MAKLUMAT – Mengapa gempa Pacitan bermagnitudo 5,6 bisa terasa hingga berbagai wilayah di Pulau Jawa? Padahal, pusatnya berada sekitar 86 kilometer (Lok:8.96 LS 111.16 BT) di lepas pantai selatan Pacitan, Jawa Timur.
Penggiat kebencanaan Pacitan Bambang Setyo Utomo, S.Pd., M.M.B., menjelaskan gempa yang terjadi pada pada Sabtu (27/6/2026) pukul 14:47:21 WIB itu. Menurutnya, luasnya sebaran getaran dipengaruhi oleh aktivitas zona subduksi aktif di selatan Jawa, karakter gelombang seismik, serta kondisi geologi Pulau Jawa yang mampu menghantarkan energi gempa dalam jarak sangat jauh.
Bambang menjelaskan bahwa wilayah selatan Pacitan berada tepat di depan zona subduksi aktif. Yaitu, kawasan tempat Lempeng Indo-Australia bergerak menunjam ke bawah Lempeng Sunda yang merupakan bagian dari sistem Lempeng Eurasia.
Menurut alumnus Magister Manajemen Bencana UPN “Veteran” Yogyakarta itu, aktivitas tersebut berlangsung secara terus-menerus sehingga energi tektonik akan terus terakumulasi hingga akhirnya dilepaskan dalam bentuk gempa bumi ketika kekuatan batuan tidak lagi mampu menahan tekanan.
”Gempa yang terjadi dipicu oleh mekanisme thrust fault atau sesar naik. Energi yang tersimpan selama periode tertentu akhirnya dilepaskan akibat patahan batuan yang bergerak secara tiba-tiba. Proses inilah yang menghasilkan guncangan yang dirasakan masyarakat,” ujar Bambang saat dihubungi, Ahad (28/6/2026).
Dia menambahkan, lokasi episenter gempa kali ini berada tidak jauh dari pusat gempa bermagnitudo 6,2 yang terjadi pada Februari 2026. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa zona subduksi di selatan Pacitan merupakan kawasan tektonik yang masih sangat aktif.
”Kesamaan lokasi episenter mengindikasikan bahwa proses pelepasan energi di zona subduksi masih terus berlangsung. Artinya, kawasan ini tetap menjadi wilayah yang harus dipantau karena aktivitas tektoniknya belum berhenti,” kata guru SMP Negeri 1 Tegalombo itu.
Dua Gelombang, Karakter Berbeda
Bambang menjelaskan, saat terjadi patahan di bawah dasar laut, energi gempa tidak merambat dalam satu jenis gelombang, melainkan melalui beberapa tahapan yang memiliki karakteristik berbeda.
Gelombang pertama yang muncul adalah Primary Wave (Gelombang P). Gelombang itu bergerak paling cepat dengan pola longitudinal sehingga biasanya hanya dirasakan sebagai getaran ringan atau bunyi gemerincing pada kaca bangunan sebelum guncangan utama datang. Setelah itu, muncul Secondary Wave (Gelombang S) yang bergerak lebih lambat, tetapi memiliki daya rusak lebih besar. Gelombang itu menggerakkan tanah secara horizontal sehingga masyarakat merasakan ayunan dan guncangan yang lebih kuat.
”Perbedaan karakter kedua gelombang inilah yang membuat sebagian warga merasakan getaran ringan terlebih dahulu, kemudian beberapa saat setelahnya muncul guncangan yang lebih kuat,” papar Bambang.
Dia juga menerangkan bahwa luasnya wilayah yang merasakan gempa dipengaruhi oleh kondisi batuan penyusun Pulau Jawa bagian selatan yang didominasi batuan beku dan batuan metamorf berusia tua. Batuan keras tersebut memiliki kemampuan menghantarkan energi gempa secara efisien sehingga gelombang seismik dapat merambat dalam jarak yang sangat jauh tanpa kehilangan banyak energi.
”Batuan keras bekerja layaknya media penghantar getaran yang sangat baik. Ketika gelombang gempa melewati batuan padat, energinya tetap terjaga sehingga getaran masih dapat dirasakan hingga wilayah yang cukup jauh dari pusat gempa,” ujarnya.
Sebaliknya, dia mengingatkan bahwa daerah yang tersusun oleh tanah lunak justru berpotensi mengalami guncangan lebih kuat melalui fenomena yang dikenal sebagai soil amplification atau amplifikasi tanah.
Menurut Bambang, wilayah berupa endapan aluvial, dataran rendah, maupun bekas rawa dapat memperbesar efek getaran sehingga masyarakat yang berada jauh dari pusat gempa tetap merasakan guncangan cukup signifikan.
”Besarnya guncangan yang dirasakan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh magnitudo gempa. Kondisi geologi setempat, jenis batuan, hingga struktur tanah memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap tingkat getaran yang muncul,” tegasnya.
Pelajaran dari Gempa Pacitan
Dia menilai pemahaman terhadap karakteristik geologi daerah menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi bencana, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan gempa. Selain meningkatkan kualitas bangunan tahan gempa, Bambang mendorong pemerintah daerah bersama masyarakat untuk terus memperkuat edukasi kebencanaan, latihan evakuasi, dan peningkatan literasi mengenai potensi gempa bumi.
”Pemahaman terhadap proses alam akan membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat ketika bencana terjadi. Kesiapsiagaan merupakan investasi keselamatan yang harus dibangun secara berkelanjutan,” tuturnya.
Bambang mengingatkan bahwa aktivitas tektonik merupakan proses alami yang akan terus berlangsung. Karena itu, masyarakat diimbau tidak panik. Namun, tetap meningkatkan kewaspadaan, mengikuti informasi resmi dari instansi berwenang, serta menjadikan setiap kejadian gempa sebagai momentum untuk memperkuat budaya sadar bencana.
”Kita hidup di atas bumi yang terus bergerak. Manusia hanyalah bagian kecil dari dinamika alam. Dengan memahami cara kerja bumi, kita dapat hidup lebih selaras, lebih siap menghadapi risiko, dan mampu meminimalkan dampak bencana bagi masyarakat,” tandasnya. (*)
Penulis: Edi Susanto













