18.7 C
Malang
Jumat, Juni 21, 2024
KilasDubes Lebanon Ungkap Dampak Perang Timur Tengah Terhadap Instabilitas Global

Dubes Lebanon Ungkap Dampak Perang Timur Tengah Terhadap Instabilitas Global

Dubes LBBP Indonesia untuk Lebanon Hajriyanto Y Thohari

DUTA Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Dubes LBBP) Indonesia untuk Lebanon, Hajriyanto Y. Thohari menyampaikan konflik yang terjadi di Timur Tengah bisa juga disebut sebagai wilayah perang proxy. Sebab, konflik melibatkan banyak negara-negara besar di dunia.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2025-2022 ini menguak fakta konflik Timur Tengah dalam Webinar Nasional tentang Dinamika Ekonomi Politik Internasional di tengah Konflik Timur Tengah dan Dampaknya Terhadap Perekonomian Indonesia. Kegiatan diadakan UHAMKA, Jakarta, Sabtu (25/5/2024).

Hajriyanto menerangkan, eskalasi konflik di Timur Tengah dimulai dengan perang Palestina-Israel pada bulan Oktober 2023 silam. Konflik yang terjadi itu menelan hampir 40 ribu jiwa. Juga mengakibatkan lebih banyak korban luka-luka, baik luka ringan sampai berat. Konflik juga menimbulkan hancurnya infrastruktur.

“Jadi wilayah Timur Tengah itu bisa juga disebut sebagai wilayah perang proxy, di mana masing-masing kekuatan besar di dunia ini terutama negara-negara Barat, lebih khusus lagi Amerika Serikat, ditambah negara-negara super power adidaya di tingkat regional,” ungkapnya.

Hajriyanto kemudian mengelompokkan, negara super power dunia yang ikut nimbrung dalam perang Palestina melawan Israel, yakni Amerika Serikat. Sementara negara super power regional Timur Tengah adalah Israel, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

“Itu masing-masing memiliki proxy-nya sendiri-sendiri di kawasan tersebut, karena itu juga banyak melibatkan diri peran tersebut,” ungkapnya.

Menurut dia, terjadinya konflik atau perang di Timur Tengah berimbas secara global. Di sektor ekonomi misalnya, peran di Timur Tengah berdampak sampai ke Asia Tenggara atau Indonesia.

“Meskipun Indonesia jauh dari kawasan tersebut, tetapi karena konflik di Timur Tengah itu memiliki implikasi global, maka juga berpengaruh pada Indonesia. Baik pengaruh secara politik, juga pengaruh secara ekonomi, itu jelas sekali,” sebutnya.

Hajriyanto memaparkan imbas di sektor ekonomi yang paling terlihat adalah melemahnya nilai tukar mata uang Rupiah ke Dolar Amerika. Melemahnya nilai tukar uang terhadap Dolar itu juga dialami oleh negara lain, seperti Lebanon, Suria, dan lain sebagainya.

“Implikasi ekonomi itu sangat parah, belum lagi angka kemiskinan yang terus meningkat. Gaji para pegawai negeri, termasuk tentara dan polisi itu hanya cukup untuk makan sepuluh hari setiap bulannya. Apalagi di Gaza sendiri, 78 persen infrastruktur hancur,” tuturnya.

Sementara dampak pada sektor politik global dari perang di Timur Tengah, kata dia, menyebabkan instabilitas di berbagai tempat dan diberbagai negara-negara. Namun, yang melibatkan diri secara fisik bukanlah negara, melainkan oleh aktor-aktor non-negara seperti Hizbullah, Houthi, termasuk Hamas yang berperang secara langsung dengan Israel.

“Instabilitas juga terjadi di negara-negara Eropa atau Barat. Di sana gelombang protes besar-besaran dilakukan oleh aktor non-negara seperti mahasiswa yang memberikan dukungan dan simpati terhadap warga Palestina di Gaza. Gejolak politik ini juga terjadi di Amerika Serikat,” tandasnya.

Sumber: Muhammadiyah.or.id

Editor: Aan Hariyanto 

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Lihat Juga Tag :

Populer