Jemaah Haji Diminta Jangan Memaksakan Ibadah Saat Cuaca Panas

cuaca panas di tanah suci

MAKLUMAT – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengingatkan jemaah haji Indonesia agar tidak memaksakan diri menjalankan ibadah di tengah cuaca panas ekstrem di Tanah Suci. Kondisi fisik yang menurun akibat kelelahan dinilai bisa memicu gangguan kesehatan serius, terutama bagi jemaah dengan penyakit penyerta atau komorbid.

Kepala Seksi Kesehatan Daerah Kerja Makkah PPIH Arab Saudi, Edi Supriyatna meminta jemaah lebih bijak mengatur tenaga selama menjalani rangkaian ibadah haji.

“Jangan memaksakan tenaga sampai kelelahan. Kalau tubuh sudah drop, ibadah juga tidak bisa dijalankan dengan optimal,” kata Edi di Makkah, dikutip Kamis (14/5/2026).

Menurutnya, tim kesehatan mulai memetakan potensi risiko kesehatan jemaah berdasarkan kondisi dan pola kedatangan mereka di Arab Saudi. Jemaah gelombang kedua yang tiba melalui Jeddah lebih rentan mengalami kambuhnya penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan jantung.

“PPIH meminta jemaah disiplin mengonsumsi obat dan menjaga pola istirahat.” Ujar Edi.

Ia mengungkapkan jemaah gelombang pertama yang sebelumnya berada di Madinah menghadapi tantangan berbeda. Aktivitas ibadah yang padat selama lebih dari sepekan membuat kondisi fisik mereka mulai terkuras.

Di sisi lain, suhu panas di Makkah meningkatkan risiko dehidrasi dan kelelahan. Jemaah diminta memperbanyak konsumsi air putih serta mengurangi aktivitas yang tidak mendesak di luar hotel.

Baca Juga  Manajemen Armuzna Lebih Tertib dan Nyaman, DPR Minta Evaluasi Standardisasi Kelayakan Fasilitas Penunjang

PPIH menilai pengendalian stamina menjadi kunci agar jemaah tetap sehat hingga puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Tahun ini, jumlah jemaah haji Indonesia mencapai sekitar 221 ribu orang. Jawa Timur menjadi provinsi dengan kuota terbesar, disusul Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Cuaca ekstrem menjadi tantangan utama penyelenggaraan haji 2026. Peringatan PPIH menunjukkan bahwa isu kesehatan kini sama pentingnya dengan kesiapan ibadah. Banyak jemaah, khususnya lansia, masih cenderung memaksakan aktivitas sunnah tanpa mempertimbangkan kondisi fisik.

Jika tidak dikendalikan, lonjakan kasus kelelahan dan dehidrasi bisa mengganggu pelaksanaan puncak haji yang membutuhkan stamina jauh lebih besar.