Xi Jinping Singgung “Perangkap Thucydides” saat Bertemu Trump, Apa Maksudnya?

Xi Jinping bersama Trump

MAKLUMAT — Presiden China Xi Jinping menyinggung teori “Perangkap Thucydides” (Thucydides Trap) saat bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing, Kamis (14/5/2026).

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik antara Amerika Serikat dan China, terutama terkait Taiwan, teknologi, perdagangan, dan pengaruh global.

“Dapatkah China dan Amerika Serikat mengatasi apa yang disebut Perangkap Thucydides dan menciptakan model hubungan baru antarnegara besar?” kata Xi Jinping dalam pertemuan bilateral tersebut.

Pertemuan Xi dan Trump berlangsung sekitar dua jam 15 menit. Setelahnya, Trump juga secara resmi mengundang Xi melakukan kunjungan balasan ke Amerika Serikat pada September mendatang.

Apa Itu Perangkap Thucydides?

Thucydides Trap merupakan teori hubungan internasional yang menggambarkan risiko perang besar ketika kekuatan baru yang sedang bangkit mulai mengancam dominasi kekuatan lama.

Konsep ini berasal dari pemikiran sejarawan Yunani kuno Thucydides dalam bukunya History of the Peloponnesian War yang membahas konflik antara Athena dan Sparta.

Menurut Thucydides, perang antara Athena dan Sparta menjadi sulit dihindari karena kebangkitan Athena memicu ketakutan Sparta sebagai kekuatan dominan saat itu.

Dalam era modern, istilah ini dipopulerkan kembali oleh profesor Harvard University Graham Allison untuk menjelaskan pola konflik antara negara besar dalam sejarah dunia.

Baca Juga  Eks Wapres AS Kamala Harris: Pasukan Dalam Bahaya Demi Perang Pilihan Trump!

Studi Harvard: 12 dari 16 Kasus Berakhir Perang

Graham Allison meneliti 16 kasus rivalitas kekuatan besar dalam 500 tahun terakhir yang dianggap memenuhi pola Perangkap Thucydides.

Hasilnya:

  • 12 kasus berakhir dengan perang besar
  • 4 kasus berhasil dihindari melalui diplomasi intensif

Salah satu contoh yang sering disebut adalah rivalitas Jerman dan Inggris sebelum Perang Dunia I. Sementara contoh yang berhasil dihindari adalah persaingan Amerika Serikat dan Uni Soviet selama era Perang Dingin.

Mengapa Dikaitkan dengan AS dan China?

Saat ini, banyak analis geopolitik menggunakan teori tersebut untuk membaca hubungan antara Amerika Serikat sebagai kekuatan dominan dunia dan China sebagai kekuatan baru yang terus bangkit.

Persaingan kedua negara kini mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari ekonomi hingga militer.

1. Perang Dagang dan Tarif

Hubungan dagang AS-China kembali memanas setelah pemerintahan Trump menaikkan tarif impor terhadap berbagai produk asal China.

Kebijakan tersebut mendorong banyak perusahaan global memindahkan rantai pasok manufaktur dari China  ke negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan India.

2. Perebutan Dominasi Teknologi

Persaingan teknologi menjadi salah satu arena utama konflik kedua negara.

Baca Juga  Al-Aqsa Ditutup, Din Syamsuddin Desak Sikap Tegas Prabowo: Apa Gunanya Board of Peace?

Amerika Serikat berupaya membatasi akses China terhadap teknologi cip semikonduktor canggih dan kecerdasan buatan (AI). Sebaliknya, China mempercepat pengembangan teknologi domestik dan memperkuat pengaruh industrinya.

Selain itu, Beijing juga memperketat kontrol ekspor logam tanah jarang (rare earths) yang menjadi bahan penting industri kendaraan listrik, elektronik, hingga pertahanan.

3. Ketegangan Taiwan dan Laut China Selatan

Taiwan menjadi titik paling sensitif dalam hubungan AS dan China.

Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau tersebut.

Di sisi lain, Amerika Serikat terus mendukung Taiwan melalui bantuan persenjataan dan kerja sama keamanan.

Ketegangan juga meluas di Laut China Selatan yang menjadi jalur perdagangan strategis dunia.

Bisakah Perang Dihindari?

Para ahli menilai perang terbuka antara AS dan China masih bisa dicegah melalui diplomasi dan kerja sama ekonomi.

Beberapa langkah yang dianggap penting antara lain:

  • komunikasi militer langsung untuk mencegah salah perhitungan,
  • ketergantungan ekonomi yang membuat biaya perang terlalu mahal,
  • serta negosiasi pembagian pengaruh dalam isu global seperti perubahan iklim dan stabilitas ekonomi dunia.

Meski demikian, pernyataan Xi Jinping menunjukkan bahwa rivalitas dua negara adidaya itu kini memasuki fase yang semakin sensitif dan penuh kewaspadaan.***

Baca Juga  Hamas Terima Proposal Damai Trump, Muhammadiyah Jatim Dukung Upaya Akhiri Perang Gaza