Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Survei SMRC: Kepercayaan Publik terhadap Arah Indonesia Turun Jadi 47,7 Persen

smrc

MAKLUMAT–Kepercayaan publik terhadap arah perjalanan Indonesia merosot di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Oktober 2026 menunjukkan, hanya 47,7 persen warga yang menilai Indonesia masih berada di jalur yang benar.

Peneliti SMRC, Saidiman Ahmad menilai penurunan tersebut mencerminkan memudarnya optimisme masyarakat terhadap kondisi negara. Ia mengaitkan perubahan persepsi publik dengan memburuknya sentimen ekonomi dan menurunnya kepuasan terhadap kinerja presiden.

“Angka tersebut jauh di bawah tingkat optimisme masyarakat pada Oktober 2024, menjelang pelantikan Prabowo sebagai presiden. Saat itu, sebanyak 83 persen warga meyakini Indonesia berada di jalur yang tepat,” kata Saidiman dikutip, Rabu (14/10/2026).

Dalam survei terbaru, sebanyak 34,3 persen responden menilai Indonesia sedang menuju arah yang salah. Sementara itu, 18 persen lainnya menyatakan ragu-ragu.

Data tersebut memperlihatkan perubahan persepsi masyarakat dalam dua tahun pemerintahan Prabowo. Optimisme yang semula mendominasi kini menyusut, sedangkan keraguan dan penilaian negatif terhadap arah bangsa semakin menguat.

Janji Pemerintahan Belum Menjaga Optimisme Publik

Saidiman menjelaskan,tingginya optimisme masyarakat pada Oktober 2024 tidak terlepas dari harapan terhadap berbagai program yang dijanjikan Prabowo.

Baca Juga  Alhamdulillah…Gaji ASN, Guru, Dosen, TNI, dan Polri Naik lewat Perpres 79/2025, Cek Rinciannya di Sini

Program tersebut meliputi makan bergizi gratis, pendidikan gratis di semua jenjang, pembangunan rumah bagi masyarakat, swasembada pangan, pemenuhan kebutuhan kesehatan, serta pembangunan pusat-pusat pendidikan. Prabowo juga menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 9 persen.

Selain itu, Prabowo menjanjikan keberlanjutan sejumlah kebijakan pemerintahan sebelumnya yang mendapat apresiasi masyarakat, terutama program sosial dan pembangunan infrastruktur.

Namun, menurut Saidiman, harapan tersebut tidak bertahan kuat. Persepsi negatif terhadap kondisi ekonomi dan penurunan kepuasan terhadap kinerja presiden ikut memengaruhi penilaian masyarakat terhadap arah perjalanan bangsa.

“Pemerintahan baru kala itu sukses membangkitkan harapan,” ujar Saidiman.

Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya modal optimisme yang dimiliki pemerintahan Prabowo pada awal masa jabatan. Tantangannya kini adalah menjaga kepercayaan itu melalui hasil kebijakan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Saidiman Gambarkan Kepercayaan Publik seperti Penumpang Bus

Saidiman mengibaratkan kondisi Indonesia seperti sebuah bus yang sedang melaju, tetapi sebagian besar penumpangnya mulai meragukan apakah kendaraan tersebut menuju tujuan yang benar.

Ia menjelaskan situasi semacam itu dapat memunculkan beberapa kemungkinan. Pertama, penumpang meminta sopir diganti di tengah perjalanan. Kedua, penumpang terus menyampaikan protes sehingga suasana di dalam bus menjadi tidak nyaman dan berpotensi meningkatkan ketidakstabilan.

Baca Juga  Presiden Tak Persoalkan Bendera One Piece, Asal Tak Dipertentangkan dengan Merah Putih

Kemungkinan ketiga, ungkap dia, penumpang memaksa bus berhenti dan memilih keluar untuk mencari kendaraan lain. Analogi tersebut menggambarkan risiko politik ketika kepercayaan masyarakat terhadap arah pemerintahan melemah.

“Ketidakpuasan yang tidak terjawab dapat berkembang menjadi tekanan publik yang lebih besar,” kata Saidiman.

Meski demikian, penurunan keyakinan bahwa Indonesia berada di jalur yang benar tidak otomatis berarti masyarakat menghendaki pergantian presiden. Angka survei tersebut menunjukkan persepsi responden terhadap arah negara, bukan ukuran langsung dukungan terhadap perubahan kepemimpinan.

Tantangan Prabowo Bukan Sekadar Janji, tetapi Hasil

Penurunan optimisme dari 83 persen pada Oktober 2024 menjadi 47,7 persen pada Oktober 2026 menjadi sinyal penting bagi pemerintahan Prabowo. Pemerintah perlu memastikan program prioritas tidak hanya terlihat dalam agenda dan pernyataan politik, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.

Kondisi ekonomi menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian karena persepsi masyarakat terhadap kesejahteraan dapat memengaruhi penilaian mereka terhadap kinerja pemerintah. Ketika harapan awal tidak sejalan dengan pengalaman sehari-hari, kepercayaan publik berisiko terkikis.

Namun, untuk menilai penyebab penurunan optimisme secara lebih menyeluruh, diperlukan data tambahan mengenai tingkat kepuasan terhadap presiden, persepsi ekonomi, metode survei, jumlah responden, dan tren hasil survei pada periode sebelumnya.

Baca Juga  Prabowo-Gibran Sah Pemenang Pilpres, MK Tolak Gugatan Anies dan Ganjar

Bagi Prabowo, tantangan utamanya adalah memperkecil jarak antara janji dan kenyataan. Kepercayaan publik tidak cukup dipertahankan melalui komunikasi politik, tetapi perlu diperkuat melalui kebijakan yang efektif, transparan, dan menjawab kebutuhan masyarakat.