MAKLUMAT — Kepala Unit Kedokteran Islam Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (FK Umsura), dr Tjatur Prijambodo MKes, menyoroti pola konsumsi berlebihan ketika puasa Ramadan, yang menurutnya dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan.
Hal itu ia sampaikan ketika menjadi narasumber dalam “Kajian Ramadan & Entrepreneur Exbition 2026” yang digelar SD Muhammadiyah 24 Surabaya di Laggon Avenue Mall pada Sabtu (14/03/2026).
Dalam paparannya, dr Tjatur menjelaskan bahwa puasa selain sebagai bentuk ibadah, juga dikenal sebagai alternatif yang dapat mengatasi beberapa penyakit. Secara sederhana, hal itu dibuktikan bahwa di beberapa Rumah Sakit (RS) terjadi penurunan jumlah pasien yang sedang dirawat di IGD maupun sekedar periksa rutinan, yang itu menunjukan bahwa puasa membuktikan secara medis berdampak positif bagi tubuh.
Namun sebaliknya, ia juga mengkritisi sejumlah kebiasaan pola makan masyarakat saat berpuasa, yang justru dapat berdampak negatif bagi kesehatan tubuh. Menurutnya, banyak masyarakat ketika berpuasa yang mengeluhkan kondisi perut mengalami keram, radang tenggorokan, dan sebagainya. Ia menyebut hal itu merupakan indikasi adanya kesalahan dalam pola makan.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang memperbanyak bahkan berlebihan ketika makan sahur dan berbuka. Ia menilai hal tersebut kurang tepat dan berdampak kurang baik bagi kesehatan tubuh.
Kondisi Tubuh saat Puasa dan Kesalahan Pola Makan
Kondisi organ dalam tubuh ketika puasa, menurut dr Tjatur adalah sedang istirahat, di mana lambung tidak sedang bekerja seperti biasanya, hanya di waktu berbuka hingga sahur lambung aktif mencerna makanan yang dikonsumsi. Selebihnya lambung istirihat. Dampak positif ketika organ lambung dalam kondisi demikian adalah meringankan kinerja jantung, sekaligus peredaran darah menjadi cukup lancar.
Namun, ketika puasa baik dalam kondisi setelah berbuka maupun setelah sahur menimbulkan rasa keram perut, maupun kondisi lainnya, menunjukan bahwa pola makan dan hidup perlu diperhatikan. Sebab, fakta lapangan yang banyak terjadi dilakukan yaitu berbuka dengan minuman dingin dan langsung mengonsumsi makanan berat. Ini yang menyebabkan kerja organ dalam menjadi ektra seketika.
“Umumnya, masyarakat tergiur dengan hidangan makanan dan minuman yang disajikan, karena kondisi lingkungan yang panas, minuman es campur menjadi minuman utama, yang disusul dengan gorengan sebagai pelengkap dalam berbuka, ini yang salah bukan menyehatkan justru mengundang penyakit yang ditimbulkan itu,” jelasnya.
Oleh karena itu, dr Tjatur menyebut bahwa Islam menganjurkan mendahulukan berbuka, kemudian makan yang manis. Makna makan yang manis bukan berarti menu seperti kolak dan sirup. Sunnah Rasulullah adalah dengan buah kurma dan air putih. Menurutnya, sunnah Rasulullah bukan semata untuk mengejar pahala, melainkan ada sisi medis yang dapat membuktikan dan menjelaskannya yang terkonsep dalam istilah Thibbun Nabawi.
Konsep Thibbun Nabawi, kata dia, hanya sebagian yang memahami dan menerapkan. Padahal jika ditelusuri, konsep tersebut sangat baik bagi tubuh karena melalui herbal dapat menjadi alternatif pengobatan. dr Tjatur juga memberikan beberapa contoh yang termasuk dalam Thibbun Nabawi di antaranya, susu kurma, madu, jinten hitam (habbatussauda), buah kurma, dan sebagainya.
Ia menekankan bahwa makna manis yang sering dijadikan patokan dalam berbuka juga perlu diperhatikan, sebab kondisi yang sering dijumpai adalah berbuka dengan kolak atau sejenisnya, yang justru memberatkan kerja lambung. Padahal, dalam Islam dengan konsep Thibbun Nabawi dapat berbuka dengan kurma sebanyak 3 biji ganjil.
“Justru dengan mengonsumsi kurma, tidak hanya manisnya saja yang didapatkan, tapi kandungan serat, vitamin, protein, hingga karborhidrat semua ada di dalamnya,” sebut dr Tjatur.
Memperhatikan Pola Makan Sahur
Tidak cuma itu, dr Tjatur juga mewanti-wanti agar pola sahur juga diperhatikan. Menurutnya, sahur menjadi kunci utama dalam menjaga kondisi tubuh saat berpuasa. Tidak sedikit masyarakat terkadang melewatkan sahur bahkan sebagian juga mendahulukan sahur, padahal sunnah sahur yang diajurkan yaitu di akhir waktu.
“Beberapa orang terkadang suka menyepelekan waktu sahur, dengan tidak sahur atau mendahulukan sahur sekitar pukul 1 dan 2 dini hari, padahal sunnah yang dianjurkan itu sahur yang diakhirkan. Dalam medis menunjukan supaya rasa kenyang lebih tahan lama dibandingkan yang mengawali waktu sahur itu,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dr Tjatur juga menyarankan agar ketika makan sahur memperbanyak makanan yang mengandung serat dan protein, bukan hanya berat di karborhidrat saja. Hal itu dikarenakan kemampuannya dalam menjaga rasa kenyang dan menyimpan energi lebih lama.
Puasa, lanjut dr Tjatur, sejatinya menjadi jalan alternatif terapi yang murah dan mudah, hanya saja perlu memerhatikan pola makan dalam penerapannya, karena adanya perintah ibadah juga diiringi dengan nilai-nilai kebaikan yang tidak hanya sekedar mendapatkan pahala semata, tetapi dapat mengungkap dari berbagai disiplin ilmu.














