Khoirul Abduh Dorong AUMSOS Perkuat Pelayanan untuk Anak Yatim

MAKLUMAT — Wakil Ketua PWM Jatim, M Khoirul Abduh mengajak pengurus Amal Usaha Muhammadiyah bidang sosial (AUMSOS) memperkuat pelayanan kepada masyarakat sebagai upaya meneladani ajaran Nabi Muhammad Saw.

Menurut Abduh, gerakan sosial Muhammadiyah harus terus hadir melalui tindakan nyata yang menyentuh kelompok rentan, termasuk anak yatim dan masyarakat miskin. Ia menekankan bahwa menjadi orang Islam berarti memiliki kepedulian yang besar terhadap sekitar.

Ia menyampaikan hal itu saat memberi sambutan dalam agenda Upgrading Pimpinan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PWM Jatim di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jatim, Surabaya, Jumat (15/5/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Abduh menekankan bahwa keberadaan AUMSOS harus semakin menunjukkan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“AUMSOS kita harus semakin menunjukkan kebermanfaatan yang semakin baik. Sudahkah kita melakukan apa yang Nabi Muhammad ajarkan?” ujarnya.

Abduh mengatakan, tantangan umat Islam saat ini salah satunya adalah kualitas pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang mengaku Islam, namun lupa menaruh perhatian pada anak yatim maupun mustadhafin. Padahal, Nabi Muhammad sangat sangat memperhatikan mereka.

Ia lantas menilai gerakan sosial keagamaan seperti Muhammadiyah perlu terus diperkuat agar hasil dari dakwah tidak berhenti pada aspek perubahan simbolik semata. Sebab tujuan utama dari dakwah adalah tumbuhnya kepedulian sosial.

Baca Juga  Ketua PWM Jatim: Politikus Silakan Dekati LHKP untuk Rekomendasi

Oleh karenanya, sebagai bagian dari penguatan AUMSOS, PWM Jatim akan terus mendukung daerah-daerah untuk mengembangkannya. Langkah ini dilakukan agar pelayanan sosial Muhammadiyah semakin luas dan mampu menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

“Kami akan supporting daerah-daerah yang belum punya AUMSOS. Kalau kita umat Muhammad, maka kita akan ikuti ajaran beliau,” katanya.

Kisah Nabi dan Anak Yatim

Dalam pemaparannya, Abduh juga menceritakan kisah Rasulullah Saw yang bertemu seorang anak yatim saat hendak melaksanakan salat Idul Fitri. Saat itu, Rasulullah melihat seorang anak duduk sendiri dan menangis ketika anak-anak lain bermain dengan riang bersama keluarga mereka.

Rasulullah kemudian menghampiri anak tersebut dan menanyakan alasan kesedihannya. Anak itu bercerita bahwa ayahnya gugur dalam peperangan bersama Rasulullah, sementara ibunya menikah lagi dan meninggalkannya hingga hidup tanpa tempat tinggal maupun keluarga yang merawatnya.

“Nak, dengarkan baik-baik. Apakah kau sudi bila aku menjadi ayah, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai paman, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai saudaramu?” jelasnya menirukan kisah Rasulullah.

Abduh mengatakan, Rasulullah kemudian membawa anak tersebut pulang, memberinya pakaian, makanan, dan kasih sayang hingga anak itu kembali bergembira. Setelahnya, Nabi baru kembali untuk melakukan Salat Ied.

Baca Juga  PWM Jawa Timur Gelar Roadshow Media di Jember, Tekankan Sinergi dan Pengembangan Jurnalistik

“Saya mencoba membayangkan. Berapa waktu yang dihabiskan Nabi untuk membawa anak itu pulang, memberi makanan, hingga anak itu kembali bergembira,” tuturnya.

Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bahwa ajaran Islam selain menekankan pentingnya ibadah ritual, namun juga berbicara aspek kepedulian sosial yang kuat. Oleh karenanya, Abduh meminta agar semua pihak dapat menguatkan keikhlasan untuk terus melanjutkan cinta Nabi kepada kaum mustadhafin.

Abduh juga mengingatkan, semangat Al Ma’un harus menjadi landasan gerakan MPKS dalam mengelola lembaga kesejahteraan sosial dan membina anak-anak yatim agar tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Penguatan tata kelola lembaga sosial, Menurutnya, juga penting agar pelayanan berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.

“Kenapa MPKS mengadakan kegiatan semacam ini? Dalam rangka mengikuti ajaran Nabi. MPKS berbicara soal aspek sosial. Ini penting kita pahami betul bahwa kita ini umat Muhammad,” pungkasnya.