Covid-19 Masih Menyebar di Awal 2026, Ini Peta Penyakit Infeksi Emerging Dunia

Infografik COVID-19. (Naskah/Foto:Kemenkes/SORA)

MAKLUMAT— Pandemi Covid-19 memang tak lagi menjadi sorotan utama. Namun virus ini belum sepenuhnya pergi. Data global menunjukkan penularan masih terjadi di awal 2026, meski dengan dampak klinis yang relatif lebih ringan dibanding masa krisis beberapa tahun lalu.

Laporan Minggu Epidemiologi (ME) ke-3 Tahun 2026 mencatat 9.305 kasus baru Covid-19 secara global, dengan 408 kematian sepanjang Januari hingga Maret 2026. Angka tersebut menegaskan bahwa SARS-CoV-2 masih beredar dan tetap menjadi bagian penting dari beban penyakit menular dunia. Data di atas diolah dari Perkembangan Situasi Penyakit Infeksi Emerging, Ditjen P2 Kemenkes RI, Ahad (1/2/2026).

Negara dengan penambahan kasus terbanyak pada periode tersebut antara lain Brasil, Yunani, dan Inggris. Sementara di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya, peningkatan kasus paling menonjol dilaporkan dari Thailand, Korea Selatan, dan Indonesia.

Secara kumulatif, pada periode 2025–2026 hingga ME ke-3, jumlah kasus Covid-19 global telah mencapai 4.409.683 kasus terkonfirmasi. Meski status kedaruratan global telah dicabut, Covid-19 masih mendominasi peta penyakit infeksi emerging dunia.

Varian Masih Terus Dipantau

Dari sisi virologi, varian JN.1 saat ini masih dikategorikan sebagai Variant of Interest (VOI). Sejumlah varian lain masuk dalam daftar Variants Under Monitoring (VUM), yakni KP.3.1.1, LP.8.1, NB.1.8.1, XFG, dan BA.3.2.

Otoritas kesehatan global menilai risiko penularan saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh transmisi lokal, terutama di wilayah dengan pelonggaran protokol kesehatan dan menurunnya kepatuhan terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Indonesia Tetap Terkendali

Di tingkat nasional, situasi Covid-19 relatif stabil. Indonesia melaporkan 10 kasus terkonfirmasi pada ME ke-3 Tahun 2026 yang tersebar di delapan kabupaten/kota. Tidak ada laporan kematian pada periode tersebut.

Secara kumulatif, sepanjang 2025 hingga ME ke-3 Tahun 2026, Indonesia mencatat 690 kasus Covid-19 dengan nol kematian. Angka ini mencerminkan tingkat keparahan yang jauh lebih rendah dibanding fase awal pandemi, sekaligus menunjukkan dampak positif dari imunitas populasi dan kesiapsiagaan sistem kesehatan.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI terus menekankan pentingnya deteksi dini, pemantauan berkelanjutan, serta konsistensi penerapan PHBS untuk mencegah potensi lonjakan kasus di masa mendatang.

COVID-19 Masih Dominan

Dalam laporan yang sama, Covid-19 masih menjadi penyakit infeksi emerging paling dominan secara global, disusul Mpox dan Legionellosis. Temuan kasus paling banyak terjadi di tiga wilayah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni Eropa (Euro), Amerika (Amro), dan Afrika (Afro).

Selain Covid-19, sejumlah penyakit lain juga dilaporkan mengalami penambahan kasus global. Mpox mencatat ratusan kasus baru tanpa kematian. Legionellosis menambah ratusan konfirmasi dengan sejumlah kematian, terutama di negara maju dengan sistem pendingin udara dan sarana air kompleks. Sementara Demam Lassa, Polio, dan Meningitis Meningokokus masih muncul secara sporadis di beberapa negara.

Faktor risiko bervariasi, mulai dari perjalanan internasional, kontak dengan hewan atau orang terinfeksi, sanitasi lingkungan yang buruk, hingga perilaku berisiko.

Flu Burung dan Zoonosis Masih Diawasi

Untuk Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) H5N1, tidak ada penambahan kasus global pada minggu pelaporan terakhir. Namun secara kumulatif pada periode 2025–2026 tercatat 32 konfirmasi dengan 12 kematian dari delapan negara. Indonesia hingga kini belum melaporkan kasus flu burung pada manusia sejak 2018.

Penyakit zoonotik lain seperti MERS, Virus Hanta, Nipah, dan Ebola juga masih berada dalam pengawasan ketat. Hingga laporan ini dirilis, Indonesia belum mencatat konfirmasi kasus baru untuk penyakit-penyakit tersebut.

Tim Kerja Surveilans dan Intervensi Penyakit Infeksi Emerging menegaskan, meski sebagian besar penyakit tersebut belum menimbulkan dampak signifikan di dalam negeri, kewaspadaan tidak boleh kendor. Penguatan surveilans, pemantauan pelaku perjalanan, serta koordinasi lintas sektor berbasis pendekatan One Health tetap menjadi kunci menghadapi dinamika penyakit infeksi emerging global.