MAKLUMAT — Gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) belum reda. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.624 gempa susulan setelah gempa utama bermagnitudo (M) 7,7 mengguncang Flores, Sabtu (15/8/2026).
Hingga Senin (17/8) pukul 11.00 WIB, gempa susulan tercatat berkekuatan M1,3 hingga M6,2. Sebanyak 23 gempa susulan memiliki magnitudo di atas M5, sedangkan 59 lainnya dirasakan masyarakat. Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 68 orang meninggal dunia dan 213 orang mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, Ph.D., mengatakan korban meninggal tersebar di tujuh kabupaten. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan korban terbanyak, yakni 26 orang. Berikutnya Manggarai Timur 24 orang, Nagekeo 8 orang, Sikka 4 orang, Ende 2 orang, Manggarai Barat 2 orang, dan Ngada 2 orang.“Kami tetap memantau jumlah korban jiwa. Kita terus berdoa agar tidak ada lagi korban jiwa maupun luka,” kata Berton dalam keterangan resmi, Senin (17/8/2026) sore WIB.
Gempa Utama Picu Tsunami
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB.
Gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
BMKG mengirimkan Peringatan Dini 1 pada 2 menit 16 detik setelah gempa dengan status ancaman Siaga (0,5–3 meter) dan Waspada (<0,5 meter).
“BMKG telah mengirimkan Peringatan Dini 1 pada 2 menit 16 detik setelah gempa bumi dengan status ancaman SIAGA (0,5–3 meter) dan Waspada (<0,5 meter),” kata Wijayanto di Jakarta, Senin (17/8).
Peringatan dini tsunami mencakup sejumlah wilayah. Peringatan tersebut kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB atau 2 jam 31 menit 37 detik setelah gempa.
Hasil observasi stasiun pasang surut menunjukkan tsunami terjadi di 16 lokasi yang tersebar di empat provinsi, yakni NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Tsunami tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT, pada pukul 05.03 WIB dengan ketinggian 1,605 meter. Sementara tsunami terendah tercatat di Bakalang, Alor, NTT, pada pukul 05.41 WIB dengan ketinggian 0,14 meter.
BMKG Turunkan Tim Survei
BMKG menerjunkan tim gabungan dari pusat dan unit pelaksana teknis (UPT) untuk melakukan survei gempa merusak.
Survei meliputi kajian makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, pemantauan gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan.
“Survei ini bertujuan mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana sekaligus menjadi dasar pemetaan mikrozonasi pascagempa, evaluasi kondisi wilayah terdampak, serta penyusunan rekomendasi mitigasi dan rekonstruksi yang lebih aman,” jelas Wijayanto.
Wilayah dengan tingkat kerusakan sedang hingga berat menjadi prioritas survei. Hasil pengamatan kemudian dibandingkan dengan wilayah yang relatif tidak mengalami kerusakan untuk mengetahui karakteristik dampak guncangan.
Warga Diminta Waspadai Gempa Susulan
BMKG juga melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terdampak. Langkah tersebut dilakukan untuk memberikan informasi yang tepat sekaligus membantu masyarakat menghadapi kondisi pascagempa. Masyarakat diimbau menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa. Warga juga diminta tetap mewaspadai gempa susulan yang masih terjadi.BMKG terus memantau aktivitas gempa susulan dan kondisi wilayah terdampak untuk mendukung keselamatan masyarakat serta proses pemulihan pascabencana.***













