Ketua PP Muhammadiyah Agung Danarto: Tapak Suci Harus Perkuat Organisasi dan Kembangkan Keilmuan Pencak Silat

Ketua PP Muhammadiyah Agung Danarto

MAKLUMAT – Ketua PP Muhammadiyah Agung Danarto menegaskan Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM) perlu terus memperkuat tata kelola organisasi sekaligus mengembangkan keilmuan pencak silat agar mampu menjawab tantangan zaman.

Pesan tersebut disampaikan Agung saat membuka Sidang Tanwir Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM) di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Kamis (6/8/2026).

Menurut Agung, salah satu kekuatan yang membedakan Tapak Suci dengan organisasi pencak silat lainnya adalah kemampuan para pendekarnya menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi.

“Di Tapak Suci luar biasa, egonya bisa diredam dan ditekan sedemikian rupa untuk kemudian tunduk dan patuh kepada aturan organisasi,” kata Agung.

Ia menilai budaya tersebut lahir dari tradisi Muhammadiyah yang sejak awal mengedepankan tata kelola organisasi, musyawarah, dan sikap egaliter dalam mengambil keputusan.

“Muhammadiyah itu egaliter sekali. Mau alim ulama, mau hafiz 30 juz, kalau rapat bersama tetap bisa mendengarkan pendapat orang lain. Begitu juga di Tapak Suci, Pendekar Utama yang ilmunya sudah sangat tinggi tetap bersedia mendengarkan pendapat anggota lainnya,” ujarnya.

Tapak Suci Diminta Perkuat Keilmuan

Selain memperkuat organisasi, Agung meminta Tapak Suci terus mengembangkan ilmu pencak silat agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Baca Juga  Tebar Kebahagiaan, Lazismu Candi Salurkan Kado Ramadan Rp74 Juta untuk Ratusan Penerima

Ia menilai keberadaan 24 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) yang telah memiliki program studi keolahragaan menjadi peluang besar untuk mengembangkan pencak silat secara akademik.

“Ini kesempatan bagus bagi Tapak Suci bukan hanya mencetak kader yang memiliki kemampuan bela diri, tetapi juga membangun laboratorium pencak silat untuk melakukan penelitian terhadap teknik dan jurus,” katanya.

Agung juga mendorong Tapak Suci menjalin kolaborasi dengan program studi olahraga maupun fakultas kedokteran di lingkungan PTMA agar pencak silat berkembang sebagai cabang ilmu keolahragaan dan kesehatan.

“Ke depan, Tapak Suci perlu memperkuat kolaborasi dengan program studi olahraga maupun fakultas kedokteran di Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah agar olahraga pencak silat juga berkembang sebagai bagian dari ilmu kesehatan,” ujarnya.

AD/ART dan Tata Kelola Perlu Disempurnakan

Dalam kesempatan itu, Agung juga meminta Tapak Suci melakukan pembenahan tata kelola organisasi melalui penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), memperkuat konsolidasi organisasi, serta menjaga etika dalam proses pemilihan pimpinan.

Menurutnya, Tanwir dan Muktamar merupakan forum strategis untuk mengevaluasi program kerja sekaligus memilih pemimpin terbaik bagi organisasi.

“Tanwir dan Muktamar adalah momentum memilih pemimpin terbaik, mengevaluasi program yang telah berjalan, sekaligus menyusun langkah strategis ke depan,” katanya.

Baca Juga  Hukum Mengucapkan Selamat Natal dalam Perspektif Tarjih Muhammadiyah

Tapak Suci Sudah Berkembang di Delapan Negara

Ketua Umum PP Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Afnan Hadikusumo, melaporkan bahwa saat ini Tapak Suci telah berkembang di 36 provinsi di Indonesia dan memiliki jaringan di delapan negara.

Menurut Afnan, perubahan zaman menuntut organisasi terus beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang menjadi identitas Tapak Suci.

“Tantangan ke depan semakin besar. Perubahan zaman tidak bisa dihindari sehingga organisasi harus mampu beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang dimiliki,” ujarnya.

Ia menambahkan, proses pemilihan dalam Muktamar juga mulai memanfaatkan teknologi digital tanpa meninggalkan prinsip musyawarah yang menjadi ciri khas organisasi.

Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah digelar di Universitas Muhammadiyah Semarang mulai 6–9 Agustus 2026. Agenda yang dibahas meliputi penetapan program kerja PP TSPM periode 2026–2031, penyusunan rekomendasi organisasi, pembahasan perubahan AD/ART, hingga pemilihan formatur kepemimpinan baru.***