasi: Tasnim)

MAKLUMAT — Belum 24 jam Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama 2 minggu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim pasukannya telah menembak jatuh sebuah UAV (drone) milik Zionis Israel di wilayah udara provinsi Fars selatan Iran Rabu sore (8/4/2026) waktu setempat. Teheran menegaskan bakal membalas tindakan yang dinilai telah melanggar gencatan senjata sementara itu.

Dilansir dari Tasnim, IRGC mengumumkan pada Rabu malam bahwa sebuah drone Hermes 900 Israel telah dihancurkan di langit di atas Provinsi Fars. Mereka memperingatkan Zionis Israel dan AS bahwa pelanggaran terhadap gencatan senjata sementara tidak akan dibiarkan begitu saja.

Dikatakan bahwa drone canggih Israel tersebut “dicegat dan dihancurkan di atas Lar, menggunakan sistem pertahanan udara baru IRGC, yang beroperasi di bawah jaringan pertahanan udara terpadu Iran.”

IRGC menegaskan bahwa masuknya pesawat Amerika Serikat dan Zionis Israel ke wilayah udara Iran—bahkan tanpa operasi militer—akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata, memperingatkan bahwa balasan tegas akan diberikan terhadap pelanggaran tersebut.

Amerika Serikat dan Zionis Israel melancarkan kampanye militer besar-besaran tanpa provokasi terhadap Iran setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama beberapa komandan militer senior dan warga sipil pada 28 Februari 2026.

Baca Juga  AS Perketat Kebijakan Perdagangan, DPR Minta Kemenperin Ambil Peluang Relokasi Industri China

Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer dan aset-aset strategis AS di kawasan, serta berbagai target strategis di Israel. Respons Teheran terbukti ampuh, menimbulkan kerusakan besar pada sumber daya militer AS dan Israel, sekaligus membangkitkan persatuan dan perlawanan bangsa.

Meskipun presiden AS telah mengeluarkan ultimatum, mediasi Pakistan memfasilitasi kesepakatan untuk gencatan senjata selama dua minggu di mana negosiasi akan berlangsung di Islamabad pada 10 April 2026 mendatang. Iran telah mengusulkan rencana sepuluh poin sebagai dasar diskusi, mencari persyaratan seperti penarikan pasukan AS dari wilayah tersebut, pencabutan sanksi, dan penetapan kendali atas Selat Hormuz.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada tanggal 8 April menekankan bahwa agresi tersebut telah menghasilkan “kemenangan bersejarah bagi Iran, memaksa AS untuk menerima persyaratan negosiasi, termasuk rencana jaminan non-agresi dan penghentian permusuhan.”

Iran menekankan bahwa negosiasi tersebut tidak akan menandai berakhirnya konflik, melainkan perpanjangan medan perang ke dalam upaya diplomatik, dengan sikap ketidakpercayaan yang jelas terhadap AS.

Saat berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak AS maupun Zionis Israel terkait drone tersebut.

Baca Juga  OCHA PBB Sebut Wilayah Gaza Sudah Tidak Layak Huni, Minta Dewan Keamanan Bertindak Konkret

Sementara itu, pasukan Zionis Israel juga dikabarkan masih terus melancarkan serangan masif di Lebanon Selatan, yang juga memicu respons Iran. Sebab, Teheran juga memasukkan front Lebanon dalam 10 poin gencatan senjata sementara yang diajukannya.