MAKLUMAT — Fenomena Kanda Dinda Bahlil yang belakangan viral di media sosial ternyata menyimpan jejak sejarah yang jauh lebih panjang daripada sekadar tren internet. Sapaan yang kini identik dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, itu memiliki akar dalam tradisi bahasa Melayu, budaya kerajaan Nusantara, hingga organisasi kemahasiswaan modern.
Di TikTok, Instagram, dan platform X, istilah tersebut berkembang menjadi meme, lagu remix, hingga berbagai konten humor politik. Namun di balik popularitasnya, kata “kanda” dan “dinda” sesungguhnya merupakan bagian dari warisan budaya Nusantara yang telah digunakan selama berabad-abad.
Arti Kanda dan Dinda Menurut KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kanda merupakan bentuk singkat dari kakanda yang berarti kakak. Sementara dinda berasal dari kata adinda yang berarti adik dengan nuansa penghormatan, keakraban, dan kasih sayang.
Secara linguistik, kedua istilah tersebut lahir dari tradisi Melayu yang mengenal penggunaan akhiran “-nda” sebagai bentuk penghormatan. Pola serupa dapat ditemukan pada kata ayahanda, ibunda, maupun anakanda.
Karena itu, penggunaan kata kanda dan dinda sejak awal tidak sekadar menunjukkan hubungan keluarga, melainkan juga menjadi simbol penghormatan dan kedekatan emosional antara dua pihak.
Jejak Panjang dalam Tradisi Nusantara
Jauh sebelum menjadi bagian dari percakapan politik modern, sapaan kakanda dan adinda telah dikenal dalam berbagai karya sastra klasik Nusantara.
Dalam hikayat Melayu maupun cerita Panji yang berkembang di Jawa, istilah tersebut lazim digunakan oleh kalangan bangsawan, keluarga kerajaan, hingga pasangan suami-istri. Sapaan itu mencerminkan tata krama masyarakat Nusantara yang menjunjung tinggi kesopanan dan penghormatan.
Di lingkungan istana, seorang putri dapat menyebut suaminya sebagai kakanda, sementara sang suami memanggil istrinya dengan sebutan adinda. Penggunaan bahasa yang halus tersebut menjadi bagian dari budaya komunikasi masyarakat kerajaan yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Nusantara.
Karena itulah, kanda dan dinda bukan sekadar kata sapaan, melainkan warisan kebudayaan yang telah hidup selama ratusan tahun.
Dari Istana ke Dunia Aktivisme Mahasiswa
Memasuki abad ke-20, istilah tersebut mengalami transformasi makna. Jika sebelumnya identik dengan lingkungan kerajaan, kanda dan dinda kemudian diadopsi oleh berbagai organisasi kemahasiswaan dan pergerakan.
Salah satu organisasi yang paling dikenal menggunakan tradisi tersebut adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dalam kultur HMI, “Kanda” digunakan untuk menyapa senior, sedangkan “Dinda” ditujukan kepada kader yang lebih muda.
Hubungan itu bukan sekadar menunjukkan senioritas. Di dalam tradisi kaderisasi, seorang kanda diharapkan menjadi pembimbing, teladan, sekaligus pelindung bagi para dinda. Sebaliknya, seorang dinda dipandang sebagai generasi penerus yang harus dibina dan dipersiapkan untuk melanjutkan perjuangan organisasi.
Tradisi tersebut bertahan hingga sekarang dan menjadi salah satu identitas khas HMI yang mudah dikenali.
Mengapa Bahlil Disebut Kanda?
Bahlil Lahadalia merupakan salah satu kader HMI yang aktif sejak masa kuliah di Jayapura. Pengalaman organisasi itu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya sebelum memasuki dunia bisnis dan politik nasional.
Karier Bahlil kemudian berkembang pesat. Ia pernah memimpin Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan selanjutnya dipercaya menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Menteri Investasi, hingga Menteri ESDM.
Karena latar belakang organisasi tersebut, banyak kader HMI, aktivis, maupun kolega politik yang terbiasa memanggilnya dengan sebutan “Kanda Bahlil”. Panggilan itu kemudian semakin populer seiring meningkatnya posisi dan pengaruh politiknya di tingkat nasional.
Dari Budaya Organisasi Menjadi Meme Viral
Popularitas istilah Kanda Dinda Bahlil melonjak ketika sejumlah kreator media sosial mulai mengolah potongan video dan suara Bahlil menjadi konten hiburan.
Audio berisi sapaan “Dinda, Dinda…” di-remix menjadi berbagai lagu dan latar musik TikTok. Tak sedikit pula yang membuat parodi seperti “Kanda My Little Bolu Ketan” hingga istilah humoris “MBG” yang merupakan singkatan dari “Mas Bahlil Ganteng”.
Awalnya, sebagian konten tersebut muncul sebagai satire terhadap budaya senioritas dan relasi patronase yang kerap ditemukan dalam organisasi maupun politik. Namun seiring waktu, algoritma media sosial mengubahnya menjadi fenomena hiburan yang lebih luas.
Banyak netizen yang tidak lagi melihatnya sebagai kritik politik semata, melainkan sebagai bagian dari budaya internet yang lucu, unik, dan mudah diingat.
Ketika Tradisi Lama Bertemu Budaya Digital
Fenomena Kanda Dinda Bahlil menunjukkan bagaimana sebuah istilah tradisional dapat menemukan kehidupan baru di era media sosial.
Bahasa yang dulunya hidup di lingkungan kerajaan, kemudian berkembang di organisasi mahasiswa, kini masuk ke ruang digital dan menjadi bagian dari budaya populer nasional. Dalam proses itu, maknanya terus mengalami perubahan mengikuti zaman.
Karena itulah, Kanda Dinda Bahlil bukan sekadar meme yang viral sesaat. Di balik candaan netizen dan lagu-lagu remix yang beredar di media sosial, tersimpan jejak panjang tradisi Nusantara yang berhasil bertahan dan beradaptasi dari satu generasi ke generasi berikutnya.***













