Kesepakatan Gencata Senjata AS–Iran Guncang Pasar, Harga Minyak Dunia Ambruk hingga 14 Persen

selat hormuz

MAKLUMAT – Harga minyak dunia langsung terkoreksi tajam, setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengumumkan langkah tersebut sebagai bagian dari upaya membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz—salah satu urat nadi distribusi energi global.

Mengutip Reuters, harga minyak dunia jatuh pada perdagangan Rabu (8/4/2026) waktu setempat. Minyak Brent merosot 14,84 dolar AS atau 13,6 persen menjadi 94,43 dolar AS per barel.

Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 16,13 dolar AS atau 14,3 persen ke level 96,82 dolar AS per barel pada pukul 00.23 GMT.

Penurunan juga terjadi pada kontrak berjangka. Pada pukul 00.17 GMT, Brent pengiriman Juni tercatat melemah 12,6 persen menjadi 91,92 dolar AS per barel—level terendah sejak 23 Maret 2026. Di saat yang sama, WTI kontrak Mei terkoreksi 16,6 persen ke posisi 94,10 dolar AS per barel.

Trump menegaskan gencatan senjata ini bergantung pada komitmen Iran untuk membuka Selat Hormuz secara penuh, cepat, dan aman. Ia juga mengklaim sebagian besar poin perselisihan antara kedua negara telah menemukan titik temu.

Baca Juga  Menlu Iran Sindir Operasi AS “Epic Mistake”, Harga Minyak Dunia Langsung Meroket

“Hampir seluruh poin perselisihan sebelumnya antara Amerika Serikat dan Iran telah disepakati, tetapi periode dua minggu akan memungkinkan kesepakatan difinalisasi dan disahkan,” ujar Trump dalam unggahan di media sosial.

Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araghchi menyatakan Teheran siap menjamin keamanan pelayaran selama masa gencatan senjata berlangsung.

“Jika serangan terhadap Iran dihentikan, Angkatan Bersenjata kami yang kuat akan menghentikan operasi pertahanan mereka,” kata Araghchi.

Kesepakatan ini tercapai kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu pukul 20.00 yang sebelumnya ditetapkan Trump bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz. Sebelumnya, Washington mengancam akan menyerang infrastruktur strategis Iran jika ultimatum tersebut tidak dipenuhi.

Sementara itu, Iran menyebut Amerika Serikat secara prinsip telah menerima proposal berisi 10 poin untuk mengakhiri konflik. Pernyataan ini disampaikan melalui lembaga penyiaran pemerintah, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), Rabu (8/4/2026).

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) menjelaskan, proposal tersebut menjadi kerangka awal menuju kesepakatan yang lebih luas, meski rincian teknisnya belum diungkap ke publik.

Penurunan tajam harga minyak ini menegaskan pasar energi global sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah. Koreksi hingga dua digit menunjukkan hilangnya premi risiko (risk premium). Selama konflik memanas, pasar mengantisipasi gangguan pasokan dari Selat Hormuz. Begitu risiko mereda, harga langsung jatuh.

Baca Juga  Ketegangan Timur Tengah Ganggu Jalur Minyak Dunia, Ini Risiko bagi Ekonomi RI

Durasi gencatan senjata yang hanya dua pekan menunjukkan situasi masih rapuh. Artinya, volatilitas harga minyak berpotensi tetap tinggi dalam jangka pendek. Iran berada dalam posisi tawar yang kuat. Kontrol atas Selat Hormuz memberi leverage strategis dalam negosiasi dengan Amerika Serikat.

Bagi negara importir energi seperti Indonesia, kondisi ini berpotensi positif karena dapat menekan beban subsidi dan biaya energi. Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada keberlanjutan kesepakatan.

Jika negosiasi gagal, pasar bisa bereaksi sebaliknya, yakni harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi akibat kembalinya faktor risiko dengan intensitas lebih besar.

Kesimpulannya, pasar energi global saat ini berada dalam fase tidak stabil. Arah harga minyak ke depan akan sangat ditentukan oleh apakah gencatan senjata ini berlanjut menjadi kesepakatan permanen atau kembali memicu konflik terbuka.***