Kampung Edukasi Sampah Jadi Laboratorium Energi dan Lingkungan Siswa SD Muhammadiyah 3 Ikrom

Kampung Edukasi Sampah.

MAKLUMAT – Kampung Edukasi Sampah (KES) Sekardangan, Sidoarjo, menjadi ruang belajar bagi 107 siswa kelas IV SD Muhammadiyah 3 Ikrom, Sidoarjo. Melalui kegiatan Explorer Day pada Rabu (5/8/2026), para siswa mempelajari pengelolaan sampah, perubahan energi, hingga pemanfaatan energi terbarukan melalui praktik lapangan.

Pembelajaran ini mengusung tema ‘Menjadi Ilmuwan Cilik Menjelajah Perubahan Energi dan Kelola Sampah demi Bumi’. Konsepnya mengintegrasikan sejumlah mata pelajaran, seperti IPAS, Matematika, Bahasa Indonesia, Pancasila, dan Seni Rupa dalam pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning).

Di Kampung Edukasi Sampah, ratusan siswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga mempraktikkan cara memilah sampah organik dan anorganik.

Mereka belajar membuat kompos menggunakan komposter aerob, keranjang takakura, hingga mengolah pupuk organik cair. Sampah anorganik pun diperkenalkan sebagai bahan baku berbagai produk kerajinan bernilai ekonomi.

Selain pengelolaan sampah, siswa dikenalkan pada konsep perubahan energi. Mereka melihat cara kerja panel surya yang mengubah sinar matahari menjadi energi listrik, serta proses pengolahan air limbah rumah tangga melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) hingga dapat dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman.

Pegiat Lingkungan Kampung Edukasi Sampah Sekardangan, Edi Priyanto, mengatakan pembelajaran berbasis praktik membantu anak memahami bahwa energi dapat diperoleh dari sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.

Baca Juga  M. Iklas Thamrin: Menggali "Api" dari Yasin 80, Meracik Bahan Bakar Nabati untuk Pelosok Negeri

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa sumber energi tidak hanya berasal dari bahan bakar fosil. Matahari, air, maupun sampah dapat dimanfaatkan secara bijak jika dikelola dengan ilmu pengetahuan dan kreativitas,” ujarnya.

Menurut Edi, pengalaman melihat langsung proses pengolahan sampah dan perubahan energi akan lebih mudah dipahami dibandingkan hanya mempelajarinya di dalam kelas. Harapannya, siswa tumbuh menjadi generasi yang peduli lingkungan sekaligus mampu memanfaatkan sumber daya secara efisien.

Sementara itu, guru pendamping SD Muhammadiyah 3 Ikrom, Dian Tri Anista, mengapresiasi konsep pembelajaran yang diterapkan di Kampung Edukasi Sampah. Menurutnya, lokasi tersebut layak menjadi laboratorium pendidikan lingkungan karena menggabungkan teori, praktik, dan pembentukan karakter dalam satu kegiatan.

“Selain menerima teori, anak-anak bisa terlibat langsung memilah sampah, membuat kompos, mengenal pupuk organik cair, hingga melihat pemanfaatan panel surya dan IPAL. Pembelajaran ini membuat konsep sains lebih mudah dipahami,” katanya.

Ia menilai metode belajar berbasis pengalaman membuat siswa lebih antusias sekaligus mendorong untuk menerapkan kebiasaan peduli lingkungan di rumah maupun di sekolah.

Kegiatan di Kampung Edukasi Sampah ini mendorong siswa menyerap pengetahuan tentang pengelolaan sampah dan energi terbarukan. Sekaligus membangun karakter peduli lingkungan, kreativitas, serta semangat gotong royong.

Baca Juga  Creative Sustainability Dorong Mahasiswa UIN Satu Berpikir Greenpreneur