IMF Warning Ekonomi Global 2026 Melambat

IMF Warning

MAKLUMAT — Konflik di Timur Tengah mengguncang ekonomi global—di saat dunia belum sepenuhnya pulih dari tekanan perdagangan dan ketidakpastian—mendorong Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan dunia.

IMF memperkirakan ekonomi global hanya tumbuh 3,1 persen pada 2026 dan naik tipis menjadi 3,2 persen pada 2027. Inflasi global diprediksi meningkat pada 2026 sebelum kembali menurun pada 2027.

Tekanan paling besar diperkirakan terjadi di negara berkembang yang lebih rentan terhadap lonjakan harga energi, pelemahan mata uang, serta gejolak arus modal global.

Peta Pertumbuhan Dunia 2026

IMF mencatat perlambatan terjadi di hampir seluruh ekonomi besar dunia. Amerika Serikat diproyeksikan tumbuh 2,3 persen pada 2026.

Di Eropa, pertumbuhan melambat dengan Jerman 0,8 persen, Prancis 0,9 persen, dan Italia 0,5 persen. Inggris diperkirakan tumbuh 0,8 persen.

Sementara itu, Jepang hanya tumbuh 0,7 persen dan Kanada 1,5 persen.

Di Asia, China masih mencatat pertumbuhan relatif tinggi sebesar 4,4 persen, namun tetap melambat. India menjadi pengecualian dengan pertumbuhan tertinggi 6,5 persen.

Untuk negara berkembang lainnya, Rusia diproyeksikan tumbuh 1,1 persen, Brasil 1,9 persen, Meksiko 1,6 persen, Arab Saudi 3,1 persen, Nigeria 4,1 persen, dan Afrika Selatan 1,0 persen.

Baca Juga  FEB UMG Gelar Seminar Internasional Hadirkan Akademisi dari 4 Negara, Bahas Perkembangan Ekonomi Global

Data ini menunjukkan ketimpangan pemulihan global, di mana negara berkembang menghadapi tekanan lebih besar dibanding negara maju.

Risiko Global Membesar

IMF menegaskan risiko penurunan kini mendominasi prospek ekonomi global. Konflik yang meluas atau berkepanjangan dapat memperdalam perlambatan ekonomi dunia.

Selain konflik, fragmentasi geopolitik, meningkatnya ketegangan perdagangan, serta ketidakpastian dampak kecerdasan buatan (AI) juga berpotensi memperburuk situasi.

Tingginya utang publik dan melemahnya kredibilitas institusi di sejumlah negara membuat pasar keuangan semakin rentan terhadap guncangan.

Namun, peluang tetap terbuka. Pertumbuhan global bisa terdorong jika produktivitas berbasis AI meningkat lebih cepat atau ketegangan perdagangan mereda.

Tekanan Fiskal dan Risiko Sosial

Peningkatan belanja pertahanan akibat ketegangan geopolitik dapat mendorong aktivitas ekonomi dalam jangka pendek, tetapi membawa risiko lanjutan.

Lonjakan belanja militer berpotensi meningkatkan inflasi, melemahkan ketahanan fiskal, dan menekan neraca eksternal.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mengurangi ruang belanja sosial. Jika terjadi, potensi ketidakpuasan publik dan keresahan sosial akan meningkat.

Di sisi lain, negara yang terdampak langsung konflik menghadapi tekanan ekonomi lebih dalam dan berkepanjangan, bahkan setelah perang berakhir.

Situasi ini menegaskan pentingnya kebijakan yang adaptif, kredibel, dan berbasis kerja sama internasional untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global.***

Baca Juga  Putusan Mahkamah Agung AS Pangkas Tarif Trump, Dolar Melemah dan Rupiah Menguat