Dunia Maya Ramai, Dunia Nyata Sepi: Ke Mana Arah Pemuda?

pemuda

MAKLUMAT — Dunia maya telah mengubah banyak hal dalam kehidupan kita. Hampir setiap hari, anak muda berhadapan dengan layar: membuka media sosial, menonton video, bermain gim, berdiskusi, hingga mencari berbagai informasi melalui internet.

Perubahan tersebut tentu membawa banyak manfaat. Internet memberikan ruang yang luas bagi siapa saja untuk belajar, berkarya, membangun jaringan, berwirausaha, menyampaikan gagasan, bahkan mengenalkan berbagai potensi daerah. Namun, di tengah semakin ramainya aktivitas di dunia maya, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan: apakah aktivitas digital sudah berjalan seimbang dengan keterlibatan pemuda dalam kehidupan nyata?

Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan teknologi ataupun generasi muda. Internet telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Persoalannya bukan pada ada atau tidaknya internet, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan dan untuk tujuan apa.

Berdasarkan Survei Profil Internet Indonesia 2026 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 235,26 juta orang dengan tingkat penetrasi sebesar 81,72 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa internet semakin melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Bagi pemuda, kondisi ini merupakan peluang sekaligus tantangan. Teknologi dapat menjadi sarana untuk belajar dan berkembang, tetapi penggunaannya tetap perlu diimbangi dengan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Semakin dekat kehidupan dengan dunia digital, semakin penting pula menjaga hubungan dengan kehidupan nyata. Jangan sampai seseorang begitu aktif di media sosial, tetapi justru tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya.

Dunia maya seharusnya menjadi jembatan menuju dunia nyata, bukan membuat kita semakin jauh darinya.

Di sekitar kita masih banyak ruang bagi pemuda untuk mengambil peran. Karang Taruna, kegiatan masjid, kerja bakti, komunitas, mengajarkan anak-anak mengaji, hingga berbagai kegiatan kemasyarakatan dapat menjadi tempat untuk belajar sekaligus memberikan manfaat.

Keaktifan pemuda tidak semestinya hanya diukur dari jumlah unggahan, pengikut, atau seberapa sering sebuah konten mendapatkan perhatian. Aktivitas digital memang penting, tetapi keterlibatan langsung di tengah masyarakat juga memiliki nilai tersendiri.

Bayangkan seorang pemuda yang setiap hari aktif membagikan berbagai informasi tentang kepedulian sosial di media sosial, tetapi ketika ada kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggalnya, ia tidak pernah hadir. Tentu tidak salah menggunakan media sosial untuk menyuarakan kepedulian. Namun, akan lebih bermakna ketika kepedulian tersebut juga diwujudkan melalui tindakan.

Baca Juga  ‎DPP IMM: Hari Kebangkitan Nasional Jadi Momentum Kaum Muda Mengisi Ruang Strategis

Kontribusi tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar dan tidak semua kebaikan harus diketahui banyak orang. Ada tindakan yang mungkin tidak mendapatkan tanda suka, tidak menjadi konten, dan tidak diperbincangkan. Namun, bagi orang yang menerima manfaatnya, tindakan tersebut tetap memiliki arti.

Seperti halnya menolong teman yang kesulitan memahami pelajaran, membantu tetangga yang membutuhkan, membersihkan masjid atau mendampingi anak-anak belajar mungkin terlihat sederhana. Akan tetapi, dari tindakan seperti itulah kepedulian sosial dapat tumbuh.

Belajar dari Pesan Bung Karno

Mengingat ungkapan Bung Karno yang sering dikaitkan dengan besarnya potensi pemuda: “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Ungkapan tersebut menggambarkan keyakinan bung Karno terhadap kekuatan pemuda dalam membawa perubahan.

Jika ungkapan tersebut dibawa ke kehidupan pada zaman ini, pertanyaannya bukan sekadar berapa banyak pemuda yang kita miliki. Pertanyaan yang lebih penting adalah: pemuda seperti apa yang sedang kita siapkan untuk masa depan?

Apakah pemuda yang hanya aktif ketika sesuatu sedang viral? Apakah pemuda yang pandai menyampaikan pendapat di media sosial, tetapi enggan terlibat dalam lingkungan sekitarnya? Ataukah pemuda yang mampu memanfaatkan teknologi untuk belajar, kemudian membawa pengetahuan dan kreativitasnya untuk memberikan manfaat kepada masyarakat?

Pertanyaan tersebut penting untuk direnungkan karena jumlah yang besar tidak otomatis menghasilkan perubahan. Perubahan membutuhkan pengetahuan, kepedulian, keberanian mengambil peran, kemampuan bekerja sama, serta kemauan untuk turun tangan.

Di era digital saat ini bentuk perjuangan pemuda memang berbeda dengan masa lalu. Jika dahulu pemuda menghadapi tantangan dalam memperjuangkan kemerdekaan, pemuda hari ini menghadapi tantangan berupa derasnya arus informasi, perkembangan teknologi, persaingan global, serta berbagai persoalan sosial di lingkungan masing-masing.

Karena itu, semangat kepemudaan tidak cukup hanya diwariskan sebagai cerita sejarah. Semangat tersebut perlu diterjemahkan ke dalam tindakan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Baca Juga  Pemuda dan Mahasiswa Surabaya Tandatangani Dukungan Sahkan RUU Perampasan Aset

Teknologi sebagai Jembatan Perubahan

Dunia digital sebenarnya dapat menjadi ruang untuk memperluas dampak dari kegiatan nyata. Seperti kegiatan bhakti sosial dapat didokumentasikan untuk mengajak lebih banyak orang melakukan hal serupa. Donasi Al-Qur’an untuk masjid dapat diperkenalkan melalui media sosial agar masyarakat mengetahui dan ikut berpartisipasi.

Dengan cara seperti ini, teknologi tidak berhenti pada aktivitas di layar, tetapi menjadi alat untuk menghubungkan lebih banyak orang dengan tindakan nyata.

Kemampuan menggunakan teknologi juga perlu disertai kemampuan menyaring informasi. Dunia maya menyediakan informasi dalam jumlah yang sangat besar, tetapi tidak semuanya benar dan bermanfaat. Pemuda perlu membiasakan diri memeriksa sumber yang benar, membandingkan informasi, membaca secara utuh, dan tidak terburu-buru membagikan sesuatu hanya karena sedang ramai diperbincangkan.

Menjadi pemuda di era digital bukan hanya tentang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga bertanggung jawab ketika menggunakannya. Satu unggahan dapat menyebar kepada banyak orang. Karena itu, kebebasan berekspresi perlu berjalan bersama etika dan tanggung jawab.

Media sosial juga sebaiknya tidak menjadi ruang untuk saling menjatuhkan. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Pemuda dapat belajar berdiskusi dengan santun, menyampaikan kritik berdasarkan alasan, dan menghargai orang lain meskipun memiliki pandangan berbeda.

Pemuda dan Ruang untuk Berkembang

Tidak semua pemuda harus berkontribusi dengan cara yang sama. Ada yang aktif dalam organisasi, bergerak di bidang sosial, berkarya melalui pendidikan, atau menggunakan kemampuan digitalnya untuk membuat sesuatu yang bermanfaat.

Yang terpenting bukan di mana seseorang terlihat aktif, tetapi apa manfaat yang dapat diberikan dari aktivitas tersebut.

Persoalan ini juga tidak cukup jika hanya dibebankan kepada pemuda. Lingkungan memiliki tanggung jawab untuk menyediakan ruang bagi generasi muda agar dapat berkembang.

Keluarga, tokoh masyarakat, pengurus masjid, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, dan berbagai pihak lainnya perlu memberikan kesempatan kepada anak muda untuk menyampaikan gagasan, mencoba hal baru, mengambil tanggung jawab, serta belajar dari pengalaman.

Baca Juga  IMM Jatim Dorong Perkaderan yang Relevan di Tengah Kompleksitas Zaman

Pemuda tidak cukup hanya diberi nasihat agar aktif. Mereka juga membutuhkan ruang untuk bergerak.

Ketika ruang untuk berkontribusi tersedia di dunia nyata, teknologi dapat menjadi alat yang memperkuat gerakan tersebut.

Dunia Maya dan Dunia Nyata Harus Beriringan

Dunia maya dan dunia nyata tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan jika digunakan dengan bijak. Apa yang dimulai dari sebuah unggahan dapat dilanjutkan dengan sebuah tindakan. Apa yang dibicarakan di media sosial dapat diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.

Pemuda bukan hanya generasi yang akan datang. Pemuda adalah bagian dari bangsa hari ini sekaligus bagian penting dari masa depan bangsa.

Maka, mari gunakan dunia maya untuk memperkuat langkah di dunia nyata. Jadikan teknologi sebagai sarana untuk belajar, berkarya, berkolaborasi, dan memberikan manfaat.

Jangan hanya mengejar agar terlihat viral, tetapi lupa memberikan kontribusi nyata. Jangan sampai banyaknya pengikut membuat kita lupa mengikuti kegiatan di lingkungan sendiri. Jangan sampai ramainya percakapan di layar membuat kita lupa mendengarkan orang-orang yang berada di sekitar kita.

Dunia maya boleh menjadi tempat untuk menunjukkan karya, tetapi dunia nyata tetap menjadi tempat kita menjalani kehidupan. Di sanalah kita bertemu keluarga, teman, guru, tetangga, dan masyarakat. Di sanalah kepedulian diuji dan nilai sebuah gagasan dibuktikan melalui tindakan.

Kemajuan pemuda bukan hanya tentang seberapa sering mereka terlihat di layar, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu mereka hadirkan dalam kehidupan nyata.

Dunia maya adalah ruang untuk menyuarakan gagasan. Dunia nyata adalah tempat untuk membuktikannya.

Karena itu, mari menjadi pemuda yang tidak hanya aktif di dunia maya, tetapi juga hadir di tengah masyarakat. Belajar dari teknologi, berkarya melalui kreativitas, berkolaborasi dengan sesama, lalu membawa manfaat tersebut kembali ke lingkungan sekitar.

Bangsa tidak hanya membutuhkan pemuda yang pandai berbicara di ruang digital. Bangsa juga membutuhkan pemuda yang mau turun tangan, bekerja bersama, dan menghadirkan perubahan melalui tindakan nyata.

 

*) Penulis: Arif Dwi Purwanto

Mahasiswa STIT Muhammadiyah Kediri