Harga Produk AS Lebih Mahal, ART Berisiko Tekan Pertanian Indonesia

MAKLUMAT — Rencana penerapan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), yang salah satunya mewajibkan Indonesia membeli produk pertanian, memunculkan sejumlah konsekuensi ekonomi yang perlu dihitung secara cermat. Kajian ekonom menunjukkan harga berbagai komoditas pertanian dari AS justru lebih tinggi dibanding pemasok utama Indonesia saat ini.

Direktur International Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS) IPB University, Prof. Sahara, mengatakan kondisi tersebut berpotensi menimbulkan tekanan baru pada sektor domestik jika kebijakan perdagangan tidak diimbangi langkah mitigasi yang kuat.

“Secara umum harga impor komoditas pertanian dari Amerika Serikat setelah ART cenderung lebih tinggi dibanding negara eksportir yang selama ini menjadi pemasok utama Indonesia,” kata Sahara dalam Seminar Nasional Membincangkan Agreement on Reciprocal Trade (ART): Landasan Pemikiran dan Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia yang diselenggarakan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sabtu (14/3/2026).

Komoditas apel misalnya. Selama ini Indonesia dipasok China dengan harga sekitar 1.983 dolar AS per ton. Sementara  Amerika Serikat mematok harga mencapai 2.521 dolar per ton. Hal serupa terlihat pada daging sapi. Daging dari Australia harganya sekitar 15.041 dolar AS per ton, sedangkan produk Amerika Serikat mencapai 21.315 dolar AS per ton.

Baca Juga  Direktur SKN Soroti Krisis Pemikiran Homogen di Era Derasnya Informasi

Komoditas anggur yang diperoleh dari Chile selama ini sekitar 3.655 dolar AS per ton, dari China 3.741 dolar AS, Australia 3.947 dolar AS, dan Peru 4.360 dolar AS. Sementara produk dari Amerika Serikat mencapai 4.816 dolar AS per ton.

Menurut Sahara, ketimpangan harga tersebut perlu dibaca bersama kondisi struktural perekonomian Indonesia yang masih menghadapi kendala biaya produksi tinggi. Salah satu faktor utama adalah mahalnya logistik nasional.

“Biaya logistik Indonesia mencapai 23,5 persen dari PDB, jauh lebih tinggi dibanding Vietnam yang sekitar 16,8 persen, Filipina 13 persen, dan Malaysia 13 persen,” ujarnya.

Selain logistik, tekanan pada sektor domestik juga berkaitan dengan kondisi infrastruktur, biaya tenaga kerja, serta persoalan kelembagaan seperti regulasi dan biaya ekonomi tinggi. Biaya produksi yang relatif mahal membuat harga produk ekspor Indonesia ke pasar Amerika Serikat kerap kalah bersaing dibanding negara lain di Asia.

Keuntungan AS Jauh Berlipat

Sahara menilai struktur komitmen dalam ART juga menunjukkan keuntungan yang lebih sistemik bagi Amerika Serikat. “Amerika Serikat memperoleh manfaat yang lebih terstruktur, bukan hanya peningkatan ekspor komoditas, tetapi juga komitmen dalam perdagangan digital, arus data lintas batas, perlindungan kekayaan intelektual, hingga penyelarasan pengendalian ekspor strategis,” ujarnya.

Baca Juga  Harkitnas 2025, Ketua LHKP PP Muhammadiyah Berikan Catatan Penting untuk Wujudkan Indonesia Kuat

Indonesia tetap memiliki potensi keuntungan, namun lebih banyak berbasis komoditas. Karena itu, proses ratifikasi perjanjian perlu dilakukan dengan kehati-hatian agar akses pasar yang diperoleh tidak berujung pada pelemahan industri nasional.

Menurut Amaliah, penghapusan sejumlah kebijakan non-tarif, termasuk potensi perubahan kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), harus dihitung dampaknya secara serius terhadap struktur industri.

“Kita harus memastikan akses pasar yang terbuka tidak justru mendorong deindustrialisasi atau melemahkan instrumen perlindungan kepentingan nasional,” katanya.

Masuknya komoditas pertanian dari Amerika Serikat juga dinilai berpotensi memengaruhi agenda swasembada pangan Indonesia. Selain itu, perubahan pola perdagangan dapat memicu respons dari negara mitra dagang lain yang selama ini menjadi pemasok utama.

Para peneliti menilai analisis dampak ART perlu dilakukan secara komprehensif setelah penandatanganan perjanjian, terutama karena dinamika perdagangan global berubah cepat. Pendekatan analisis yang lebih strategis, termasuk pemodelan ekonomi dan teori permainan (game theory), dinilai dapat membantu memetakan posisi tawar Indonesia.

Untuk mengurangi potensi kerugian pada sektor tertentu, diversifikasi ekspor menjadi salah satu strategi yang disarankan. Indonesia dapat memanfaatkan perjanjian dagang yang sudah berjalan, seperti Indonesia–Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement, Indonesia–Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement, serta kemitraan kawasan dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Baca Juga  LHKP PP Muhammadiyah Luncurkan Kertas Posisi, Tegaskan Sikap serta Strategi Hadapi Pilkada dan Pilkades

Ekspansi pasar tekstil juga dinilai dapat diarahkan ke Meksiko dan Brasil, meskipun saat ini masih menggunakan tarif most favoured nation. Karena itu, percepatan perundingan Indonesia–Mexico CEPA maupun kerja sama dengan blok MERCOSUR dipandang penting.

Penetrasi pasar baru seperti Kazakhstan, Rusia, Mesir, dan Arab Saudi juga dinilai dapat menurunkan ketergantungan pada pasar tradisional, meskipun tanpa perjanjian perdagangan komprehensif akses pasar masih rentan terhadap tarif dan hambatan non-tarif.