MAKLUMAT — Mengenang Ketua LHKP Jawa Timur, Pak Mirdasy —orang yang saya baru kenal seumur jagung. Setelah Rakornas 2023, saya mampir ke Jawa Timur. Tepatnya pada 2023 akhir dan 2024 awal. Lazis Muhammdiyah memiliki program besar yang bisa diisi ide besar juga. Namanya Kampung Berkemajuan.
Di PWM Jawa Timur kami bertemu, didahului makan siang. Pak Mirdasy mengenalkan diri sambil mengenalkan kolega LHKP PWM Jawa Timur dan staf Maklumat.id. Pertemuan singkat itu memberikan saya berbagai perspektif soal kemuhammadiyahan.
Pertama, di Muhammadiyah “kita ada bersama”. Muhammadiyah adalah dunia bersama, sehingga hidup di Muhammadiyah, kita hadir bersama-sama orang lain, kader Muhammadiyah yang berkhidmat di organisasi.
Muhammadiyah besar karena dibangun bersama. Kadang dibutuhkan pengorbanan, individu hilang dalam norma kolektif. Cara berpikir, bertindak, bicara seperti “orang lain”, artinya Muhammadiyah membentuk diri kita. Dengan organisasi, kita sebagai tukang yang terikat dengan bahasa organisasi, di mana setiap kader diajarkan bagaimana memaknainya.
Percakapan ini terjadi ketika LHKP PP Muhammadiyah memiliki program advokasi dan pemberdayaan masyarakat yang digusur ruang hidupnya. Dalam bahasa organisasi yang disampaikan oleh Pak Mirdasy, ”Kawan-kawan di LHKP PP sedang menafsirkan konsep Al-Maun, sebagai bagian daripada gerakan tajdid dan amar maruf nahi munkar: sebuah elan vital dalam gerakan Muhammadiyah”.
Obrolan sana-sini menyangkut kiprah pribadi masing-masing. Cita-cita dalam bermuhammadiyah juga ditanyakan. Di sini saya mengenal Pak Mirdasy sebagai orang yang otentik (ini juga pesan yang ingin disampaikan ke saya).
Apa itu otentik dalam bermuhammadiyah? Yaitu hidup dengan kesadaran penuh sambil “hidup bersama” dengan yang lain. Masing-masing kader bekerja untuk saling menguatkan bukan sebaliknya.
Dan terakhir, seperti yang kita rasakan saat ini, pencarian akan hakikat kematian di mana semua kecemasan akan ketidakmungkinan difasilitasi oleh kemungkinan terbaik dalam organisasi. Muhammadiyah memiliki seperangkat alat yang bisa dijadikan “rumah”.
Pak Mirdasy yang juga seorang politikus andal, menyatakan bahwa dengan bermuhammadiyah —meminjam Heidegger—, semua kader adalah tukang pembangun umat. Berbagai majelis menyediakan alat yang sudah teruji waktu, lebih dari 100 tahun kiprah Muhammadiyah untuk umat dan bangsa.
Alat ini, buah pemikiran membangun dan memberdayakan, bukan berarti sekadar alat, tapi sudah siap pakai, siap digunakan untuk mengisi rumah. Manusia otentik adalah manusia yang memiliki kreatifitas dan gandrung pada “kecintaan akan kehidupan”, bukan untuk merusaknya – di sini titik pertemuan percakapan kita saat itu.
Kecintaan yang sama pada kehidupan itulah yang mempertemukan ide antara advokasi dan pendampingan di Pakel-Banyuwangi, Kenjeran Surabaya, Gresik, dan banyak tempat lain di mana kader Muhammadiyah hadir dan berdampak untuk umat.
Program Kampung Berkemajuan dan Al–Maun Hijau (Al-Maun Goes To Village) adalah contoh bagaimana kader muda, angkatan muda, kaum muda membahasakan diri mereka secara “otentik”.
Mereka ingin berkontribusi memajukan rumah bersama tersebut. Dalam rumah di mana setiap kecemasan dan keraguan dibicarakan bersama, dipertimbangkan segala kemungkinan terbaik. Walau harus dilalui dengan perdebatan, argumen, dan persetujuan beserta persyaratannya, itulah bentuk kerpibadian otentik, hanya melalui perdebatan, diskusi, adu logika, dan argumentasi, maka organisasi Muhammadiyah berdiri kokoh sampai saat ini.
Pak Mirdasy bagian dari politik riang gembira seperti itu, sebagai individu dan organisatoris. Pesannya untuk politik satu, otentisitas tersebut berarti membuka kemungkinan bagi orang lain, tidak sebaliknya menutup lewat berbagai represi, termasuk represi ideologis atau tafsir atasnya.
Pertemuan terakhir saya hanya lewat percakapan WhatsApp, yakni ketika saya menulis di Maklumat.id dengan judul Arsitektur Perlawanan Muhammadiyah. Pak Mirdasy masih dengan kerendahan hatinya, berkata itu adalah tulisan yang bagus untuk saling mengingatkan dan menasehati.
Saya lantas teringat pertemuan setahun sebelumnya dalam Rakorwil di Purwokerto, di mana beliau mengomentari hubungan seru dan penuh dinamika antara Muhammadiyah vis a vis negara —yang terkadang nyeleneh dalam berbagai kebijakannya. Di sini sisi humor dia nampak ketika mengatakan, “Walaupun kalah terus, tapi kita akan tetap berjuang”.
Saya ingin mengutip lagu Carla Bruni, Quelqu’un M’a Dit (Seseorang Memberitahuku). Ini sebuah lagu cinta. On me dit que nos vies ne valent pas grand-chose, Elles passent en un instant comme fanent les roses (Mereka bilang hidup kita tidak begitu berharga, Hanya sebentar seperti mawar yang segera layu).
J′entends encore la voix, mais je ne vois plus les traits (Aku masih mendengar suaranya, tapi aku tidak ingat lagi gerak geriknya). Il vous aime, c’est secret, lui dites pas que je vous l′ai dit (Dia mencintaimu, jangan memberitahukan hal ini kepadanya, ini rahasia).
Dengarkanlah kata hati, jadilah manusia otentik di Muhammadiyah, yang sadar dan bertanggungjawab atas pilihan: berkepribadian Muhammadiyah yang riang gembira. Walaupun kalah terus, tapi akan tetap berjuang.***













